29 January 2009

29 January 2009

Ketika Lahan Penyanyi Solo Diserobot Oleh Grup Band


Judul yang saya buat di atas bukanlah mengada-ada. Setidaknya fakta yang terjadi pada sepanjang tahun 2008 kemarin memang membuktikan, bahwa band alias grup musik masih begitu mendominasi dunia musik komersil Indonesia (khususnya dunia musik panggung, terutama yang ditayangkan di layar televisi).

Hampir di semua acara live musik yang ditayangkan berbagai stasiun tv (on-air maupun off-air), jumlah pengisi acara yang berupa grup band selalu lebih banyak daripada penyanyi solo. Terlebih pada acara-acara berskala besar seperti puncak perayaan HUT (Hari Ulang Tahun) stasiun tv. Band seakan masih menjadi daya tarik utama untuk menggaet pemirsa di rumah maupun penonton di lokasi acara.

Penyanyi solo? Seolah mati terhimpit oleh dominasi band-band ternama tanah air (baik itu band lawas maupun band pendatang baru yang sedang naik daun). Lihatlah betapa larisnya UNGU, d’MASIV, PETERPAN, YOVIE & NUNO, ANDRA & THE BACKBONE, THE ROCK, ALEXA, KANGEN BAND, ST 12, GIGI, NIDJI, SAMSONS, hingga THE CHANGCUTERS (dalam berbagai acara musik di televisi setahun terakhir ini).

Banyak argumen atau hipotesis yang bisa mengemuka dari fakta tersebut. Setidaknya ada 4 kemungkinan mengapa hal itu bisa terjadi, yaitu :

1. Pihak penyelenggara acara live musik (produser dan tim divisi program musik pada stasiun tv) masih menganggap bahwa daya tarik band jauh lebih besar ketimbang daya tarik penyanyi solo.

2. Minimnya penyanyi solo yang dianggap punya nilai jual tinggi.

3. Band dianggap lebih mampu untuk menghidupkan/memeriahkan suasana ketimbang penyanyi solo.

4. Sangat minimnya jumlah penyanyi solo yang berkualitas, sehingga yang tampil terkesn itu-itu saja.

Oke. Kita telaah sedikit 4 kemungkinan/asumsi di atas.

- Asumsi pertama : cukup masuk akal, walaupun pada jenis acara tertentu, penyanyi solo malah lebih diprioritaskan sebagai pengisi acara. Contohnya pada acara-acara (event) yang cenderung eksklusif dan formal. Seperti acara ulang tahun Jhony Andrean yang ditayangkan oleh sebuah stasiun tv swasta beberapa bulan lalu.

- Asumsi kedua : juga cukup masuk akal. Namun lagi-lagi ini bersifat sangat subyektif (tergantung selera para produser acara musik maupun acara seremonial). Kriteria penyanyi solo yang bernilai komersil sendiri masih bisa diperdebatkan dan sulit sekali untuk diseragamkan. Apalagi dimutlakkan. Fakta yang sering saya amati dan temukan, penyanyi solo dengan kualitas vokal dan teknik bernyanyi yang bagus malah jarang mendapatkan job untuk tampil mengisi acara di tv. Mungkinkah karena dianggap kurang populer? Atau malah dianggap kurang punya nilai jual? Entahlah



Sebaliknya, penyanyi solo dengan kualitas vokal yang terkesan ’biasa saja’ justru seringkali tampil (banyak mendapatkan job manggung). Mungkinkah karena dinilai lebih populer dan punya nilai komersil lebih besar? Contohnya Bunga Citra Lestari dan Gita Gutawa. Bosan saya melihat mereka melulu nyanyi di tv. Apa sih kelebihan suaranya? Padahal masih ada penyanyi lain yang jauh lebih baik kualitas vokalnya, tapi malah terkesan kurang dilirik

Pada asumsi kedua ini, antara nilai komersil (termasuk popularitas) dan kualitas seolah saling berlawanan. Padahal kalau para produser jeli, kualitas vokal yang dimiliki oleh penyanyi sebenarnya bisa bernilai komersil, asalkan ia diberikan kesempatan untuk lebih sering tampil guna lebih dikenal oleh publik. Terlebih jika ia punya warna/karakter suara yang khas (seperti Gisel Idol dan Williana Mamamia).

- Asumsi ketiga : pun cukup masuk akal, terutama jika acara berlangsung di tempat terbuka dan bisa disaksikan oleh banyak orang secara gratis. Pada kondisi seperti itu, performa grup band memang seringkali lebih mampu menghidupkan dan memeriahkan suasana.
Lain soal kalau acara berlangsung di tempat tertutup (indoor), dengan jumlah penonton yang agak terbatas dan sifat acara yang cenderung formal (ada orang-orang yang diundang secara khusus dan duduk di kursi).

- Asumsi keempat : rasanya masih perlu diteliti lagi kebenarannya. Sebenarnya sih cukup banyak penyanyi solo berkualitas dan bertalenta yang kita miliki. Cuma masalahnya, mereka mungkin ditangani oleh manajemen yang kurang tepat. Bisa pula karena strategi self marketingnya kurang jitu atau keliru, sehingga potensi dan kesempatan mereka untuk tampil di hadapan publik secara lebh luas menjadi terhambat. Contohnya para alumni kontes Indonesian Idol dan Mamamia Show.

Kalau mau jujur, banyak loh jebolan kedua kontes tersebut yang punya kualitas dan sekaligus punya nilai jual. Harusnya mereka diberi kesempatan untuk lebih sering tampil di tv sebagai pengisi acara musik. Namun fakta berbicara lain, pihak RCTI dan INDOSIAR selaku penyelenggara kedua kontes nyanyi tersebut seolah menyia-nyiakan potensi para kontestan yang sebenarnya sudah cukup dikenal oleh masyarakat luas (sudah cukup populer).

Dan menurut amatan saya dalam setahun terakhir ini, hanya segelintir penyanyi solo yang boleh dibilang sangat laris (banyak job manggung, khususnya di pentas musik komersil). Mereka adalah Mulan Jameela, Rossa, Afgan, Bunga Citra Lestari, Gita Gutawa, dan Aura Kasih.

Yang lain ke mana? Lagi-lagi harus terhimpit oleh dominasi grup band dan selera rendahan para produser acara musik. Kapan penyanyi berkualitas kita bisa maju dan berkembang kalau kurang diberi kesempatan? Tanya kenapa... kata iklan A Mild


Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

7 comments:

  • Kalo menurutku sih...
    Musim-musiman is...
    Ntar juga ada masanya nanti penyanyi solo yg naek daun...Atau memang penyanyi solo masang tarif kemahalan kali yaaa...????

    29 January, 2009 08:25

  • Bener juga sih mas. Tahun 2008 lalu kayaknya sih era kejayaan band. Tahun sebelumnya (2007) cukup berimbang dan bahkan bisa dibilang tahun kesuksesan penyanyi solo.

    Kesimpulannya siah emang musim-musiman yach..hehe

    29 January, 2009 19:23

  • Oya lupa. Soal tarif, kayaknya ada juga pengaruhnya sih. Tapi tarif band-band ternama juga gede loh :-)

    29 January, 2009 19:24

  • penyanyi solo Indonesia saya masih suka Ari Lasso, Agnes Monica dan Anggun C Sasmi

    yang lain hmmmm

    25 February, 2009 11:55

  • menurut saya solis yang bagus emang terlalu sedikit. Apa kurang pede kalau harus dipanggung sendirian jadi lebih enak rame2 sama grupnya hehehe ...juga menurut saya kebanyakan yang pinter nyiptain lagu emang dari anak band, ya wajar aja kalo band yang lebih banyak bermunculan dibanding para solis.....

    20 June, 2009 16:10

  • pgn nambahin komentar saya sendiri di atas, seorang musisi emang akan jadi berkualitas jika berhasil bertahan dalam idealisme nya sebagai musisi. musisi instant kaya Indonesian Idol dan sebangsanya sih saya rasa gak akan bisa bertahan. Dari segi kemantapan hati dan tekad dalam berkarya, mereka saya rasa kurang sekali. Ibaratnya mereka udah terkenal tapi senjata pamungkas sebagai penyanyi/musisi yaitu lagu yang bagus, mereka harus menunggu dibuatkan orang dulu, itu kan ironis. buat bayar pencipta lagu yang bagus mahal, bagaimanapun para produser dan pengusaha rekaman kan jago juga melihat kapabilitas artis2 instant tersebut dalam "berkarya", bukan sekedar "bernyanyi" loh .... karena menurut saya kemampuan vokal grup yang lagi ngetop sekarang masih kalah jauh sama delon, mike dll, tapi bisa dilihat kan siapa yang menguasai pasar, yang jelas bukan lulusan Idol. Bukannya saya tidak suka artis instant, tapi emang terbukti mereka determinasinya kurang sekali. Mohon maaf kalau ada kata2 yang menyinggung :-))

    20 June, 2009 16:19

  • Makasih banyak buat komentarnya, siapa pun kamu. Ada benarnya juga pendapat kamu di atas. Semua tergantung pada individu penyanyi itu sendiri sih, gak peduli mau dari background apa ia dibesarkan. Selain kualitas vokal, unsur kesesuaian dengan selera pasar juga sangat berpengaruh yach.
    Pada akhirnya, solois atau musisi yang bakalan lama eksis ialah yang punya kualitas sekaligus punya sesuatu yang disukai pasar.

    14 July, 2009 20:35

  • Post a Comment

    Silakan tulis komentar sesuai pendapat pribadi kamu

    Back to Top
     

    kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top