11 June 2009

11 June 2009

Ketika Cinta Bertasbih | Jalan Cerita dan Settingnya Jauh Lebih Natural daripada Ayat-Ayat Cinta

ketika cinta bertasbih

Akhirnya kesampaian juga niat saya untuk menyaksikan film hasil adaptasi novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy (kang Abik) ini. Tayang perdana pada Kamis 11 Juni 2009, saya pun langsung memesan tiket untuk jam tayang pukul 14.35 Wib. Antrian di depan loket cukup panjang. Akhirnya saya dapat bangku bernomor C-1. Maunya sih duduk di bagian paling belakang. Tapi apa daya, saya kalah start dari para penonton lainnya yang sudah terlebih dahulu membooking tiket.

Beberapa jam usai nonton, saya langsung berusaha menulis review/resensi film Ketika Cinta Bertasbih ini. Semoga bisa menjadi salah satu referensi. Dan inilah hasil penilaian dan komentar saya terhadap film yang disutradarai oleh Chaerul Umam dan ditulis oleh Imam Tantowi sebagai penulis ceritanya ini.

Inti ceritanya berkisar kehidupan mahasiswa Indonesia selama kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Namun fokus cerita tampaknya lebih dominan mengisahkan tentang pergulatan mengenai pencarian jodoh. Sinopsis selengkapnya bisa anda baca di sini.

Jalan ceritanya mengalir dengan cukup enak dan mudah dipahami. Apalagi ada selipan beberapa humor segar yang mampu sedikit membuat penonton tertawa atau minimal tersenyum. Karakter Azzam yang ulet, pekerja keras, teguh pendirian, sholeh, dan berwibawa pun mampu diperankan dengan sangat baik dan pas oleh Cholidi Asadil Alam. Begitu pula karakter wanita sholehah yang murah senyum, lembut, ramah, dan cerdas terlihat sangat pas dan maksimal ketika dimainkan oleh Oki Setiana Dewi (yang memerankan Anna Althafunnisa).

Untuk dua tokoh utama tersebut, menurut saya pemilihan pemainnya sangat pas. Akting keduanya bagus. Selain itu, tampilan fisik kedua pemeran utama tersebut juga sangat mendukung karakter yang ingin ditonjolkan.


trailer atau cuplikan beberapa adegan film ketika cinta bertasbih

Visualisasi cerita :

Kehidupan Azzam dan teman-temannya selama di Kairo Mesir tergambarkan dengan cukup baik dan natural lewat teknik pengambilan gambar dan angle-angle yang bagus. Setting cerita terlihat jauh lebih hidup dan natural ketimbang setting film Ayat-Ayat Cinta. Hal itu diperkuat lagi dengan banyaknya dialog-dialog berbahasa Arab. Terutama ketika mahasiswa Indonesia berkomunikasi dengan warga asli Mesir. Poin inilah yang membuat Ketika Cinta Bertasbih jauh lebih hidup daripada Ayat-Ayat Cinta (selain faktor setting dan pengambilan gambar).

Tidak ada kesan percepatan cerita seperti yang tampak dominan pada Ayat-Ayat Cinta. Efeknya, cerita terasa lebih mengalir hidup dan alami. Scene-scene yang mengambil gambar di jalan raya, pasar, dan setting luar ruangan lainnya tampak tergarap dengan durasi yang cukup lama serta dominan.

foto 5 pemain utama ketika cinta bertasbih
foto 5 pemain utama Ketika Cinta Bertasbih : Medya Sefira (Ayatul Husna), Alice Norin (Elliana), Cholidi Asadil Alam (Khairul Azzam)
Oki Setiana Dewi (Anna Althafunnisa), dan Andi Arsyil Rahman (Furqan)

Penyampaian pesan moral :

Saya lihat ada pesan mengenai pentingnya menjaga kesucian diri, baik itu bagi laki-laki maupun wanita. Ada juga pesan tentang perjuangan hidup selama di negeri orang (baik itu dalam usaha menyelesaikan studi maupun mempertahankan hidup di sana). Termasuk nilai-nilai persahabatan antar sesama teman sebangsa dan setanah air. Ada pula nilai-nilai tanggung jawab terhadap keluarga.

Semua pesan/nilai tersebut dikemas dan disampaikan dengan cara yang cukup menyentuh lewat adegan-adegan yang pas, dialog yang tepat, dan akting para pemain yang cukup menyatu.

Nilai lainnya tak lain adalah cinta. Di film ini, penyampaian nilai-nilai cinta terasa lebih indah dan mengena daripada apa yang tersaji di AAC garapan Hanung Bramantyo. Tampaknya sang sutradara dan penulis cerita Ketika Cinta Bertasbih ini banyak belajar dari kekurangan yang terdapat pada film pendahulunya yang sama-sama diangkat dari novel kang Abik (AAC).

pemain utama ketika cinta bertasbih
5 pemain utama ketika cinta bertasbih : Medya Sefira, Andi Arsyil Rahman, Alice Norin, Oki Setiana Dewi, dan Cholidi Asadil Alam

Sinematografi :

Gambar-gambar yang tersaji di kamera bisa dibilang sangat apik, menarik, dan beberapa tampak sangat artistik. Suasana kota Kairo dan negara Mesir secara keseluruhan terasa cukup hidup. Bukan sekedar cuplikan klip-klip gambar seperti yang terlihat pada Ayat-Ayat Cinta.

Kesimpulan :

Secara keseluruhan, film ini menurut saya sudah jauh lebih bagus dari film serupa sebelumnya (AAC). Baik itu dari sisi setting, teknik pengambilan gambar, angle kamera, akting tokoh utama, dan juga penyampaian pesan moralnya. Yang membuat Ketika Cinta Bertasbih ini lebih terasa istimewa ialah karena sang penulis novel (kang Abik) juga ikut bermain sebagai salah satu tokoh utamanya. Apalagi juga melibatkan sejumlah aktor senior seperti Dedy Mizwar, Didi Petet, Slamet Rahardjo, dan El Manik.

Pokoknya nggak mengecewakan deh nonton film ini. Apalagi ada si cantik Alice Norin (favorit saya…hehehe). Dan buat pemeran Anna Althafunnisa (yaitu Oki Setiana Dewi), saya jadi kagum dan salut. Aktingnya benar-benar mencerminkan karakter wanita muslimah yang lembut dan sholehah. Duh, jadi ngefans deh sama kamu…

pemain utama ketika cinta bertasbih
5 pemain utama ketika cinta bertasbih : Andi Arsyil Rahman, Alice Norin, Cholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, dan Medya Sefira

Nah, yang bikin kesel, ending film ini ternyata menggantung (alias bakalan bersambung ke seri 2). Tepatnya sesaat usai adegan pernikahan antara Furqan dan Anna Althafunnisa. Di saat adegan di kamar pengantin (di malam pertama), ternyata langsung diikuti oleh sedikit cuplikan seri selanjutnya yang berupa ayah Anna yang marah terhadap Anna karena ingin bercerai dengan Furqan sang suami (yang menurut tebakan saya karena ia membuka rahasianya yang mengidap HIV AIDS).

Duh, jadi bikin penasaran aja deh.

Oya, untuk melihat foto-foto cuplikan adegan di film Ketika Cinta Bertasbih ini, silakan klik di sini.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

20 comments:

  • hah...tanggal 11 ?
    sekarang dong

    11 June, 2009 21:33

  • @ Pencerah >>> hari ini mas. Udah main lho. Dan saya nonton hari perdana penayangannya :)

    11 June, 2009 21:34

  • lumayan, sedikit melepas dahaga. thanks mas.

    11 June, 2009 21:50

  • bersabung euy...
    terlalu menjual panorama
    :)

    12 June, 2009 01:13

  • sebenarnya dari awal pembuatan film ini saya lebih optimis kalau film ini harusnya lebih baik dari AAC ...
    orang-orang yang terlibat memiliki kualitas terbaik di bidangnya ... siapa yg tidak tahu dengan Chaerul Umam, Imam Tantowi, Dedy Mizwar, Didi Petet, Slamet Rahardjo, dan El Manik? wah mereka itu kelas berat semua ...
    secara umum saja dapat dilihat bagaimana hasilnya ...

    12 June, 2009 01:23

  • @ yaser >>> kembali mas.

    @ Rusa Bawean >>> gak juga kok kalo menurut saya. Ceritanya jauh lebih natural dan gak ada kesan dipaksain atau dicepetin seperti pada AAC :)

    @ nomercy >>> menurut saya memang jauh lebih bagus dari AAC mas. Dilihat dari beberapa sisi dan pihak yang terlibat aja, film ini terasa lebih religius ketimbang AAC yang terkesan cuma menjual haru-biru percintaan :)

    12 June, 2009 10:15

  • AAC saja saya belum nonton... hehehe....
    Tp keliatannya sih ketika cinta bertasbih kali ini mang lbh ok daripd pendahulunya.
    salam kenal

    12 June, 2009 10:39

  • wah...mas q lom dapet bajakannya nih jd lom nonton

    12 June, 2009 11:11

  • kalau versi bajakannya sudah keluar belum ya mas... he... soalnya di tempat saya.. mau nonton gak ada bioskop nih.. bioskopnya pada dibakar orang mas... :)

    12 June, 2009 13:02

  • wah kapan ya sempet nontonya saya.. waduh bikin penasaran ajah. baca novelnya ajah bagus banget apa lagi filmnya ya..emang novelnya kang abik mantep tenan

    12 June, 2009 14:39

  • nah.... pelem2 yang kayak gini nih yang saya demen.. daripada sinetron2 di tipi yang gak mutu..

    12 June, 2009 18:15

  • pesan yang disampaikan film2 bernuansa islami bagus-bagus hanya terkadang para bintang filmnya tidak memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-harinya...

    12 June, 2009 21:02

  • Belum sempet nonton nih mas... Apa bisa mengimbangi novelnya ya ? :D

    12 June, 2009 22:06

  • @ nomercy: hasilnya menurutku gak terlalu memuaskan
    :)

    @ iskandaria: secara keseluruhan, film ini gak lebih bagus dari AAC
    :)

    **peace mas

    12 June, 2009 23:49

  • Hemmm jadi pengin nonton kek mana sih filmnya... Teman-teman sudah pada nonton, tinggal saya saja yang belum... hiks...

    13 June, 2009 21:01

  • @ Ravatar >>> saya belum baca novelnya mas, jadi gak bisa membandingkan. Tapi menurut saya, kita nikmati saja versi novel dan filmnya secara terpisah.

    @ Rusa Bawean >>> yach, beda pendapat sah-sah aja kan? hehe.. Pendapat setiap orang dipengaruhi oleh pengetahuan dasarnya soal film, wawasan, dasar pemikiran, dan cara ia menilai sesuatu. Nah, kalo menurut pengamatan saya, film KCB jauh lebih sukses dalam hal menghidupkan suasana kehidupan mahasiswa di Mesir. Termasuk bagaimana sang sutradara membangun scene-scene dialogis sesuai budaya Indonesia (nggak kebarat-baratan kayak banyak film nasional lainnya). AAC? Terkesan cuma 'main aman' dan terlalu banyak manipulasi adegan dan pengambilan gambar :)

    14 June, 2009 12:48

  • Terima kasih Iskandar tuk reviewnya jd tertarik tuk nonton:d, tapi kenapa judulnya cinta bertasbih sih:D

    22 June, 2009 01:27

  • @ Abi >>> mungkin itu bahasa kiasnya kang Abik BI :) Saya juga gak tau kenapa dikasihn judul begitu, abisnya saya belum baca novelnya sih. Tapi dari hasil menonton versi filmnya, sepertinya makna "cinta bertasbih" itu lebih mengarah pada hakikat cinta yang suci.

    22 June, 2009 12:19

  • waoooooooo..... seru banget tu..!!!

    bisa ditingkat lagi tu!!!

    20 November, 2009 11:23

  • Post a Comment

    Silakan tulis komentar sesuai pendapat pribadi kamu

    Back to Top
     

    kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top