29 January 2009

29 January 2009

Lagu Soundtrack Sinetron Larasati Indosiar

Berhubung banyaknya pencarian informasi mengenai lagu atau theme-song sinetron Larasati di Indosiar, maka berikut ini saya berikan infonya buat anda (terutama anda yang hobi dan suka nonton sinetron tersebut).

Lagu tema sinetron tersebut dinyanyikan oleh Nindy - seorang penyanyi solo wanita pendatang baru yang punya wajah cukup memikat kaum pria (liat aja tuh foto cakepnya di samping).

Doi tuh setau saya pernah duet ama Audy di lagu Untuk Sahabat (kalo gak salah sih). Saat ini doi malah nyanyi solo dan salah satunya dijadikan lagu tema di sinetron Larasati.

Ini dia lirik lagunya yang saya peroleh dari situs liriklaguindonesia.net :


Nindy - Cinta Cuma Satu


telah aku maafkan

semua kesalahanmu

asal kau berjanji

tidak mengulangnya lagi


* telah aku terima

sakitnya dikhianati

sedalam cintaku ini

selama hidupku ini


reff:

hatiku cuma ada satu

sudah untuk mencintaimu

tolong jangan sakiti lagi

nanti aku bisa mati


cintaku cuma sama kamu

sayangku cuma untuk kamu

tolong jangan hancurkan lagi

nanti aku bisa mati


repeat *

repeat reff


cintaku cuma ada satu

sudah untuk mencintaimu

tolong jangan hancurkan lagi

nanti aku bisa mati



Lirik lagu Nindy - Cinta Cuma Satu ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 Nindy - Cinta Cuma Satu.


Nah, selamat menikmati lagunya yach Kalau mau liat foto lengkap Nindy, kamu bisa klik link ini.

NB : foto diambil dari situs kapanlagi.com

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

Ketika Lahan Penyanyi Solo Diserobot Oleh Grup Band


Judul yang saya buat di atas bukanlah mengada-ada. Setidaknya fakta yang terjadi pada sepanjang tahun 2008 kemarin memang membuktikan, bahwa band alias grup musik masih begitu mendominasi dunia musik komersil Indonesia (khususnya dunia musik panggung, terutama yang ditayangkan di layar televisi).

Hampir di semua acara live musik yang ditayangkan berbagai stasiun tv (on-air maupun off-air), jumlah pengisi acara yang berupa grup band selalu lebih banyak daripada penyanyi solo. Terlebih pada acara-acara berskala besar seperti puncak perayaan HUT (Hari Ulang Tahun) stasiun tv. Band seakan masih menjadi daya tarik utama untuk menggaet pemirsa di rumah maupun penonton di lokasi acara.

Penyanyi solo? Seolah mati terhimpit oleh dominasi band-band ternama tanah air (baik itu band lawas maupun band pendatang baru yang sedang naik daun). Lihatlah betapa larisnya UNGU, d’MASIV, PETERPAN, YOVIE & NUNO, ANDRA & THE BACKBONE, THE ROCK, ALEXA, KANGEN BAND, ST 12, GIGI, NIDJI, SAMSONS, hingga THE CHANGCUTERS (dalam berbagai acara musik di televisi setahun terakhir ini).

Banyak argumen atau hipotesis yang bisa mengemuka dari fakta tersebut. Setidaknya ada 4 kemungkinan mengapa hal itu bisa terjadi, yaitu :

1. Pihak penyelenggara acara live musik (produser dan tim divisi program musik pada stasiun tv) masih menganggap bahwa daya tarik band jauh lebih besar ketimbang daya tarik penyanyi solo.

2. Minimnya penyanyi solo yang dianggap punya nilai jual tinggi.

3. Band dianggap lebih mampu untuk menghidupkan/memeriahkan suasana ketimbang penyanyi solo.

4. Sangat minimnya jumlah penyanyi solo yang berkualitas, sehingga yang tampil terkesn itu-itu saja.

Oke. Kita telaah sedikit 4 kemungkinan/asumsi di atas.

- Asumsi pertama : cukup masuk akal, walaupun pada jenis acara tertentu, penyanyi solo malah lebih diprioritaskan sebagai pengisi acara. Contohnya pada acara-acara (event) yang cenderung eksklusif dan formal. Seperti acara ulang tahun Jhony Andrean yang ditayangkan oleh sebuah stasiun tv swasta beberapa bulan lalu.

- Asumsi kedua : juga cukup masuk akal. Namun lagi-lagi ini bersifat sangat subyektif (tergantung selera para produser acara musik maupun acara seremonial). Kriteria penyanyi solo yang bernilai komersil sendiri masih bisa diperdebatkan dan sulit sekali untuk diseragamkan. Apalagi dimutlakkan. Fakta yang sering saya amati dan temukan, penyanyi solo dengan kualitas vokal dan teknik bernyanyi yang bagus malah jarang mendapatkan job untuk tampil mengisi acara di tv. Mungkinkah karena dianggap kurang populer? Atau malah dianggap kurang punya nilai jual? Entahlah



Sebaliknya, penyanyi solo dengan kualitas vokal yang terkesan ’biasa saja’ justru seringkali tampil (banyak mendapatkan job manggung). Mungkinkah karena dinilai lebih populer dan punya nilai komersil lebih besar? Contohnya Bunga Citra Lestari dan Gita Gutawa. Bosan saya melihat mereka melulu nyanyi di tv. Apa sih kelebihan suaranya? Padahal masih ada penyanyi lain yang jauh lebih baik kualitas vokalnya, tapi malah terkesan kurang dilirik

Pada asumsi kedua ini, antara nilai komersil (termasuk popularitas) dan kualitas seolah saling berlawanan. Padahal kalau para produser jeli, kualitas vokal yang dimiliki oleh penyanyi sebenarnya bisa bernilai komersil, asalkan ia diberikan kesempatan untuk lebih sering tampil guna lebih dikenal oleh publik. Terlebih jika ia punya warna/karakter suara yang khas (seperti Gisel Idol dan Williana Mamamia).

- Asumsi ketiga : pun cukup masuk akal, terutama jika acara berlangsung di tempat terbuka dan bisa disaksikan oleh banyak orang secara gratis. Pada kondisi seperti itu, performa grup band memang seringkali lebih mampu menghidupkan dan memeriahkan suasana.
Lain soal kalau acara berlangsung di tempat tertutup (indoor), dengan jumlah penonton yang agak terbatas dan sifat acara yang cenderung formal (ada orang-orang yang diundang secara khusus dan duduk di kursi).

- Asumsi keempat : rasanya masih perlu diteliti lagi kebenarannya. Sebenarnya sih cukup banyak penyanyi solo berkualitas dan bertalenta yang kita miliki. Cuma masalahnya, mereka mungkin ditangani oleh manajemen yang kurang tepat. Bisa pula karena strategi self marketingnya kurang jitu atau keliru, sehingga potensi dan kesempatan mereka untuk tampil di hadapan publik secara lebh luas menjadi terhambat. Contohnya para alumni kontes Indonesian Idol dan Mamamia Show.

Kalau mau jujur, banyak loh jebolan kedua kontes tersebut yang punya kualitas dan sekaligus punya nilai jual. Harusnya mereka diberi kesempatan untuk lebih sering tampil di tv sebagai pengisi acara musik. Namun fakta berbicara lain, pihak RCTI dan INDOSIAR selaku penyelenggara kedua kontes nyanyi tersebut seolah menyia-nyiakan potensi para kontestan yang sebenarnya sudah cukup dikenal oleh masyarakat luas (sudah cukup populer).

Dan menurut amatan saya dalam setahun terakhir ini, hanya segelintir penyanyi solo yang boleh dibilang sangat laris (banyak job manggung, khususnya di pentas musik komersil). Mereka adalah Mulan Jameela, Rossa, Afgan, Bunga Citra Lestari, Gita Gutawa, dan Aura Kasih.

Yang lain ke mana? Lagi-lagi harus terhimpit oleh dominasi grup band dan selera rendahan para produser acara musik. Kapan penyanyi berkualitas kita bisa maju dan berkembang kalau kurang diberi kesempatan? Tanya kenapa... kata iklan A Mild


Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

27 January 2009

27 January 2009

CINTA FITRI 3 : Nonton Sinetron Ini Rasanya Kok Malah Bikin Sesak Ya?

Sejujurnya saya jarang banget nonton sinetron serial yang tayang setiap malam di SCTV ini (pukul 20.00– 21.00 Wib). Capek deh kalo harus melototin sinetron-sinetron striping setiap hari. Apalagi mayoritas sinetron kejar tayang punya gaya pengemasan yang bisa dibilang sama.

Nah, ngomongin soal CINTA FITRI 3 ini (yang konon banyak digemari), sempat heran juga sih saya. Sinetron model beginian kok malah banyak disukai? Eits…tunggu dulu. Saya nggak bilang sinetron ini jelek lho. Malahan ada beberapa keistimewaan yang membuatnya terasa sedikit berbeda dengan mayoritas sinetron striping lainnya. Apa itu?

1. Konflik ceritanya dikemas senatural mungkin. Alias nggak lebay kayak yang lain.

2. Karakter tokoh dan akting para pemainnya pun begitu (nggak berlebihan), baik itu karakter antagonis maupun protagonis.

Nah, itu aja kelebihannya (cuma 2..hehehe). Sedangkan kekurangan yang masih saja tidak kunjung diperbaiki pada CINTA FITRI 3 yaitu :

- Angle kameranya monoton banget!
Dari Cinta Fitri 1 sampai season 3 saat ini, tidak ada perubahan sedikit pun pada teknik pengambilan gambarnya. Yang sangat dominan tersaji di kamera bolak-balik cuma wajah para pemainnya yang disorot dengan sangat dekat (sampai menyesaki layar tv – alias cuma keliatan wajah dan sedikit lehernya..wekekeeek). Efeknya, nonton sinetron ini rasanya kok malah bikin sesak ya? (bukan sesak nafas sih...hehehe).

- Setting adegan juga terasa kurang hidup bin monoton.
Mayoritas di dalam ruangan (indoor). Udah gitu, diperparah pula dengan angle close-up yang terlalu dominan, sehingga latar adegan menjadi kurang hidup (terkesan di tempat itu-itu aja).

- Musik latarnya pun monoton.
Terkesan sekedar tempelan yang kurang berarti (karena cuma mengulang-ulang irama yang sama). Terlebih pada adegan-adegan dimana pemainnya lagi kaget, sinis, atau heran. Kok yang diputer itu-itu aja sih musiknya? MD banget deh musiknya...hehe. Wong divariasikan dikit kek biar nggak terkesan sebatas tempelan


Namun kekurangan paling parah yang mesti diperbaiki adalah masalah angle pengambilan gambar. Buat pihak MD Entertainment selaku PH yang memproduksi CINTA FITRI 3 ini, banyak belajar dong pada Sinemart dan Soraya Intercine Films (dalam hal editing dan angle pengambilan gambar). Bagi saya, sinetron-sinetron striping yang diproduksi oleh kedua PH tersebut lebih baik dalam hal angle kameranya, walaupun masih didominasi oleh gambar close-up. Tapi rasanya kok nggak separah angle kamera pada CINTA FITRI yach.

Pada sinetron striping produksi Sinemart dan Soraya, walaupun angle close-up masih mendominasi, namun di sela-selanya cukup sering diselipkan gambar berupa long-shoot untuk lebih menghidupkan setting adegan. Sedangkan pada CINTA FITRI 3 ? Boro-boro deh Kalaupun ada gambar long-shoot, durasinya sangat cepat dan terkesan sekedarnya saja.

Singkat kata, pihak MD masih terkesan cari aman dan cari gampangnya saja dalam mengemas sinetron kejar tayang.

Angle close-up yang terlalu dominan mungkin memang disengaja untuk menghindari nampaknya mikrofon perekam suara pemain saat berdialog (itu tuh, yang biasa ada di atas kepala pemain). Pekerjaan si tukang pegang mikrofon pun menjadi lebih ringan, karena nggak perlu ngangkat mic tinggi-tinggi (jelas aja, wong angle-nya cuma close-up..hehehe). Selain itu, mungkin agar proses editing gambar tidak terlalu ribet.

Tapi efeknya, setting adegan jadi terasa kurang hidup dan monoton. Bagaimana pihak MD?

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

25 January 2009

25 January 2009

Sinetron Kepompong SCTV : Ide Ceritanya Patut Diberi Aplaus!

“Persahabatan bagai kepompong… Pahut-pahutan menjadi kupu-kupu…” love

Rasa-rasanya sepenggal bait lagu di atas sudah cukup familiar alias tidak asing lagi di telinga kita, khususnya para pencinta musik tanah air. Yups... Keunikan/keanehan lirik lagu tersebut ternyata mampu mengangkat popularitasnya di jagat musik tanah air. Pada bulan Desember 2008 kemarin, lagu berjudul ”Kepompong” yang dibawakan oleh Sind3ntosca tersebut menjadi salah satu hits paling populer. Setuju nggak?

Moment tersebut ternyata dimanfaatkan oleh pihak Frame Ritz Production (rumah produksi pimpinan Sentot Sahid) untuk membuat sebuah sinetron serial berjudul sama (kepompong).

Dengan menggunakan lagu Kepompong sebagai soundtrack atau theme song utama, sinetron yang tayang setiap sore (pukul 16.30 Wib) di SCTV ini akhirnya cukup menyedot banyak pemirsa (khususnya kaum remaja ABG sebagai target pasar utamanya).

Di dunia maya pun, popularitas sinetron Kepompong ini cukup tinggi. Itu saya ketahui lewat banyaknya pencarian informasi seputar sinetron ini via search engine (dengan keyword tertentu). Dari mana saya bisa tahu? Lewat bantuan sebuah tools (software khusus) yang bisa mendeteksi berbagai keyword yang digunakan oleh para peselancar.

Lalu, mengapa sinetron Kepompong banyak disukai? Salah satunya mungkin karena ide ceritanya yang sederhana, ringan, membumi, dan penyampaiannya pun sangat sesuai dengan alam pikiran remaja. Dan yang paling utama yaitu : tidak ada unsur cinta-cintaan sedikit pun! Patut diberikan aplaus! Hari gini, sinetron remaja mana yang nggak ada kisah cintanya?

Beda banget dengan sinetron Kepompong ini yang sama sekali tidak menjual tema cinta atau pacaran ala ABG. Sesuai theme song-nya, tema utama sinetron Kepompong yaitu tentang persahabatan (antara 5 sekawan). Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sama seperti manusia lainnya (tak luput dari masalah).

Nah, masalah-masalah tersebut-lah yang diangkat dalam setiap episode sinetron serial ini. Lewat pengemasan alur cerita yang soft (lembut), akting para pemain yang natural, dan ditambah lagi dengan penyelesaian masalah pada setiap akhir ceritanya, sinetron ini terasa cukup positif untuk ditonton oleh para remaja.

Pesan-pesan moral yang coba disisipkan pun cukup mengena dan cukup mudah dicerna (untuk alam pikiran remaja). Setting cerita yang cukup berimbang (antara indoor dan outdoor), ditambah dengan angle kamera yang tidak monoton menjadi nilai tambah lainnya dari sinetron produksi Frame Ritz ini.

Dan walaupun didukung oleh wajah-wajah baru yang belum begitu populer, sinetron Kepompong ini ternyata tetap punya magnet dan digemari. Ini membuktikan bahwa faktor popularitas pemain tidak terlalu berpengaruh pada perolehan ratting sinetron.

Ada sisi/faktor lain yang mungkin lebih berpengaruh, misalnya ide utama cerita dan teknik pengemasan alurnya. Dan sinetron Kepompong ini bukti nyatanya. Patut diapresiasi

Oya, ini dia daftar pemain sinetron Kepompong:

1. Aryani Fitria (pemeran Chaca)

2. Derby Romero (pemeran Indra)

3. Dinda Kirana (pemeran Bebi)

4. Mikha Tambayong (pemeran Tasya)

5. Tania Putri (pemeran Helen).

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

24 January 2009

24 January 2009

Bunga – Pemenang Bintang Pantene 2009

Akhirnya pergelaran grand final “Anggun Cari Bintang Pantene” menobatkan Bunga (asal Jawa Timur) sebagai juaranya. Dalam acara yang berlangsung selama 1 jam dan ditayangkan oleh Trans TV tersebut (Sabtu, 24 Januari 2009, pukul 13.30 - 14.30 Wib), Bunga berhasil menjadi Pemenang Bintang Pantene 2009. Gadis cantik asal Jawa Timur itu mengalahkan kedua saingannya pada babak 3 besar, yaitu Nola (Jakarta) dan Gaby (Jawa Timur).

bunga bintang pantene 2009

Bunga Atika Putri

Satu jam penuh saya menonton acara yang dipandu oleh duet pembawa acara (presenter) Adi Nugroho dan Cathy Sharon tersebut. Adi dan VJ Cathy tampak cukup kompak dan serasi saat membawakan acara. Terlebih gaun yang dikenakan Cathy. Anggun banget deh…hehehe

Ketiga peserta Grand Final Bintang Pantene 2009 pun tampak sangat cantik dan anggun ketika mengenakan busana/gaun rancangan Allure Batik. Di sisi lain, konsep penjurian pada babak grand final ini sangat simpel karena cuma berupa penilaian terhadap jawaban yang diberikan oleh masing-masing kontestan saat ditanya oleh juri. Sang juri Bintang Pantene, yaitu Helmy Yahya, tampak sangat lugas dan berwibawa saat mencecar 3 kontestan dengan pertanyaan-pertanyaan yang rada berat. Inti dari pertanyaan berkisar pada hubungan komunikasi antara masing-masing perserta dengan kedua orang tuanya.

- Nola (wakil dari Jakarta) mendapatkan giliran pertama. Sang juri (Helmy Yahya) bertanya kepadanya kira-kira begini : ”apakah ibu anda termasuk orang tua yang punya prinsip, bahwa anak-anaknya harus menikah dengan orang yang bersuku sama atau memberikan kebebasan pada anaknya untuk memilih (suku apa saja boleh) ? Apakah ibu anda setuju jika anda menikah dengan suku yang berbeda?”

Nola menjawab kira-kira begini : ”ibu saya setuju, karena ia memberikan kebebasan sepenuhnya pada anak untuk memilih jodohnya. Yang penting sekeyakinan atau seiman. Suku apa saja tidak masalah”.

Setelah dicek dengan jawaban sang ibu ketika diwawancarai oleh juri, ternyata diperoleh kecocokan. Artinya, Nola jujur dengan jawabannya. Itu mencerminkan kualitas komunikasi atau hubungan yang sangat baik dengan sang ibu sebagai orang tuanya. Nola pun dianggap lulus oleh sang juri.

- Tiba giliran Gaby yang ditanyai oleh Helmy Yahya seperti ini :
bagaimana sebenarnya sikap ayah anda, apakah ia meminta anda untuk menyelesaikan kuliah terlebih dahulu atau boleh disambil dengan berkarir di bidang entertain?”

Sebuah pertanyaan yang cukup bikin Gaby sedikit bingung/ragu.

Namun Gaby akhirnya menjawab dengan jujur, bahwa ayahnya ingin ia menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Sang ayah ingin ia lebih memfokuskan kuliahnya ketimbang karirnya sebagai presenter di bidang entertain. Ternyata jawaban sang ayah tak jauh berbeda dengan pengakuan Gaby saat ditanyai oleh juri. Gaby pun dianggap lolos dalam penilaian di tahap ini.

- Tiba giliran perserta terakhir (peserta ketiga), yaitu Bunga (asal Jawa Timur). Helmy Yahya selaku juri memberikan sebuah pertanyaan yang cukup berat bagi Bunga. Kira-kira begini : ”apakah ibu anda setuju jika setelah menikah, anda hanya menjadi ibu rumah tangga (tidak berkarir) atau menghentikan aktivitas wirausaha yang selama ini telah anda tekuni dari kecil, karena harus menuruti perintah suami?”

Jawaban Bunga agak berbeda dengan jawaban sang ibu yang ternyata kurang setuju jika setelah menikah Bunga tidak boleh bekerja. Sedangkan Bunga menjawab bahwa ibunya setuju.

Namun ternyata itu tak mengurangi penilaian juri. Buktinya, Bunga akhirnya dinobatkan sebagai Pemenang Bintang Pantene 2009. Penilaian tampaknya lebih menitikberatkan kepada kualitas hubungan komunikasi antara kontestan dengan orang tuanya. Juga pada kasih sayang yang tercermin dari sang ibu/ayah pada anaknya.

Ibunda Bunga yang kasihan andai setelah menikah, anaknya harus menghentikan aktivitas wiraswastanya (yang telah menjadi jiwanya), ternyata di mata juri sangat besar.

Akhirnya saat pengumuman tiba. Anggun (sang Ambasaddor ”Anggun Cari Bintang Pantene” 2009) didaulat untuk memasangkan kalung Syira ke leher kontestan yang dinobatkan menjadi juara. Deng..deng..deng... Akhirnya Juara Bintang Pantene 2009 pun jatuh pada Bunga.

Selamat yach... Kamu emang pantes kok jadi pemenang

23 January 2009

23 January 2009

Tips Ngeblog untuk Para Pemula (Bag.1)


Tips berikut ini sekedar urun saran berdasarkan pengalaman pribadi saya ketika berkutat di dunia blogging pada 3 bulan pertama. Cukup banyak proses pembelajaran yang saya tempuh selama itu. Beberapa kali saya mengalami trial and error (hehehe).

Sampai saat ini pun (dengan blog baru ini), saya masih terus belajar seluk beluk dunia blogging. Mulai dari pengaturan tampilan (lay-out) blog, modifikasi template, utak-atik kode html, optimasi keyword (trik SEO), tips membangun trafik, mengatur tampilan widget, dan masih banyak lagi. Sebuah hobi dan keasyikan baru yang sangat menyenangkan

Bagi anda yang baru terjun di dunia blogging, atau bahasa kerennya : baru memulai karir sebagai blogger (ceillee), mungkin beberapa tips berikut ini bisa sedikit memberikan arahan. Tak menutup kemungkinan juga bagi para blogger yang sudah cukup senior (terutama yang kurang memperhatikan poin-poin di bawah ini).

Tips ini lebih saya tujukan buat anda yang benar-benar suka menulis dan menulis bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga ingin dibaca oleh banyak orang. Apa saja tipsnya?

1. Tulislah sesuatu (materi postingan) yang benar-benar anda sukai topiknya.

Salah satu kunci untuk memperlancar aliran ide ketika menulis yaitu jika kita memfokuskan untuk menulis hal-hal yang kita sukai topiknya. Contoh : anda suka menulis pengalaman-pengalaman pribadi anda yang mengandung hikmah/pelajaran untuk dipetik oleh orang lain. Maka tulislah terlebih dahulu hal-hal seputar itu. Pada dasarnya, kita memang lebih suka menulis hal-hal yang bersifat pengalaman pribadi (atau yang sifatnya naratif). Anda termasuk seperti itu?

Atau anda suka mengamati dunia politik? Kalau iya, maka tulislah terlebih dahulu hal-hal seputar dunia politik tersebut ketika anda baru mulai ngeblog. Atau seperti saya yang suka mengamati dunia hiburan (entertainment). Saya pun lebih memfokuskan atau mendahulukan untuk menulis hal-hal seputar musik, film, sinetron, acara tv, dan selebriti (pada awal-awal ngeblog).

Setelah itu, kita bisa atau boleh mencoba menulis hal-hal lainnya.

2. Usahakan agar tampilan postingan di blog anda nyaman di mata para pembaca.

Untuk hal ini, ukuran font, jenis font, jarak tinggi spasi antar baris, warna huruf, warna latar posting, dan pengaturan paragraf menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Ukuran font yang terlalu kecil atau kombinasi warna huruf dan warna latar posting yang kurang pas bisa membuat pengunjung malas untuk membaca isi postingan kita. Begitu pula jika banyak paragraf yang terlalu panjang (menumpuk). Pembaca bisa cepat lelah olehnya.

Maka dari itu, usahakanlah agar tampilan posting blog anda tidak membuat mata pengunjung cepat lelah. Untuk warna huruf pada postingan, saya pribadi lebih menyarankan untuk memilih warna netral seperti hitam (dengan warna putih sebagai warna latar postingnya – seperti pada blog ini). Namun bagi anda yang lebih mementingkan nilai estetika (seni), pemilihan warna lain (selain kombinasi hitam-putih) sah-sah saja.

Yang patut diperhatikan, gunakan warna-wana cerah sebagai warna latar posting jika anda memilih warna gelap sebagai warna hurufnya. Begitu pula sebaliknya, gunakan warna-warna gelap sebagai warna latar posting jika anda memilih warna cerah sebagai warna hurufnya.

Namun pada umumnya, blog-blog yang berpage-rank atau bertrafik tinggi menggunakan kombinasi hitam-putih pada tampilan postingannya. Anda boleh survei sendiri mengenai fakta tersebut.

Dan masalah pengaturan paragraf, saya pribadi lebih menyarankan agar menggunakan perataan Justify (rata kiri dan rata kanan). Itu akan terlihat lebih rapi ketimbang cuma rata kiri. Satu hal lagi, hindari menumpuk terlalu banyak kalimat dalam satu paragraf. Standar sebuah paragraf atau alinea yang nyaman di mata umumnya tak lebih dari 5 cm tingginya. Lebih dari itu, biasanya akan terkesan menumpuk atau terlalu panjang.

Bersambung ke seri 2

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

19 January 2009

19 January 2009

OH BABY : Film Dance Ala Indonesia yang Masih Banyak Kekurangan

Akhirnya kesampaian juga niat saya untuk menonton film bertema modern dance ini (pada malam tahun baru 2009 lalu di SCTV). Biasalah, nunggu gratisan..hehehe

Dalam bayangan di benak saya semula (sebelum nonton dan ketika melihat cuplikan-cuplikan adegannya), saya pikir film dance perdana Indonesia yang dibintangi oleh Cinta Laura ini bakalan seheboh You Got Served atau Honey (2 film dance Hollywood yang sangat saya sukai).

Ternyata? Isi cerita dan alur film Oh Baby ini sangat jauh dari harapan. Skenario ceritanya masih terlalu didominasi oleh unsur percintaan atau asmara. Ah..cinta lagi..cinta lagi.. Bosen deh..

Sebenarnya saya berharap isi ceritanya lebih didominasi oleh adegan-adegan latihan dance, perjuangan, kerja keras, dan gambaran semangat kemenangan pada sebuah pertandingan/kompetisi dance (seperti yang menjadi skenario di film You Got Served dan Honey).

Saya juga berharap unsur persahabatan lebih ditonjolkan ketimbang saling ketertarikan antar lawan jenis. Faktanya, isi cerita Oh Baby terkesan cuma menjual kisah cinta lokasi antara Cinta Laura, Randy Pangalila, dan seorang pemeran seniornya di sekolah (walaupun dibalut dengan kisah Baby yang baru masuk sekolah dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya).

Di sisi lain, unsur dance malah terkesan sebatas bumbu yang sangat kurang porsinya. Kesan ramai nan heboh yang menjadi ciri-ciri film dance pun kurang terasa pada film ini. Malah yang terasa adalah kesan sepi karena isi cerita utamanya bolak-balik cuma berkutat antara 3 tokoh.

Belum lagi pengemasan dan perangkaian alur cerita yang terasa sangat tidak pure (kalau tidak mau dibilang kacau balau). Satu-satunya yang membuat film ini masih terasa bisa dinikmati adalah adanya adegan-adegan (cuplikan) dance yang dilakukan oleh Cinta Laura. Lumayan atraktif sih koreografinya. Cinta Laura pun terlihat sangat luwes (tidak kaku) dalam memperagakan gerakan-gerakan tarian hiphop. Lagu Oh Baby yang mengiringi sebagian scene juga turut mengurangi sedikit kesan monoton pada alurnya.

Selebihnya, Oh Baby masih jauh dari kata menarik sebagai sebuah tontonan. Film dance kok malah membosankan? Malah terkesan seperti sinetron. Ini PR buat tim produksi film ini.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

09 January 2009

09 January 2009

Sinetron LARASATI – Indosiar : Sudah Mulai Ada Perbaikan dari Sisi Pengemasan Ceritanya

Setelah beberapa minggu memposting ulasan mengenai sinetron ini (yang berisi kritikan membangun saya), akhirnya saya melihat sudah mulai banyak perbaikan pada pengemasan ceritanya. Sudah tidak terlalu didominasi oleh adegan yang menegangkan.

Musik latarnya juga sudah mulai divariasikan dan tidak monoton seperti sebelumnya. Bagus deh. Oya, jam tayang sinetron ini berubah loh (menjadi jam 9.00 Wib malam - setelah sinetron Hareem).

Untuk info tentang lagu soundtrack sinetron Larasati ini, silakan KLIK DI SINI.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

Termehek-Mehek di Trans TV : Tak Heran Jika Memperoleh Ratting Tinggi

Ini dia reality show yang benar-benar terasa real saat saya menontonnya. Mungkin demikian pula yang dirasakan oleh mayoritas pemirsa lainnya.

Yups…saat ini rasa-rasanya tidak ada tayangan reality show yang mampu mengalahkan tingkat ke-real-an atau keseruan seperti pada TERMEHEK-MEHEK di Trans TV ini.

Mungkin cuma acara Backstreet di SCTV yang sedikit mampu menandingi tayangan yang dipandu oleh duet Mandala dan Panda ini. Tak mengherankan jika akhirnya acara bertitel Termehek-Mehek ini memperoleh ratting yang cukup tinggi. Minggu lalu (sekitar minggu kedua Desember 2008), tayangan ini nangkring di peringkat ke-3 pada daftar 20 program acara televisi yang paling banyak ditonton.

Saya kira hasil survey tersebut tidak mengada-ada. Toh secara logika saja, value atau nilai jual Termehek-Mehek memang sangat kuat. Apa yang disajikan oleh acara yang tayang setiap hari Sabtu dan Minggu malam (mulai pukul 18.15 – 19.00 Wib) ini memang benar-benar terasa nyata dan natural. Jauh dari kesan rekayasa skenario seperti yang terlihat pada beberapa reality show perjodohan di SCTV (Lemon Tea).

Lalu, apa saja yang membuat Termehek-Mehek terasa sangat menarik untuk ditonton?

- Perjuangan keras nan melelahkan dalam mencari orang yang hilang (orang yang tidak diketahui dengan pasti lokasi keberadaannya dan sudah lama tidak pernah bertemu dengan client).
- Proses pengintaian lokasi dan target yang dicari setelah diketahui alamatnya.
- Reaksi si client ketika bertemu dengan orang/target yang dicarinya (yang sudah begitu lama tidak bertemu).
- Air muka (mimik wajah) yang sangat natural dari prang-orang yang terlibat dalam acara ini, terutama pada saat proses pencarian.
- Hal-hal di luar dugaan yang terjadi di sepanjang proses pencarian dan setelah bertemu.
- Reaksi sang target utama saat bertemu client acara ini.

Ada satu poin lagi yang semakin memperkuat value atau tingkat kealamian + keseruan acara ini, yaitu pencantuman nama lokasi yang didatangi oleh tim berserta jam/waktu saat kejadian berlangsung. Dan itu diperkuat lagi oleh teknik pengetikan yang diiringi oleh suara mesin ketik saat penulisan kalimat/data-data tersebut pada layar tv. Teknik tersebut terasa sangat mampu memunculkan aura real yang cukup kuat dan menegangkan pada saat video pencarian diputarkan.

Singkat kata, TERMEHEK-MEHEK adalah reality show yang paling seru dan paling menarik saat ini bagi saya. Bahkan menjadi acara tv terfavorit dan paling saya tunggu-tunggu hari beserta jam tayangnya.

Gimana dengan anda?

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

MALAM PUNCAK FFI 2008 : Sayang Sekali Klimaksnya Kurang Terasa

Akhirnya kelar juga perhelatan terbesar para insan perfilman tanah air di tahun 2008 ini. Pada malam puncak penganugerahan FFI (Festival Film Indonesia) 2008 yang berlangsung kemarin malam di Bandung, film FIKSI (arahan sutradara Mouly Surya) dinobatkan sebagai FILM TERBAIK untuk kategori film cerita bioskop.

Bahkan film tersebut juga memborong 3 penghargaan lain, yaitu sebagai film dengan Tata Musik, Skenario Cerita Asli, dan Penyutradaraan terbaik.

Mengomentari jalannya acara yang ditayangkan secara live oleh SCTV kemarin malam (Jumat 12 Desember 2008, pukul 21.20 – 23.20 Wib), saya ngerasa kok datar-datar aja yach? Maksudnya kurang greget gitu deh. Tidak seperti pada malam puncak FFI 2007 tahun lalu (yang begitu meriah dan sangat terasa auranya).

Setelah coba saya cermati, ternyata ada beberapa hal yang membuat greget acara puncak FFI 2008 yang dipandu oleh Andika Pratama dan Cathy Sharoon kemarin terasa kurang, yaitu :

- musik latar pengiring acara yang terkesan kurang megah dan kurang cocok.

- para pemenang nominasi yang berbicara di podium cuma segelintir (tidak semua pemenang).

- tidak hadirnya Fahrani dan Vino G.Bastian sebagai pemenang Pemeran Utama Wanita dan Pemeran Utama Pria Terbaik.

- performa host penutup yang kurang greget (pembaca nominasi Film Terbaik, yaitu Tamara Bleszinsky dan Agus Kuncoro). Hal ini membuat klimaks acara menjadi kurang terasa. Itu yang saya rasakan.

Sangat disayangkan, tidak ada kekompakan antara Tamara dan Agus saat ditugaskan membacakan nominasi dan pemenang Film Terbaik FFI 2008. Tamara sempat keceplos menyebut duluan judul film yang menang, padahal Agus masih membacakan kategorinya. Itu ditambah pula dengan penyebutan/intonasi yang terkesan datar saja. Harusnya sih diteriakkan dengan lantang dan harus diberi jeda selama beberapa detik sebelum menyebutkan pemenangnya. Biar bisa bikin deg-degan gitu deh.

Mengomentari para pemenang FFI 2008, saya sedikit kaget ketika Fahrani dan Vino G.Bastian dinobatkan sebagai Pemeran Utama Wanita dan Pria Terbaik (alias aktris dan aktor terbaik di FFI 2008). Tapi saya akui, akting keduanya di film RADIT dan JANI sangat kompak dan benar-benar total. Keduanya berpasangan sebagai suami istri di film garapan UPI tersebut.

Untuk pemenang di kategori lain, saya kurang bisa berkomentar. Jujur saja, dari 13 film yang masuk nominasi FFI 2008, baru 5 film yang sudah saya tonton, yaitu Kawin Kontrak, Otomatis Romantis, Ayat-Ayat Cinta, Kuntilanak 3, serta Radit dan Jani.

Melihat beberapa film yang begitu banyak masuk nominasi dalam 12 kategori di FFI 2008 ini (seperti May, 3 Doa 3 Cinta, Fiksi, Claudia/Jasmine, dan Under the Tree), saya jadi penasaran banget pengen nonton film-film tersebut. Ntar pasti bakalan saya cari deh VCD-nya. Tunggu saja ulasan saya mengenai film-film tersebut. Nanti pasti akan saya posting di blog ini. Okey.

Hidup perfilman Indonesia!

Untuk daftar lengkap pemenang FFI 2008, silakan KLIK DI SINI.


Pemenang MISS WORLD 2008 Ternyata Bermodalkan Ketulusan dan Kejujuran


Duh, rada kaget juga saat mengetahui pemenang MISS WORLD 2008 ternyata wakil dari Rusia, yaitu Ksenya Sukhinova. Padahal saya yakin, banyak pihak (termasuk para penonton seperti saya) lebih menduga sang pemenangnya ialah wakil tuan rumah (Afrika Selatan).

Ternyata hasil akhir penjurian cukup mengejutkan. Kontestan dari India, Trinidad & Tobago, serta Afrika Selatan yang terlihat lebih cantik plus lebih tangkas saat menjawab pertanyaan ternyata oleh para juri dinilai belum cukup.

Why? Ini membuktikan bahwa kriteria penilaian ajang-ajang kontes seperti ini tak hanya berdasarkan pada kecantikan fisik, wajah yang rupawan, keseksian tubuh, atau keterampilan berbicara semata. Sebab kalau mau jujur, banyak kontestan lainnya yang jauh lebih cantik dan lebih seksi daripada kontestan Rusia yang akhirnya menjadi pemenang MISS WORLD 2008.

Dalam acara puncak yang saya saksikan secara live di RCTI tadi malam (pukul 22.30 – 00.45 Wib), saya amati kriteria penilaiannya cukup beragam. Selama dikarantina, para kontestan yang terdiri dari 109 negara banyak melakukan aktivitas yang cukup beragam jenisnya. Yang jelas, banyak sekali pembelajaran yang mereka peroleh selama mengikuti berbagai kegiatan di ajang
MISS WORLD 2008 ini.

Dan mengomentari kontestan Rusia (Ksenya Sukhinova) yang menjadi pemenang MISS WORLD 2008 tadi malam, ternyata ia punya sesuatu yang membuat para juri lebih memilih dirinya. Apa itu? Ketulusan dan kejujuran. Itu tercermin dari jawaban-jawaban yang ia berikan saat sesi 5 besar. Ternyata 2 hal tersebut lebih dihargai ketimbang hal lainnya. Tak jauh berbeda deh dengan kehidupan sehari-hari.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Kamidia Radisti (Miss Indonesia 2007 saat tampil sebagai komentator di studio RCTI tadi malam). Ia mengatakan bahwa modal utama yang lebih disukai oleh para juri MISS WORLD adalah ketulusan dan kejujuran. Bukan sesuatu yang dibuat-buat atau direkayasa.

Kontes MISS WORLD ini bukannnya ajang dramatic. Itu intinya. Yang terlihat semalam, jawaban beberapa kontestan (selain Rusia) mungkin terkesan kurang tulus dan kurang jujur di mata para juri. Walaupun terlihat begitu tangkas dan meyakinkan menurut saya.

Dan walaupun SANDRA ANGELIA (Miss Indonesia 2008) yang mewakili Indonesia gagal masuk 15 besar, saya kira ajang seperti ini tetap positif kok untuk diikuti oleh wakil negara kita. Toh, yang jauh lebih penting ialah proses pembelajaran yang bisa didapatkan selama mengikuti berbagai kegiatannya. Bukan kemenangan!

Terlebih, sang pemenang MISS WORLD ini pun nantinya akan mengemban misi kemanusiaan ke berbagai negara.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

MULAN JAMEELA : Makin Melejit dengan Image Barunya

Nama aslinya sih Wulansari (ndeso banget yach ^-^). Tapi saat menjadi vokalis RATU, lebih dikenal dengan sebutan Mulan Kwok. Menurut kabar yang saya dengar, nama tersebut memang sengaja dipilihkan oleh Ahmad Dhani ketika ia akan didaulat menjadi vokalis RATU. Biar terkesan unik dan komersil gitu deh.

Buktinya, nama Mulan Kwok akhirnya memang begitu melekat di benak khalayak sebagai pasangan Maia di grup RATU. Maia dan Mulan. Kedengarannya memang jauh lebih serasi ketimbang Maia dan Wulan. Bener nggak? Hehehe.

Oya, saya sendiri pernah menyaksikan secara langsung konser RATU di kota Pontianak (beberapa tahun yang lalu). Saat itu, performa Maia dan Mulan sangat menggoda, terutama kostum dan aksi panggung mereka.

Nah, usai cabut dari RATU, ternyata sang manajer (yaitu Ahmad Dhani) masih melihat potensi Mulan untuk dijadikan sebagai salah satu tambang emasnya guna meraup rupiah. Nama Kwok di belakang nama Mulan pun diganti dengan nama baru yang rada berbau ‘Arabia’, yaitu Jameela (dari kata jamilah yang artinya cantik).

Saya tahu, itu merupakan salah satu strategi untuk membentuk image baru pada diri Mulan (sekaligus guna melepaskan bayang-bayang RATU dari dirinya). Dalam ilmu self marketing, apa yang dilakukan oleh Ahmad Dhani tersebut dikenal juga dengan personal branding.

Yups…Dhani memang begitu jeli dan cukup jenius dalam upaya untuk membranding para artis
yang bernaung di bawah manajemen REPUBLIK CINTA-nya (mulai dari Andra and The Backbone, Once, Dewi-Dewi, The Rock, hingga Mulan Jameela).

Dhani sangat pintar dalam melihat celah pasar musik Indonesia. Diorbitkanlah salah satu icon baru yang bernama Mulan Jameela (sebagai penyanyi solo wanita dengan konsep musik, kostum, lirik lagu, dan performa live yang khas). Beda dari para pesaingnya sesama penyanyi solo.

Dan ternyata, menurut saya Ahmad Dhani sangat sukses dalam upayanya membranding Mulan Jameela sebagai icon baru di dunia musik tanah air. Mulan punya daya jual yang cukup kuat. Semenjak meledaknya hits Makhluk Tuhan Paling Seksi, Mulan Jameela menjelma menjadi salah satu penyanyi solo wanita terpopuler dan terlaris saat ini. Cukup sering saya melihat ia menjadi salah satu pengisi acara live musik.

Di sisi lain, perubahan konsep kostum dan performa live cukup terlihat pada diri Mulan
usai hengkang dari RATU. Sudah tidak seperti saat dirinya masih menjadi vokalis RATU. Kostum Mulan terlihat lebih feminim dan lebih simpel, walau gayanya tetap genit dan sensual.

Dari sisi vokal (cara bernyanyi) sih tidak banyak berubah. Yang sedikit berubah mungkin konsep musik dan lirik lagu-lagu hits yang dibawakannya (yang mayoritas ciptaan Ahmad Dhani, seperti lagu Makhluk Tuhan Paling Seksi, Wonder Woman, Jatuh Cinta Lagi, dan Sakit Minta Ampun).

Overall, MULAN JAMEELA cukup layak masuk nominasi penyanyi yang punya nilai jual cukup kuat saat ini. Terlebih ia punya karakter vokal dan cara bernyanyi yang cukup khas (sulit ditiru lho). Serba bisa pula. Mau pop? Oke. Rock dan alternative? Jago banget. Blues? Masuk juga tuh.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

HARI YANG ANEH di antv : Asli…Gokiel Banget deh


Tayangan reality show saat ini seakan menjadi tren baru di kalangan insan pertelevisian Indonesia. Masing-masing punya program unggulan yang diharapkan mampu mencuri hati pemirsa. Lihat saja SCTV dengan “Lemon Tea Asam Manis Cinta”-nya yang tayang saban sore.

Atau RCTI yang mulai tak mau kalah (kalau tak mau dibilang latah) dengan acara “Mata-Mata” dan “Kacau”-nya.

Trans TV juga punya 2 program andalan di segmen ini, yaitu JAIL dan TERMEHEK-MEHEK (favorit saya tuh keduanya ^ ^). Nah, untuk reality show yang tayang pada sore hari, antv rupanya punya program yang cukup cukup unik, menghibur, dan bisa bikin penontonnya cekikikan ^_^ Nama acaranya “Hari yang Aneh” (tayang setiap sore, Senin – Jumat, pukul 17.30 Wib).

Bagi yang sudah pernah nonton, pasti tahu seperti apa detailnya isi acara yang dipandu oleh Uya Kuya ini. Saya sendiri belakangan suka banget nonton reality show yang isinya ngerjain para artis ini. Asli…gokiel banget deh.

Walaupun ide dasar materi acaranya bukan sesuatu yang baru (ngerjain artis), namun oleh Uya Kuya (sang konseptor), Hari yang Aneh menjelma menjadi sesuatu yang berbeda dan unik. Perbedaan dan nilai plusnya terletak pada :

- jumlah agen yang mengerjai sang artis lebih dari satu orang (rata-rata 3 orang agen) dan dilakukan secara berturut-turut pada hari yang sama.

Masing-masing agen punya tugas (misi khusus) tersendiri yang telah dikonsep dengan sangat matang. Agen pertama tentu saja mendapat giliran terlebih dahulu untuk mengerjai sang target. Dilanjutkan dengan agen kedua dan ketiga dengan tugas yang berbeda-beda pula.

Ada yang ngaku sebagai fans beratnya sang artis-lah, ngaku wartawan infotainment-lah, karyawan EO-lah, pelatih vokal-lah, nyamar jadi kakek pikun yang cerewetnya minta ampun-lah, dan bahkan yang lebih gila lagi, ada yang berpura-pura kesurupan…hehehe.

- durasi/sesi untuk setiap agen dalam mengerjai sang artis cukup lama (rata-rata lebih dari 5 menit).

Hal ini menuntut kemampuan akting, improvisasi, dan blocking yang luar biasa dari masing-masing agen. Sebab terkadang ada saja hal-hal yang di luar dugaan atau di luar perkiraan pada saat merencanakan skenario. Dan itu terjadi ketika sang agen berinteraksi dengan sang target (artis).

Reaksi sang artis sendiri macam-macam. Ada yang santai, serius, bingung, kesal, kaget, bengong, dan bahkan terkadang sampai marah-marah.

- ide-ide jahil yang dikonsep oleh Uya Kuya untuk mengerjai sang target tergolong sangat kreatif. Bahkan terbilang berani.

Tentu saja hal itu didukung pula oleh kualitas akting dan improvisasi yang sangat mumpuni dari para agen yang ditugaskan untuk mengerjai target. Salut! Lucu-lucu dan seru deh pokoknya aksi para agen tersebut ^ ^

- penggunaan musik lucu dan pemunculan kalimat tertentu yang kocak dalam awan (pada saat wajah sang target menunjukkan roman tertentu) juga makin menambah gokiel acara ini.

Singkat kata, Hari yang Aneh adalah salah satu reality show yang paling lucu saat ini (menurut saya sih). Dijamin bikin ketawa deh saat menontonnya ^ ^

Semoga makin gokiel dan kreatif deh.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

KONSER TUNGGAL ROSSA dan Kelayakan Gelar Diva Musik Pop Indonesia

rossa

Mojang priangan berwajah senyum dan berpipi tembem ini saya kira sudah sangat layak menyandang predikat sebagai salah satu Diva Musik Pop Indonesia (sejajar dengan Ruth Sahanaya, Krisdayanti, Titi DJ, maupun Agnes Monica).

Dari beberapa indikator atau parameter penilaian, Rossa sudah memenuhinya. Tentu saja indikator/parameter tersebut bisa berbeda-beda antara satu pengamat dengan pengamat musik lainnya. Saya pribadi selaku pemerhati musik tanah air punya ukuran tersendiri dalam menilai layak tidaknya seorang penyanyi solo wanita dinobatkan sebagai diva.

Di antara ukuran/kriteria saya tersebut yaitu :

>> Kurun waktu berkiprah di dunia musik.

Tidak banyak penyanyi solo yang mampu bertahan dalam kurun waktu minimal 10 tahun di dunia industri rekaman dan dunia musik panggung. Terlebih yang cuma mengandalkan tampang, penampilan seronok, aji mumpung, atau bahkan suara pas-pasan (baik dari segi teknis maupun karakter).

Bagaimana dengan Rossa? Saya pribadi sudah mulai mengenal dan mulai menyukai suaranya semenjak belasan tahun yang lalu (kira-kira tahun 94-95 gitu deh). Saat itu lagu “Nada-Nada Cinta” yang dinyanyikannya begitu booming dan banyak disukai, termasuk oleh saya. Liriknya begitu syahdu nan romantis. Komposisi nada dan iramanya pun begitu indah. Apalagi dilantunkan dengan sangat merdu pula oleh Rossa lewat suara lembutnya. Duh, saya sempat merinding loh dibuatnya ^_^

Jadi, jika dihitung-hitung, kiprah Rossa di dunia musik tanah air sudah melebihi 10 tahun lamanya. Apa artinya? Itu menandakan bahwa Rossa punya kualitas. Jarang lho ada penyanyi solo yang bisa survive dan eksis sampai melebihi 1o tahun. Bisa dihitung dengan jari deh kalau di Indonesia.

>> Banyak menelurkan hits yang disukai oleh masyarakat.

Coba hitung sendiri, ada berapa lagu Rossa yang pernah booming dan merajai berbagai chart. Mulai dari Nada-Nada Cinta, Tegar, Kini, Perawan Cinta, Sakura, Malam Pertama, Pudar, Atas Nama Cinta, Hati Yang Terpilih, Kembali, Wanita Pilihan, Aku Bukan Untukmu, Ayat-Ayat Cinta, Takdir Cinta, dan yang terbaru yaitu Terlalu Cinta.

Untuk poin ini, ada beberapa musisi ternama yang sangat berjasa dalam melejitkan Rossa, terutama lewat kekuatan lagu-lagu ciptaannya. Mereka adalah Yongky Suwarno (pencipta hits Nada-Nada Cinta), Fariz RM (pencipta Sakura), Melly Goeslaw (pencipta hits Tegar, Perawan Cinta, Atas Nama Cinta, Ayat-Ayat Cinta, dan Takdir Cinta), serta Yovie Widianto (pencipta hits Kini dan Terlalu Cinta).

>> Memiliki teknik vokal yang mumpuni dan sekaligus punya karakter suara yang khas.

Dua hal tersebut dimiliki oleh Rossa. Secara teknis, kualitas vokal Rossa tergolong bagus menurut saya. Sangat pas untuk tipikal jalur musik pop. Begitu pula warna dan karakter suaranya. Tidak mudah meniru cara bernyanyi Rossa. Jika anda penggemar lagu-lagu Rossa, anda pasti tahu keunikan cara bernyanyinya. Selain itu, Rossa juga mampu memberikan feel (ruh) pada setiap lagu yang dilantunkannya. Entah itu yang bernuansa ceria, romantis, maupun sendu.

>> Sudah pernah menggelar konser tunggal.

Nah, ini dia kriteria tersulit yang belum banyak dimiliki oleh para penyanyi solo wanita Indonesia. Coba anda sebutkan nama-nama penyanyi cewek yang sudah pernah menggelar konser tunggal. Setahu saya baru Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata, KD, Agnes Monica, dan yang baru-baru ini yaitu Rossa!

Alhamdulillah, saya berkesempatan menyaksikan Konser Tunggal Rossa yang bertitel PERSEMBAHAN CINTA beberapa hari yang lalu di layar SCTV (Jumat 28 Nov 2008, pukul 23.30 Wib hingga selesai). Dengan konsep panggung minimalis tapi megah, Rossa tampil layaknya seorang Diva. Salut!

Kalau seorang penyanyi solo sudah sanggup menggelar konser tunggal, itu pasti karena kualitas dan eksistensinya di dunia musik selama ini. Dan Rossa punya itu!

So, siapa lagi ya yang layak disebut sebagai Diva musik pop Indonesia? Atau siapa saja calonnya? Gita Gutawa? Sepertinya kurang layak. Sherina? Masih jauh deh. Melly Goeslaw? Rasanya lebih pas disebut sebagai hits maker deh. Audy? Suka timbul tenggelam dan tidak konsisten, padahal sebenarnya layak dan punya potensi bagus. Bunga Citra Lestari? Suaranya pas-pasan dan terkesan aji mumpung.

Anda punya calon atau nominasi tersendiri?

Untuk profil lengkap Rossa, silakan klik link berikut ini :

id.wikipedia.org/wiki/Rossa


Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

JAIL di TRANS TV : Suguhan Segar di tengah Gempuran Sinetron Tidak Bermutu di Televisi

Sebenarnya saya tidak anti sinetron sih. Saya cukup sering kok nonton sinetron di televisi, terutama yang berjenis FTV (alias sinetron lepas). Kalau sinetron kejar tayang yang hadir setiap hari saya sudah rada malas.

Apalagi saat ini saya amati kualitas sinetron-sinetron striping sudah mengalami penurunan, baik itu produksi Sinemart maupun MD Entertainment. Termasuk produksi Soraya Intercine Films dan Gentabuana Paramita.

Tak seperti pada zaman sinetron Candy, Mentari, Cahaya, maupun Intan. Saat ini, entah mengapa, para penulis skenario sepertinya sudah kehilangan kreativitas dan cenderung hanya mengulang-ulang tema cerita klise bin basi.

Untunglah, masih ada beberapa acara alternatif non sinetron yang bisa menjadi penawar dahaga sekaligus penyegar di tengah kering bin garingnya mayoritas acara tv. Di antara penyegar itu yaitu (
JAILTrans TV) Saya kupas sedikit acara tersebut.

Nilai jual reality show ini terletak pada spontanitas reaksi orang-orang yang dijahili oleh tim kreatif acaranya. Sepintas konsepnya memang sama persis dengan acara SPONTAN yang dulunya pernah ngetop di SCTV. Bedanya, kelucuan yang terlihat pada JAIL terasa lebih alami karena tidak ada iringan suara ocehan seperti pada SPONTAN.

Ide-ide jahil yang disuguhkan juga tergolong kreatif, walau terkadang kurang lucu. Wajar sih. Overall lumayanlah, bisa membuat saya tersenyum dan bahkan tak jarang terkikik-kikik ^-^

Singkat kata, acara ini ibarat penawar dahaga dan penyegar di tengah keringnya acara-acara berkualitas di mayoritas stasiun tv swasta kita saat ini.

Bagi yang belum pernah nonton keduanya, coba deh sekali-sekali dilihat. Untuk JAIL tayang setiap Jumat malam (pukul 19.00 – 19.45 Wib) di Trans TV.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

GRAND FINAL MISS CELEBRITY 2008 : Pemenangnya di luar Dugaan Saya

Akhirnya pergelaran Grand Final Miss Celebrity 2008 yang berlangsung tadi malam (Jumat, 21 November 2008 – pukul 21.15–23.45 Wib) menobatkan Stevani Nepa sebagai pemenangnya. Acara puncak yang ditayangkan secara live oleh SCTV tersebut memang sudah saya tunggu-tunggu. Penasaran saja dengan konsep dan sistem penjuriannya.

Berdasarkan hasil pantauan atau pengamatan saya semalam, penjurian mengacu kepada 4 hal, yaitu :

- performa saat berjalan di catwalk (di hadapan para audience).
- performa saat tampil sebagai presenter dalam sebuah infotainment.
- performa saat berakting sebagai pemain sinetron, dan
- performa saat menjawab pertanyaan dari host serta juri (kemampuan public speaking).

Jalannnya penjurian terbagi dalam 3 saringan, yaitu :

- penentuan yang masuk 10 besar, dimana pada tahap ini penilaian mengacu kepada performa setiap peserta saat berjalan di catwalk.

- penentuan yang masuk 5 besar, dimana pada tahap ini penilaian mengacu kepada performa setiap peserta saat tampil di babak 10 besar sebelumnya (saat tampil sebagai presenter dan berakting).

- dan penentuan sang juara, dimana pada tahap ini penilaian mengacu kepada performa setiap peserta saat tampil di babak 5 besar sebelumnya (saat menjawab pertanyaan dari para juri).

Jujur saja, sang juara Miss Celebrity 2008 ternyata di luar dugaan saya sama sekali (yang
lebih memprediksikan salah satu wakil dari Jakarta atau dari Bandung sebagai pemenangnya). Jika mengacu kepada performa saat tampil di catwalk dan sebagai presenter, sebenarnya Corry (Jakarta) lebih bagus daripada Stevani Nepa (sang juara dari Manado). Lebih bagusnya yaitu dari segi face dan ekspresi di kamera. Saat tampil sebagai presenter pun, Corry terlihat lebih baik menurut saya (dari sisi artikulasi, ekspresi, intonasi, aksen, penekanan kata, dan tingkat ketenangan).

Namun keunggulan Stevani (di mata para juri) mungkin terletak pada kemampuan aktingnya dan juga pada jawaban yang diberikannya saat mendapatkan pertanyaan dari juri+host. Mungkin juga pada orisinilitas gaya/pembawaannya saat tampil sebagai presenter.

Di sisi lain, para juri yang terlibat bukanlah orang sembarangan karena sangat berkompeten di dunia hiburan. Sebut saja Anjasmara (aktor terkenal papan atas), Tamara Bleszinsky (aktris sinetron yang sangat laris dengan bayaran mahal), Dedy Mizwar dan Hanung Bramantyo (sutradara jempolan), Darwis Triadi (fotografer senior), Nadine Chandrawinata (mantan Putri Indonesia), hingga pimpinan PH ternama (Manoj Punjabi – bosnya MD Entertainment).

Saya pribadi berharap agar ajang Miss Celebrity ini bukan sekedar latah-latahan dengan beberapa kontes mis-misan serupa yang telah lebih dahulu hadir. Jangan sampai kontes semacam ini hanya dijadikan kedok untuk kepentingan komersil pihak penyelenggara dan para sponsornya.

Terlihat sekali masih ada kepentingan seperti itu, salah satunya dari adanya polling via SMS pemium (berkedok kuis berhadiah 20 juta untuk 20 orang pemenang).

Tapi apa pun itu, Miss Celebrity 2008 ini ibarat pembuka jalan bagi para calon artis untuk memasuki dan berkecimpung di dunia entertainment (sebagai pelaku seni di dalamnya).

Saya pribadi tetap menilai positif kontes-kontes semacam ini, walau ada 'suara sumbang' yang menganggap kontes-kontes seperti ini hanya mengekspos fisik wanita. Kalau cuma menilai fisik atau kecantikan, buat apa ada penilaian kemampuan akting dan presenter? Buat apa pula ada penilaian kemampuan public speaking?

Toh, selama proses seleksi dan workshop (karantina), para peserta dibekali dengan berbagai ilmu seputar modelling, akting, public speaking, dan presentasi.

Jadi, saya kira tidak perlu terlalu serius mencela kontes-kontes semacam ini. Anggap saja sebagai hiburan dan sebuah permainan.

Ada yang berbeda pendapat?

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

Kuntilanak 3 : Dua Kata untuk Film Ini, Keren Banget!

kuntilanak 3

Bagi anda yang merasa alergi dengan film horor nasional, coba tonton dulu film ini. Jangan buru-buru apriori dengan judulnya atau terlalu menggeneralisir bahwa film horor Indonesia tidak ada yang berkualitas. Kuntilanak 3 ini adalah pengecualian.

Sejujurnya saya rada telat nonton film horor terbaru Rizal Mantovani ini. Maklum, nunggu tayang di tv (nonton gratisan) he..he..he. Apalagi di kota saya bioskopnya udah lama tutup. Sebenarnya sih banyak banget rental VCD film. Namun entah kenapa, VCD film ini sulit sekali saya temukan.

Untunglah pada malam Jumat kemarin (31-10-2008) Indosiar sudi memutarnya (pada pukul 22.10-00.10 Wib). Wah, saya pun tidak melewatkannya. Penasaran juga karena saya telah nonton seri 1 dan 2 sebelumnya. Lalu, sebagus apakah seri ke-3 ini?

Saya berani bilang, bahwa seri ke-3 ini jauh lebih baik, terutama dari sisi alur ceritanya yang sangat pure (mengalir dengan alami), sekaligus sangat tidak mudah ditebak. Malahan bikin penasaran ingin terus mengikuti ceritanya sampai ending. Pokoknya nggak bikin bosen deh. Ini baru film namanya! Tidak seperti kebanyakan film horor Indonesia lainnya (terutama bikinan Koya Pagayo) yang sering bikin boring penonton karena banyak scene setipe yang terus diulang-ulang.

Beda sekali dengan Kuntilanak 3 ini yang dibesut oleh Rizal Mantovani. Di film horor terbarunya ini, Rizal memperlihatkan kepiawaiannya dalam merangkai alur demi alur, sehingga menjadi sebuah tontonan yang pure dan menarik untuk terus diikuti.

Penggarapan scene-scene menyeramkan juga terlihat semakin berkualitas. Yang pasti, sangat
kreatif dan artistik! Banyak pula kejutan yang dihadirkan oleh Rizal dalam setiap alur ceritanya. Itu membuat alurnya menjadi terasa menarik dan variatif. Yang paling keren menurut saya yaitu adegan pada bagian ending cerita, dimana punggung kuntilanak pecah dan mengeluarkan sesosok makhluk yang amat mengerikan wujudnya. Sumpah deh, adegan tersebut keren abis!

Lokasi syuting yang dipilih juga terlihat masih alami, yaitu hutan rimba yang masih cukup liar.
Terlebih lagi teknik pemunculan kuntilanak-kuntilanaknya yang tampak cukup variatif dan cantik.

Untuk akting para pemain, rata-rata tidak mengecewakan. Tidak seperti film-film horor ABG yang kebanyakan Cuma mengumbar dialog-dialog kasar atau lelucon hambar. Di Kuntilanak 3 ini, akting dialog para pemainnya terasa lebih dewasa, santai, dan natural. Semuanya terasa wajar. Poin plus untuk Julie Estelle dan Mandala (presenter acara "Termehek-Mehek di Trans TV). Keduanya tampil paling menonjol. Menyusul Imelda Therine.

Di sisi lain, musik score yang digarap oleh Andi Rianto juga keren dan cukup sinergis dengan
scene-scene yang diiringinya.

Kesimpulan saya, Kuntilanak 3 ini punya kekuatan dari sisi cerita dan visualisasi berbagi scene menyeramkannya. Buat Koya Pagayo (alias Nayato) yang sering bikin film horor nggak bermutu, belajar dong dari film bikinan Rizal ini!

Buat Rizal Mantovani, salut dan angkat 2 jempol! Pertahankan dan kalau bisa sih lebih bagus lagi untuk film-film horor selanjutnya. Saya tunggu karya-karya bermutu anda berikutnya.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

AFGAN : Penyanyi Solo Paling Fenomenal 2008

afganSebagai pendatang baru di dunia musik, Afgan sudah punya basic atau modal dasar yang sangat baik. Apalagi kalau bukan karakter suaranya yang sangat khas. Selain itu, suaranya juga punya soul yang sangat kuat. Itulah nilai jual utamanya, selain tampang yang bisa membuat para cewek (khususnya abg) histeris :-) Ya, penampilan fisik Afgan memang sangat mendukung karirnya sebagai seorang entertainer.


Namun suara yang khas dan tampang yang menarik belumlah cukup. Afgan harus meningkatkan teknik bernyanyinya, terutama dari sisi pengaturan dinamika suara dan emosi saat bernyanyi. Itulah salah satu kelemahan utamanya yang mesti segera dibenahi. Beberapa lagu yang dinyanyikannya (dalam album perdananya) masih terdengar agak monoton. Afgan masih terkesan hanya mengandalkan kekuatan karakter vokalnya.

Lama-lama orang bisa jenuh atau boring kalau mendengar cara bernyanyi yang monoton. Tapi saya maklum, karena Afgan masih tergolong pendatang baru dan belum terlalu matang dalam urusan olah vokal. Ia harus bisa membuktikan, bahwa ia juga mampu meng-enak-kan lagu lain yang dinyanyikannya (selain duo hits “Terima Kasih Cinta” dan “Sadis”).

Jika harus mencari contoh, Tompi dan Marcell mungkin bisa dijadikan rujukan bagi afgan bagaimana cara mengatur dinamika suara dan emosi (feel) saat bernyanyi. Kedua penyanyi solo yang lebih senior tersebut tak hanya mengandalkan karakter suaranya yang khas, tapi juga mampu memberikan suatu dinamika pada suara dan emosinya saat bernyanyi.


Untuk pillihan jalur musik yang tepat, pop dan R&B rasanya memang sangat cocok buat Afgan. Karakter suaranya mengingatkan saya dengan tipikal suara para penyanyi R&B negro asal Amerika (yang terkenal dengan suara emasnya). Di Indonesia sendiri, memang sangat jarang penyanyi yang punya karakter suara seperti itu. Mungkin cuma Afgan, Marcell, dan salah satu vokalis grup Tangga yang memiliki soul R&B sangat kuat pada suaranya.


Itulah mengapa Afgan dengan cepat bisa masuk dan diterima oleh pasar musik tanah air. Ia masuk pada sebuah celah yang belum begitu ketat persaingannya. Tidak mengherankan jika akhirnya ia sangat sering diundang untuk mengisi berbagai acara live musik di hampir semua stasiun televisi swasta nasional. Dengan kata lain, job manggungnya sangat padat.


Untuk kostum dan performa live-nya


Menurut saya sudah sangat pas dan tidak perlu diubah. Kostum yang rapi (baik casual, sporty, maupun elegan) sangat cocok untuk image Afgan sebagai penyanyi metropolis. Seperti halnya dengan penampilan kostum Yovie & Nuno. Untuk aksi panggung, Afgan memang tidak perlu banyak bergerak. Cukup berjalan dengan santai dan melakukan blocking area panggung. Itu sudah sangat pas bagi karakter suara dan jenis tempo musik yang menjadi ciri umum lagu-lagunya.


Lebih dari itu, kesan low profile harus tetap dipertahankan oleh Afgan agar tetap disukai oleh para penggemar. Di luar itu, masih perlu pembuktian lebih lanjut, seberapa lama Afgan mampu bertahan di dunia musik Indonesia. Banyak kasus terjadi, penyanyi yang dengan cepat melambung biasanya dengan cepat pula jatuh. Lalu akhirnya menghilang dari peredaran dan tak terdengar lagi kabarnya.


Semoga hal itu tidak terjadi pada diri Afgan. Bagaimanapun juga, ia adalah salah satu aset berharga bagi dunia musik tanah air. Maju terus Afgan!

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

 

kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top