22 March 2009

22 March 2009

Sulitnya Mengemas Kritikan Secara Halus, Santun, dan Elegan

Inspirasi untuk menulis hal ini muncul setelah saya mencermati maraknya postingan di blog-blog terkenal (yang isinya mengkritik ulah sebagian oknum internet marketer yang dianggap melakukan penipuan). Gaya kritikan dari kalangan blogger tersebut macam-macam. Ada yang sangat halus dan santun, sehingga pembaca pun merasa bahwa kritikan tersebut sama sekali tidak terkesan menyudutkan atau menggurui.

Terlebih pula, kritikan itu dikemas dalam bentuk paparan yang sangat argumentatif dan persuasif. Sama sekali tidak ada unsur emosi yang meledak-ledak. Apalagi caci-maki kasar yang kurang etis untuk ditulis.

Namun jangan salah, walaupun dikemas secara halus dan santun, kritikan tersebut punya DAYA GUGAH yang LUAR BIASA. Sang penulis mampu mengemas kritikannya secara cerdas dan elegan. Pembaca (lewat uraian argumentasi cerdas dan himbauan positifnya) merasa memperoleh pencerahan dan spirit untuk menjadi lebih baik lagi.

Pernahkah anda mengalami hal tersebut ketika menyimak sebuah tulisan/artikel bernada kritikan di blog tertentu?

Di sisi lain, ada pula kritikan yang dikemas dengan nada berapi-api, keras, dan sarat dengan muatan emosi (serta sindiran tajam). Bahkan secara terang-terangan menyudutkan pihak tertentu, misalnya dengan pencantuman/penyebutan inisial oknum internet marketer yang dituding sebagai PENIPU. Bahkan ada yang secara jelas menuliskan nama oknumnya.

Selain itu, ada juga kritikan pedas yang dibalut dengan nuansa humor (dengan cara menyelipkan beberapa guyonan di sela-sela makian atau kritikan yang ditulisnya). Sang penulis terlihat berupaya untuk menyampaikan kritikannya secara santai.

Di sisi lain, ada pula kritikan yang dikemas dalam bentuk cerita ilustrasi (perumpamaan), di mana pihak yang dikritik disamarkan sedemikian rupa, sehingga terkesan lebih halus (walau tetap bermuatan sindiran tajam).

Lalu, gaya kritikan manakah yang lebih baik dan lebih efektif dalam mempengaruhi/menggugah pembaca?

Saya kira tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dalam hal ini. Semuanya tergantung kepada tingkat kecerdasan dan kebijaksanaan si pembaca dalam menyerap esensi tulisan bernada kritikan tersebut. Tergantung pula pada tingkat keterbukaan pikiran dan hatinya terhadap suatu kritikan.

Ada kalanya kritikan yang berapi-api dan penuh muatan emosi bisa efektif dalam mempengaruhi si pembacanya. Ada kalanya pula kritikan yang halus dan santun terasa lebih mengena. Dan di sisi lain, ada kalanya juga kritikan santai dalam balutan humor maupun ilustrasi malah terasa lebih efektif.

Mencermati maraknya iklan dan website yang menawarkan ajakan CEPAT KAYA DARI INTERNET, saya cuma bisa menghimbau dan berharap agar kita sebagai blogger tidak hanya bisa memaki atau menghujat. Setidaknya, barengilah dengan menulis artikel/postingan yang berisi pandangan atau penjelasan yang benar tentang bisnis online.

Setidaknya kita bisa ikut memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat, terutama yang masih awam dan setengah-setengah dalam memahami bisnis online atau internet marketing. Dengan harapan, mereka tidak mudah terjerumus oleh mindset (pemahaman) yang keliru mengenai bisnis online.

Setujukah anda?

Apa pun kecenderungan gaya kritikan anda, yang terpenting adalah bagaimana agar pembaca bisa tergugah (pikiran maupun nuraninya) setelah menyimak uraian artikel yang cerdas, berimbang, dan edukatif dari anda.

Mungkin terasa sangat idealis dan sulit ya. Namun kalau dilandasi oleh niat yang baik dan tulus untuk berbagi, saya kira itu sesuatu yang cukup mudah dan bisa dicapai.

Bagaimana menurut anda?

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

35 comments:

  • setuju dech aku..
    hahaha
    tapi kadang sebel banget kalau udah susah susah bantuin, malah di caci maki..
    hahaha

    22 March, 2009 21:41

  • Satuju Mas...

    "Namun kalau dilandasi oleh niat yang baik dan tulus untuk berbagi, saya kira itu sesuatu yang cukup mudah dan bisa dicapai"

    Ruuaaar Biasa

    Nice Post, Thanks

    22 March, 2009 22:09

  • Wah... berat nih tulisannya... ~x(

    22 March, 2009 22:50

  • Kalau bagi saya pribadi, tergantung siapa dulu yang dikritiknya ? Kalau misalnya saya menyampaikan dengan emosi, masalah seorang/beberapa internet marketer yg terbukti menipu krn saya pernah mengalaminya sendiri, itu menurut saya wajar. Bahkan menampilkan namanya sekalipun. Hal itu sebagai pelajaran agar dia kapok dan tidak menipu lagi :)

    23 March, 2009 08:25

  • Iya ya. kenapa kok suka cari musuh ya, padahal cari temen kan lebih enak. btw, biarlah itu jadi urusan mereka, kita gak usah ndukung salah satu, netral aja dech

    23 March, 2009 08:33

  • Saya sepakat apapun metode penyampaianya halu,kasar ataupun tegas yang penting berlandaskan pada kenyataan dan di sertai bukti yang kuat sehingga setiap artikel yang bermuatan kritik tersebut mempunyai arah yang jelas yaitu mngkritik...keren nih artikelnya...salam kenal

    23 March, 2009 08:33

  • saya pikir, keras ataupun halus keduanya pny sisi baik dan jelek. klo kita keras, terkesan kurang sopan. tp klo secara halus, takutnya yang di kritik malah gk nyadar2.hehehe..

    lam kenal

    23 March, 2009 12:58

  • Setujuuu.. yang jelas.., mengkritik pihak lain itu ada etikanya. Apalagi kalo sampai menuduh, harus pakai bukti yang kuat dan akurat. jangan sembarang tuduh, nanti malah menimbulkan fitnah dan masalah baru.

    Salam kenal :)

    23 March, 2009 13:32

  • @ rampadan : kok bisa gitu mas? :)

    @ Infopemula : wah, jadi ge-er nih mas. Makasih banyak ya buat apresiasinya. Semoga bisa memacu saya buat lebih baik lagi dlm menulis. Thx.

    @ Hangga Nuarta : berat banget ya mas? Tapi ngerti kan intisarinya? :)

    @ nugraha : setuju sih kalo tujuannya begitu (untuk membuat efek jera). Asalkan memang disertai oleh bukti/fakta yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Thx ya buat koreksi dan tambahannya.

    @ firanza : yups. Setuju banget. Berada di jalur tengah kayaknya lebih aman deh. Tapi kita juga menghargai upaya pihak yang ingin mengungkap kebenaran. Makasih ya.

    @ Narmadi : setuju abis mas dengan kesimpulannya. Begitulah seharusnya. Saya juga berusaha seperti itu kalau akan menulis sesuatu yang mengandung kritikan. Thx buat tambahannya. Salam kenal juga ya.

    @ neyra07 : bener juga ya kalo gitu..hehehe. Yach, liat kondisinya aja deh kali ya. Yang penting punya dasar yang kuat. Thx.

    @ tetetzet : betul banget. Takutnya kan malah begitu ya. Tapi itu juga tergantung pada penafsiran para pembaca. Kan bisa beragam tafsir tuh. Makasih buat tambahannya.

    23 March, 2009 14:14

  • setahun aku ngeblog. asam manisnya ngeblog tentulah belum begitu terasa. tetapi diusia segitu, insyaallah udah bisa memilah, atau beradaptasi dengan linkup maya,khusunya diblogspot.kenapa kukatakan beradaptasi?karena kita itu seperti hidup disebuah perkampungan.yang mau gak mau kita harus bisa bersikap bijak menghadapi atau menerima sebuah informasi, kritikan (entah dengan kritik halus atau kasar) dan segala macam pernak perniknya hidup bertetangga. jadi kayak ada semacam peraturan atau etika gitu loh..entah dalam berkomentar atau mengupdate blog yang peraturan itu tidak tertulis.tapi tetep aja ada peraturan. sebagai pemilik blog ini pasti ngerasa adanya sebuah peraturan khan?ah sip deh..pokoknya telah banget deh postingan diatas. bijak dan cerdas.

    23 March, 2009 15:44

  • Yang penting, kita bisa menerima kritik dan memperbaiki diri kita untuk lebih maju. Salam kenal!

    23 March, 2009 15:50

  • mengkritk boleh saja, hanya saja dengan memperhatikan situsai dan kondisi...

    negeri hijau

    23 March, 2009 17:30

  • pada dasarnya, bahasa yang disampaikan atau dipakai seseorang secara tidak langsung adalah cerminan dari pribadi, kematangan, kecerdasan dan kemampuan komunikasi seseorang jadi tentu hasilnya sangat beragam...(itu menurut sata si..)..tinggal bagaimana kita dengan bijak menilai dan menghadapinya....salam kenal ya..oya..ide tulisannya kreatif..

    23 March, 2009 19:19

  • kritikan yg membangun dapat mengevaluasi diri kita utk menjadi lebih baik drpda sebelumnya..

    nice post gan :D

    23 March, 2009 20:38

  • Mantab analisanya boss. Thx udah simpen jejak di si "cantik'

    23 March, 2009 21:10

  • wah ini salah satu tulisan berbagi dan inspiratif yang pernah saya baca dalam soal isi dan esensi sebuah artikel :D

    maklum mas, saya belum bisa mbuat postingan yang paten dengan tata bahasa yang baek :D

    secara, masih nyubi di blogosphere dan sering latah ikut2an, mposting seadanya aja dan jadi diri sendiri, cerita paling seputaran kejadian sehari - hari yang isinya kripik kentang...ehhh kritikan mbuat kejadian ntuh, sebgaia bahan renungan ajah ;)

    klo masalah sering kena gocip dan sindiran...hihihih, sering sayah mas, tp bykan liwat imel, mau dikasih liat, ndak enak ehhh, mending pos di blog dan disamarkan aja. sapa tau yang digosipin dateng mbaca :D

    weleh kok puanjang amir komenknya serasa posting di blog sendiri...heheheh

    maap klo kepanjangan mas, salam kenal :)

    23 March, 2009 21:13

  • wah kalo sayah jarang mengkritik.. tapi menyindir.. huhuhu

    23 March, 2009 23:23

  • mengkritiklah yang berwibawa, gimana tuh caranya? heheehhee

    23 March, 2009 23:37

  • Saya setuju dengan gaya kritikan halus, tapi susah kalo menyampaikannya

    23 March, 2009 23:42

  • Saya setuju dengan kritik bergaya santun. Bagaimanapun, tidak ada orang yang mau ditolak, dan kritik merupakan salah satu bentuk penolakan terhadap seseorang. nah, kalau ditolak/dikritik saja sudah tidak mau dan tidak senang, apalagi kalau caranya kasar?

    24 March, 2009 00:10

  • sebenarnya kritikan itu tidak usah ditunjukkan secara verbal ataupun jelas terliat, kita hanya perlu misalnya memberi contoh bagaimana benarnya ataupun hanya sekedar bertanya dg tidak maksud mengejek...

    24 March, 2009 01:18

  • Soal kritik mengkritik nggak dulu deh... Nggak brani kalau yang begitu. Introspeksi diri dulu.. :D

    24 March, 2009 06:25

  • wah artikel menarik
    aku jrg kasih kritik di blogku sih. Lbh ke arah 'menanyakan opini' kalaupun ada

    24 March, 2009 07:17

  • Dulu pernah di kritik sama master blog yg kebetulan mampir di blog ku yg lain..."kenape loe masih maksa-maksa in masang adsense di blog loe yg bhs ina...bla...bla...bla... gitu dah"....waktu itu sih aku nanggapi nya ' yah karena publisher kan bisa nya begitu...hi...hi..hi... nekad yaaa njawabnya!

    Tapi nggak lama berselang bulan...eh, di blog nya sang master juga dipasangi adsense...sama modelnya!Lho koq gitu...aku protesssss...dia cuma bilang : 'hati orang bisa berubah...'


    Huuuuuh...capppe deeh!!!!

    24 March, 2009 09:24

  • iya...
    kritik sebenarnya membangun
    tapi ada juga
    kritik yang berniat menjatuhkan

    24 March, 2009 10:52

  • Akur Mas...
    Kritik kudu disampaikan bagaimanapun caranya. Caranya ini yang menunjukkan kepribadian kita... :-o

    24 March, 2009 14:53

  • Soal kritik-mengrikitik, nyerah deh aku, Om.
    Lagian, nulis aja aku belom teles nih.
    :(

    24 March, 2009 15:04

  • Ngomong-ngomong, OOT nih, Om.
    Aku kalo' nulis koq banyak kata "jadi"-nya yah.
    :(

    24 March, 2009 15:07

  • Terlanjur mampir aku..
    Mau koment lagi ach..

    24 March, 2009 23:17

  • kalo menurut saya,dilihat manfaat dan mudharatnya.Kalo dengan lembut dan tanpa menyebutkan 'oknumnya' orang lain sudah sadar ya diambil itu,tapi kalo takut banyak yang akan terjebak ya boleh dengan keras dan ditunjukkan siapa oknumnya..
    'lam kenal

    25 March, 2009 07:42

  • @ Kristina Dian Safitry : bener banget mbak. Dunia maya pun tetap sebuah komunitas. Cuma bentuk/wujudnya aja yg beda, tapi penghuninya kan sama-sama manusia..hehe. Walau etikanya nggak tertulis, tapi etika itu akan selalu dipatuhi (secara tidak sadar) oleh mereka yang masih mampu mendengarkan suara hatinya. Thx berat buat tambahannya.

    @ sundee : yups, setuju deh. Itu suatu kewajiban, walaupun kadang terasa sulit ya. Thx.

    @ negeri hijau : bener banget. Sebelum melontarkan kritik, kita mesti menganalisa kondisi, agar kritikan yg kita sampaikan bisa efektif dan tidak malah jadi bumerang.

    @ ceuceu : kesimpulan yang LUAR BIASA !!! Setuju abis deh. Kepribadian dan kemampuan komunikasi sesorang-lah yang menentukan hasil kritikan yang ditulisnya. Selebihnya, memang tergantung pada pembacanya. Makasih ya buat tambahannya yang oke. Slm knl juga.

    @ anggi : setuju nggi. Asalkan mau nerima kritikan itu dengan hati yg terbuka ya :)

    @ Kopi Tozie : hmm, jejak si cantik? Bingung nih apa maksudnya :D

    @ gdenarayanan : hehehe. Gak papa mas, malah bikin seger buat yang baca. Saya juga masih newbie kok di dunia blogsphere. Kita sama-sama belajar deh. Yang penting mau mengambil sisi positif dari setiap blog yg kita kunjungin. Thx ya. Slm knl juga.

    @ pencerah : hidup juga!

    @ malapu : itu kan salah satu bentuk kritikan juga mas? Sindiran pada hakikatnya adalah sebuah kritikan juga.

    @ Paman Gober Ikut Pemilu 2009 : nah, gimana tuh caranya? hihihi, malah balik nanya. Berwibawa mungkin lebih cenderung pada kritikan halus, santun, dan elegan ya kayaknya.

    @ Forex Signal : sebenernya bisa sih kalo punya niat yang kuat untuk terus memperbaiki gaya kritikan. Secara bertahap dan perlahan aja deh.

    @ Ecko : begitulah mas. Semoga itu bisa membuat kita jadi lebih baik lagi ya dalam mengemas kritikan atau sindiran (tanpa harus menjadi orang lain tentunya). Makasih.

    @ adinxtm : mungkin maksudnya dikemas dalam bentuk sebuah ilustrasi ya. Atau secara tidak langsung. Setuju, asalkan memang punya kemampuan mengemas seperti itu.

    @ mamas86 : sebelum mengkritik emang wajib introspeksi diri sih. Itu yg terasa agak sulit ya mas. Takutnya kan malah jadi bumerang kalo nggak introspeksi dulu :)

    @ Shireisou : menanyakan opini? bingung nih maksudnya :) Ntar saya mampir deh. Thx ya.

    @ ammadis : hahaha. Menelan ludah sendiri dong kalo gitu :)

    @ Rusa Bawean : bener mas. Tapi rada sulit juga sih membedakan, mana yg bener-bener berniat membangun, dan mana yg cuma mau menjatuhkan. Mungkin kita mesti pinter-pinter menyerap esensi kritikannya.

    @ hade : akur juga mas dengan komentarnya. Intinya memang bersumber dari kepribadian yach. Makasih.

    @ HeLL-dA : masak sih? kamu pinter kok menurut saya (dalam menulis). Artikel2 di blog kamu tergolong kreatif dan cerdas. Terusin aja deh gaya tulisan kamu yg khas. Yang penting berusaha menulis dengan gaya sendiri aja.

    @ rampadan : thx aja deh buat komen keduanya :)

    @ oom rizky : setuju banget mas. Itu artinya, cara halus dan santun harus lebih didahulukan dong? hehe. Kalo cara itu masih nggak mempan, baru deh pake cara kedua yg lebih keras. Makasih buat tambahannya. Slm knl.

    25 March, 2009 17:01

  • Kritikan kadang bisa juga terkesan flaming. Susah juga kalo seperti itu.

    26 March, 2009 12:22

  • buat saya gak masalah, sekalipun kritik itu terlalu kejam. Keep blogging :D

    26 March, 2009 21:41

  • hmm, saya sih lebih suka lihat kritikan langsung saja .. tapi tentunya tanpa muatan emosi ...

    27 March, 2009 09:49

  • Post a Comment

    Silakan tulis komentar sesuai pendapat pribadi kamu

    Back to Top
     

    kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top