26 May 2009

26 May 2009

Plus Minus Blogging by SEO Oriented

seo orientedSeperti kita ketahui, ada 2 sumber utama datangnya para pengunjung ke sebuah blog, yaitu dari search engine dan dari sebuah link yang terdapat di suatu website atau blog lain. Nah, pertanyaan saya, untuk blog yang relatif masih baru (belum begitu populer atau masih rendah trafik hariannya), pengunjung dari manakah yang sebaiknya lebih difokuskan untuk dibidik?

Jika jawabnya adalah pengunjung dari search engine, maka mau tidak mau sang pemilik blog baru tersebut harus lebih fokus atau lebih mengutamakan memposting konten-konten yang ‘berbau’ SEO oriented atau nembak keyword. Konsekuensinya, sang pemilik blog tersebut harus lebih memfokuskan waktu bloggingnya untuk belajar ilmu SEO dan mempraktekkan secara konsisten serta maksimal hasil pembelajaran yang telah diperoleh.

Imbasnya, sang blogger yang bertipe SEO oriented tersebut hampir bisa dipastikan kurang punya waktu untuk menjalin hubungan dengan sesama blogger. Kalaupun ada waktu, ia cenderung untuk pilih-pilih ketika ingin berkomentar pada blog lain. Waktunya pun lebih terkuras dan lebih tercurah untuk mencari informasi-informasi hangat sebagai ide/bahan untuk diposting di blognya. Mungkin juga waktunya akan sangat terkuras untuk men-SEO-kan artikel-artikel yang akan dipostingnya.

Dan hasilnya, berkat ketekunan dan kekuatan fokus, blogger bertipe SEO oriented ini umumnya berhasil membangun trafik blognya dalam waktu singkat. Bahkan pada akhirnya ia hampir selalu sukses nembak keyword (menjadi juara SEO) setiap kali memposting sesuatu yang sedang hangat.

Imbasnya, trafik harian dari blog yang SEO oriented ini umumnya relatif lebih tinggi daripada trafik harian blog-blog yang lebih mengutamakan jalinan relasi antar sesama blogger. Tapi ini cuma hasil pengamatan sementara saya loh. Bisa saja rekan-rekan menemukan fakta yang berbeda.

Jika diamati, ini dia ciri-ciri blog/blogger penganut SEO oriented (menomorduakan relationship dengan sesama blogger) :

1. Mayoritas konten blog biasanya hasil comot sana comot sini.
2. Banyak sekali konten yang ternyata hasil copas (sebagian adalah hasil modifikasi ringan).
3. Jarang sekali memberikan komentar pada blog lain.
4. Relasi antar sesama blogger biasanya sempit (pilih-pilih).
5. Punya trafik harian yang cukup tinggi (rata-rata mencapai ratusan bahkan ribuan pengunjung per hari)
6. Jarang sekali menulis/memposting konten berjenis ulasan untuk berbagi dengan sesama blogger.
7. Kemampuan menulis cenderung buruk. Namun kemampuan modifikasi cenderung baik.
8. Biasanya berupa blog download MP3 gratis.
9. Apa lagi ya?

Ciri-ciri di atas tidak mutlak. Bisa saja cuma memiliki satu atau separuhnya. Dan bisa pula kurang sesuai fakta secara keseluruhan. Toh, ciri-ciri di atas cuma berdasarkan hasil pengamatan pribadi saya yang masih terbatas. Dan berdasarkan ciri-ciri tersebut, saya kira anda sudah tahu sisi negatif dari blogging by SEO oriented.

Nah, sedangkan sisi positifnya telah saya ungkapkan pada paragraf ke-4 dan ke-5 di atas. Intinya, menjadi blogger yang lebih mengutamakan pengunjung dari search engine (alias SEO oriented) punya nilai plus dan nilai minus tersendiri.

Untuk blogger pemula (yang trafik blognya masih rendah), mana yang harus lebih didahulukan? Apakah mengutamakan jalinan relasi dengan sesama blogger terlebih dahulu atau lebih memfokuskan diri untuk membidik pengunjung dari search engine? Atau malah keduanya harus sejalan? Dan apa sih asyiknya belajar SEO?


Saya tunggu komentar rekan-rekan sekalian.

23 May 2009

23 May 2009

Kontes Review, Benarkah Lebih Mendidik daripada Kontes SEO?

kontes reviewMenyambung artikel sebelumnya tentang nilai edukasi kontes SEO buat blogger, kali ini saya akan sedikit mengupas plus minus kontes lainnya yang pernah diadakan di dunia blogsphere. Tak lain adalah kontes review, yaitu suatu kontes yang mensyaratkan setiap pesertanya untuk menulis/memposting sebuah artikel berupa review (opini atau tinjauan terhadap suatu obyek/tema tertentu).

Kalau saya boleh berpendapat, menurut saya inilah kontes yang jauh lebih edukatif atau lebih banyak muatan pendidikannya ketimbang kontes SEO. Dengan syarat, penilaian lebih dititikberatkan pada kualitas artikel dan nilai manfaatnya untuk para pembaca. Termasuk dari sisi orisinilitas isi dan tata bahasanya.

Namun kalau kriteria penilaian memasukkan jumlah komentar sebagai salah satu syarat untuk jadi pemenang, pada akhirnya tujuan atau nilai edukasi kontes review tersebut bisa menjadi kabur.

Akan lebih baik menurut saya jika kriteria penilaian murni didasarkan pada kualitas materi artikel yang dibuat peserta. Termasuk cara penyajian atau pengemasan artikel tersebut. Dengan demikian, peserta akan lebih terpacu untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Termasuk kreatifitasnya.

Dan untuk meminimalisir terjadinya pencurian ide redaksi kalimat artikel atau plagiator antar sesama peserta, sebaiknya karya tulis (artikel) peserta langsung dikirimkan lewat email dan baru akan dpublish jika dinyatakan sebagai pemenang.

Namun jika harus diposting di blog, saya kira tetap punya nilai manfaat. Di antaranya, peserta maupun blogger lain yang tidak menjadi peserta bisa langsung melihat/membaca artikel kontes untuk menilai langsung kualitasnya. Termasuk untuk ikut mengomentarinya jika merasa perlu berkomentar.

Kalaupun ada kriteria penilaian yang menjadikan jumlah komentar sebagai salah satu nilai tambah, saya rasa tetap punya sisi positifnya. Peserta kontes jadi termotivasi/terdorong untuk menjalin silaturahmi lebih luas lagi dengan blogger lain (walaupun mungkin motif dasarnya untuk memburu backlink alias komentar buat postingan kontesnya)

Ya… selalu ada sisi positif dan negatif dari suatu kontes, apa pun jenis kontes tersebut. Tinggal bagaimana pesertanya saja dalam memaknainya.


Sebagai pelengkap, ini dia sisi positif dari kontes review bagi peserta :

(1) Mendorong peserta untuk lebih kritis terhadap sesuatu (terutama terhadap obyek atau tema kontes) yang akan ditulis.

(2) Mendorong peserta untuk lebih kreatif dalam menulis dan mengemas tulisannya.

(3) Mendorong peserta untuk menulis sebaik mungkin (dengan tulisan yang benar-benar ‘berisi’), tanpa harus terbebani oleh motivasi untuk men-SEO-kan link artikelnya.

(4) Mendorong peserta menulis apa adanya tanpa direcoki oleh trik-trik SEO yang berpotensi melunturkan idealisme menulisnya.

(5) Mendorong peserta untuk saling belajar dari artikel review milik peserta lain yang telah diposting di blognya.

Nah, sedangkan sisi negatifnya sudah saya jelaskan sedikit dalam beberapa paragraf sebelumnya. Itu pun tergantung pada kriteria penilaian yang ditentukan oleh si penyelenggara.

Ada yang mau menambahkan lagi? Setujukah anda kalau kontes review dianggap lebih mendidik daripada kontes SEO? Ada pendapat lain mengenai sisi positif/negatif dari kontes review?


Silakan tulis komentar anda pada kolom komentar di bawah ini. Siapa tau komentar anda bisa menjadi input (masukan) yang bagus untuk saya dan pembaca lainnya.

Pertanyaan terakhir, Apa Sih Asyiknya Belajar SEO?

20 May 2009

20 May 2009

Kontes SEO, Adakah Nilai Edukasinya buat Blogger?

Hmm, judul yang sengaja saya buat di atas sebenarnya ingin menggugah rekan-rekan blogger yang selama ini begitu semangat mengikuti kontes SEO. Yaitu suatu kontes atau perlombaan di dunia blogsphere yang menjadikan keyword tertentu untuk dioptimasi semaksimal mungkin, sehingga akhirnya menjadi jawara di halaman pertama search engine (memperoleh SERP yang bagus).

Masih segar dalam ingatan kita akan kontes SEO "Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009" (yang berakhir pada 30 April 2009 lalu). Mungkin itulah kontes SEO terbesar yang pernah diadakan di dunia blogsphere Indonesia. Belakangan, muncul kontes serupa yang mengusung keyword “Tukang Nggame”, “Wisata SEO Sadau” dan juga “Belajar SEO Para Pemula”.

Dari fenomena itu, saya ingin bertanya kepada rekan-rekan blogger sekalian, adakah nilai edukasi dari kontes-kontes SEO yang selama ini sudah pernah diselenggarakan? Jika memang ada, apa saja nilai pendidikannya, khususnya buat blogger?


Kalau saya harus menjawab, tentu saja ada nilai edukasinya, baik itu bagi si peserta maupun bagi yang tidak mengikutinya (alias sebatas penonton). Dengan adanya kontes SEO, setidaknya kita lebih punya gambaran nyata akan hasil penerapan ilmu SEO yang sebenarnya (bukan sekedar teori). Terutama dengan tingkat persaingan yang sangat ketat, alias banyak kompetitor.

Kita jadi tahu faktor-faktor apa saja yang paling berpengaruh dalam menentukan SERP (Search Engine Ranking Position) jika suatu keyword yang spesifik dibidik secara massal. Mungkin itulah salah satu asyiknya belajar SEO.

Saya beri contoh pada hasil akhir kontes SEO Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 yang lalu. Ternyata faktor paling berpengaruh dalam SERP adalah nama domain (selain backlink dan struktur meta tag). Saya kira anda semua setuju mengenai kesimpulan itu.

Ups.. Cuma sebatas itukah nilai edukasi dari kontes SEO?

Ya..! Itu kalau kita menjadikan hasil kontes Kampanye Damai sebagai referensi atau acuan yang valid. Selebihnya, saya rasa tidak ada nilai manfaat atau nilai pendidikannya, selain hanya membuat blogger yang mengikuti kontes tersebut terjebak untuk menulis artikel/postingan yang sama sekali tidak ada nilainya.

Bagaimana mau dikatakan bernilai, kalau isi atau redaksi kalimat dalam postingannya cuma berupa kumpulan keyword yang dicetak tebal, digarisbawahi, dicetak miring, dan diberi warna berbeda. Belum lagi tata bahasa yang sangat kacau, aneh, dipaksakan, dan sangat tidak enak untuk dijadikan sebagai bacaan. Sebab maknanya cenderung rancu. Ditambah dengan penyisipan banyak link inbound yang cenderung berlebihan.

Efek negatif lainnya, peserta jadi menghambur-hamburkan waktu dan biaya internetannya untuk memburu backlink (demi menaikkan rangking atau posisi artikelnya di mesin pencari). Dan di sisi lain, meninggalkan/mengesampingkan aktivitas blogging lainnya yang jauh lebih penting.

Bahkan akhirnya peserta kontes jadi terdorong untuk memburu backlink dengan cara-cara kurang etis, seperti penggunaan anchor teks (nama pengomentar) yang berupa keyword kontes dan link url postingan kontesnya.

Namun jika akhirnya menjadi pemenang kontes (minimal masuk 5 besar), maka blog/website si peserta tentu saja akan kebanjiran trafik. Tapi kalau blognya sekedar dibuat untuk ikutan kontes SEO, pada akhirnya tidak akan berguna juga menurut saya. Jika demikian kenyataannya, keikutsertaan pada kontes pun sekedar memburu hadiah atau gengsi semata (tanpa punya manfaat jangka panjang).

Ada yang punya pendapat berbeda? Atau malah setuju dengan pendapat saya? Silakan keluarkan uneg-uneg anda pada kolom komentar di bawah ini.

(nantikan ulasan selanjutnya tentang kontes review dan plus-minusnya)

18 May 2009

18 May 2009

5 Manfaat Menulis Konten yang Unik dan Orisinil di Blog Anda

Saat ini blog sudah menjadi salah satu sarana aktualisasi diri yang paling banyak diminati. Dengan segala kemudahan yang dimiliki blog, kita bebas mempublikasikan berbagai pengalaman maupun pemikiran pribadi kita. Cukup beberapa kali klik saja, tulisan kita sudah siap untuk dibaca oleh banyak orang.

17 May 2009

17 May 2009

Grand Final IMA 2009 : LASKAR PELANGI Borong Penghargaan


Malam puncak pergelaran IMA (Indonesian Movie Awards) 2009 akhirnya menobatkan 12 pemenang. Dalam babak grand final yang berlangsung tadi malam (Sabtu, 16 Mei 2009) pukul 21.00 – 00.10 Wib di RCTI, film Laskar Pelangi akhirnya memborong 5 buah kategori penghargaan sebagai pemenangnya.

Tampil sebagai pembawa acara atau presenter yaitu trio Luna Maya, Raffi Ahmad, dan Ruben Onsu. Agak mengejutkan memang. Alias sangat di luar dugaan. Soalnya Ruben malah menggantikan Olga Syahputra yang biasanya setia mendampingi Luna dan Raffi. Padahal, santer digosipkan bahwa antara Ruben dan Olga terjadi ‘perang dingin’ alias persaingan sengit. Kenapa Ruben malah mengantikan Olga dan menjadi bagian dari Luna dan Raffi? Oh my God… Benar-benar surprise deh

Tapi saya lihat, tadi malam Ruben tampil sangat baik saat menjadi salah satu presenter malam puncak IMA 2009. Keputusan untuk memilih Ruben sebagai pengganti Olga memang sangat tepat. Ruben terlihat lebih profesional sebagai MC. Malah jauh lebih bagus daripada Raffi Ahmad yang sebenarnya kurang cocok untuk mendampingi Luna Maya. So what gitu lho… Harusnya pendamping Luna tuh dipilih yang lebih berwibawa dan lebih cool (bukan Raffi yang terlihat lebay)

Sedangkan Luna semalam tampil sangat anggun dan terlihat mampu untuk sedikit keluar dari karakternya sebagai host Dahsyat. Itu baru profesional namanya. Yang paling saya sukai dari penampilan Luna semalam ialah tatanan rambutnya. Wow, bikin parasnya jadi gimanaa gitu.. Gaunnya juga bagus banget.

Ok deh, ini dia daftar pemenang IMA 2009 (Indonesian Movie Awards) yang berhasil saya catat dari hasil menonton hingga selesai semalam. Kesemuanya memperoleh Piala Layar Emas.

Pemeran Pembantu Wanita Terfavorit :
NASYA ABIGAIL (Perempuan Berkalung Sorban)

Pendatang Baru Pria Terbaik :
JUDIKA (Si Jago Merah)

Pendatang Baru Wanita Terbaik :
LAURA BASUKI (Gara-Gara Bola)

Pemeran Utama Pria Terfavorit :
SOPHAN SOPHIAN (Love)

Pemeran Utama Wanita Terfavorit :
REVALINA S. TEMAT (Perempuan Berkalung Sorban)

Pendatang Baru Pria Terfavorit :
ZULFANI (Laskar Pelangi)

Pendatang Baru Wanita Terfavorit :
LAURA BASUKI (Gara-Gara Bola)

Soundtrack Terfavorit :
LASKAR PELANGI

Pemeran Pembantu Pria Terbaik :
LUKMAN SARDI (Kawin Kontrak Lagi)

Pemeran Utama Wanita Terbaik :
CUT MINI (Laskar Pelangi)

Pemeran Utama Pria Terbaik :
IKRANAGARA (Laskar Pelangi)

Film Terfavorit :
LASKAR PELANGI


Pengisi acara : Ungu, The Changcuters, Peterpan, Joe Sandy, Nidji, ST 12, Limbad, Debo dan Patton Icil.

Pembaca nominasi dan pemenang : Sandra Dewi – Revalina S. Temat, Widyawati – Marshanda, Mira Lesmana – anak-anak Laskar Pelangi, Carissa Putri – Rianti Cartwright, Richard Kevin – Lukman Sardi, Alice Norin – para pemain Ketika Cinta Bertasbih, Marcell Chandrawinata – Kinaryosih, Bunga Citra Lestari, Edric Chandra – Tika Putri, Hanung Bramantyo – Wulan Guritno, Cornellia Agatha – Fauzi Baadilla, Slamet Rahardjo – Cut Mini.

Beberapa hal menarik :

>> Kehadiran wakil presiden Jusuf Kalla.
Dalam sambutan singkatnya, JK memberikan apresiasi yang sangat baik pada para insan perfilman tanah air dan berharap agar makin kreatif (sehingga bisa memajukan dunia perfilman Indonesia).

>> Penampilan duo finalis The Master, yaitu Joe Sandy dan Limbad.
Yang terlihat lebih memukau adalah penampilan Master Joe Sandy. Klimaks permainannya sangat terasa ketika ia memperlihatkan catatan berupa impiannya untuk dibuatkan film oleh sutradara Hanung Bramantyo. Judul filmnya : The Master – Misteri di Balik Kacamata, dana pembuatan : 5 milyar, pemeran utama : Joe Sandy, durasi : 1,5 jam, lama pembuatan : 2 bulan, pemeran utama wanita : Carissa Putri dan Rianti Cartwright, launching : Januari 2010.

Itu sama persis dengan catatan yang ditulis pada papan di hadapan para penonton (lewat hasil interaksi atau tanya-jawab dengan para penonton dan juga Hanung Bramantyo). Namun sepertinya sudah ada rekayasa antara Joe dan Hanung. Dengan penonton pun, tampaknya Joe cuma menjadikannya sebagai penutup kesan rekayasa.

Sedangkan penampilan Limbad semalam malah terasa sangat tidak ok Ternyata (menurut saya) itu karena musik pengiring aksinya bukan musik seperti ia biasa tampil di acara The Master. Musik latar pengiring aksinya semalam sangat tidak cocok. Efeknya, aura mistis pun sangat tidak terasa. Ada yang hilang dari aksi Limbad semalam! Tidak ada nuansa mengerikan atau theaterical sama sekali. Ternyata, tanpa musik latar mistis andalannya pada acara The Master, Limbad tidak ada apa-apanya


Masukan untuk panitia Grand Final IMA 2009 :

Sebaiknya tidak terlalu banyak mengundang bintang tamu untuk mengisi acara. Apalagi semua bintang tamu pengisi acara ternyata adalah grup band. Why? Selain memperpanjang durasi, ini kan ajang film, bukan ajang musik! Harusnya di sela-sela acara atau di sela-sela pembacaan nominasi, panitia memutarkan perjalanan perfilman Indonesia misalnya. Bisa juga memutarkan proses-proses pembuatan sebuah film, wawancara dengan para insan film, cuplikan video-video atau adegan di film, parodi berbagai film, dan sebagainya. Pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan film Indonesia deh.

***

Akhirnya, selamat kepada semua pemenang yang telah memperoleh Piala Layar Emas. Semoga bisa menjadi pelecut semangat untuk lebih baik lagi dalam berkarya. Dan semoga perfilman Indonesia semakin berkembang olehnya. Punya komentar tentang hasil IMA (Indonesian Movie Awards) 2009 semalam? Silakan tulis komentar anda pada kolom di bawah ini.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

13 May 2009

13 May 2009

Antara Rossa dan Agnes Monica, Lebih Dahsyat Mana?

Siapakah penyanyi solo wanita Indonesia yang lagu-lagunya banyak menjadi hits dan disukai masyarakat? Kalau boleh menyebut 2 nama saja, maka saya tidak ragu-ragu menjawab Rossa dan Agnes Monica-lah orangnya (untuk kategori penyanyi pop solo masa kini).

Mereka berdua layak masuk jajaran penyanyi solo tersukses Indonesia. Tak hanya populer, mereka juga punya kualitas. Dalam arti, mereka memang benar-benar ‘bisa nyanyi’ (bukan sekedar jual sensasi). Apalagi aji mumpung. Nggak banget deh

Nah, pada ulasan kali ini saya coba menilai perbandingan antara keduanya (Rossa dan Agnes Monica). Tak lebih sebagai wujud apresiasi dan kecintaan saya terhadap dunia musik tanah air, khususnya jalur pop.

rossa>>> Rossa

Teknik vokal : bisa dibilang sangat berkualitas. Buktinya, mayoritas lagu-lagu hits yang dinyanyikannya adalah lagu-lagu dengan tingkat kesulitan cukup tinggi. Tidak sembarangan penyanyi bisa membawakan dengan sangat baik lagu-lagu seperti : Nada-Nada Cinta, Tegar, Kini, Terlalu Cinta, Ayat-Ayat Cinta, Hati yang Kau Sakiti, atau Terlanjur Cinta (feat Pasha Ungu). Semua lagu tersebut memerlukan teknik vokal yang prima, pengaturan dinamika yang baik, dan pemberian feel yang dalam. Dan Rossa mampu melakukannya dengan sangat baik. Salut! tepuktangan

Performa live : suara Rossa saat tampil menyanyi secara live sama persis dengan suaranya di kaset (saat rekaman). Artinya, ia memang benar-benar tidak mengandalkan sound-effect demi ‘membaguskan’ suaranya saat rekaman. Tidak seperti beberapa penyanyi solo dan vokalis band yang saat di kaset terdengar begitu merdu, namun ketika tampil secara live malah kurang bagus suaranya (jauh dari suara di kaset). Dan Rossa tidak seperti itu. Suaranya benar-benar natural saat rekaman.
rossa
Selain itu, Rossa juga selalu terlihat total saat tampil secara live. Ia selalu berusaha mempersembahkan kemampuan terbaiknya, walaupun lagu yang diminta untuk dinyanyikan sudah terlalu sering dibawakan. Tak seperti beberapa penyanyi solo lain yang ketika membawakan lagu hitsnya suka terlihat jenuh dan bahkan malah terasa agak terpaksa (kurang sepenuh hati).

Kelebihan lain dari performa live Rossa ialah pada kemampuannya dalam menjalin kontak dengan audiens. Ia selalu berusaha untuk tersenyum kepada para penonton dan juga pemirsa di rumah (ketika diliput oleh kamera tv). Buat saya itu cukup penting agar sang penyanyi tidak terlalu asyik dengan dirinya sendiri saat bernyanyi. Bagaimana pun juga, kontak dengan penonton itu penting. Dan salah satu cara terampuhnya yaitu dengan menebar senyum di sela-sela nyanyian (sambil melakukan eye-contact).

Selengkapnya pendapat saya mengenai Rossa bisa anda baca pada artikel Konser Tunggal Rossa dan Kelayakan Sebagai Diva Musik Pop Indonesia.


agnes monica>>> Agnes Monica

Teknik vokal : bisa pula dibilang sangat berkualitas. Orang boleh saja kurang menyukai penyanyi bertubuh langsing ini. Namun buat saya pribadi, teknik vokal yang dimiliki Agnes Monica tergolong sangat baik. Kalau kurang bagus, buat apa beberapa pencipta lagu ternama (seperti Melly Goeslaw, Ahmad Dhani, dan Dewiq) mempercayakan banyak lagu dengan tingkat kesulitan tinggi untuk dinyanyikannya?

Contohnya lagu-lagu seperti : Seputih Hati, Jera, Cinta Mati (feat Ahmad Dhani), Bilang Saja, Ku Tlah Jatuh Cinta, Tak Ada Logika, Bukan Milikmu Lagi, Cinta di Ujung Jalan, Tanpa Kekasihku, I’ll light a Candle (feat Keith Martin), Hanya Cinta yang Bisa (feat Titi DJ), Dan Takkan Mungkin, Matahariku, hingga hits terbarunya yang saat ini cukup populer, yaitu lagu berjudul Teruskanlah (ciptaan Dewiq).

Semua lagu tersebut memerlukan teknik vokal yang sempurna, pengaturan dinamika yang pas, dan penjiwaan yang mendalam. Dan Agnes mampu melakukannya dengan sangat total. Tidak sembarangan penyanyi solo yang bisa membawakan lagu-lagu di atas dengan sukses atau sebaik Agnes.

agnes monica
Dan sebagai bukti pengakuan terhadap kualitas vokalnya adalah berbagai award atau penghargaan dari berbagai ajang (seperti SCTV Music Awards, AMI Awards, Panasonic Awards, dan Dahsyatnya Awards). Dari semua ajang tersebut, rata-rata Agnes meraih predikat sebagai Penyanyi Solo Terbaik, Terfavorit, Paling Ngetop, dan Terdahsyat. Ya, bisa dibilang kalau Agnes adalah langganan juara di ajang-ajang musik bergengsi. Woow... tepuktangan

Layakkah? Saya kira memang cukup layak, walaupun pada ajang tertentu sebenarnya ada penyanyi lain yang lebih layak karena lebih populer dan lebih berprestasi pada saat ajang itu digelar.
agnes monica
Performa live : dari sisi aksi panggung, Agnes identik dengan iringan penari latar dan koreografi ala Britney Spears yang memukau. Banyak yang menyukai dan memuji aksinya itu. Banyak pula yang mencaci dan tidak suka. Saya ambil jalan tengah saja. Berhubung banyak lagu Agnes yang beraliran pop R&B (yang berirama dance), maka koreografi dan penari latar pun pada akhirnya diperlukan. Terkecuali pada lagu-lagu yang bernuansa pop murni. Jadi saya rasa, tidak ada yang perlu dipersoalkan pada aksi panggung Agnes yang identik dengan koreografi.

Kalau ada yang bilang penampilan live-nya cuma lip-sing, sah-sah saja. Pada sebagian aksinya, suara Agnes memang terkesan sudah disetting (suara kaset), dimana ia cuma fokus pada koreografi dan sekedar menggerak-gerakkan mulut (bernyanyi sekedarnya sesuai suaranya di kaset yang sedang diputar).

agnes monicaYang saya kritik adalah, Agnes terlalu sering terlihat asyik sendiri dengan dirinya saat bernyanyi secara live. Ia kurang punya kemampuan untuk menjalin kontak dengan para penonton dan pemirsa di rumah. Bahkan jarang sekali tersenyum (tak jauh beda dengan aksi-aksi live Dewi Persik). Itulah kekurangan performa live Agnes Monica dibandingkan dengan Rossa yang terlihat lebih piawai menjalin komunikasi dengan para penonton.

Toh menurut saya, sekali-sekali menebar senyuman itu cukup penting (walaupun lagu yang dinyanyikan bukan tergolong lagu ceria). Termasuk menjalin kontak mata dengan penonton dan juga pemirsa di rumah (lewat menatap kamera). Semoga ke depannya Agnes bisa memperbaiki hal itu.

>>> Kesimpulan akhir :

Antara Rossa dan Agnes Monica sebenarnya punya beberapa persamaan. Di antaranya :

  • Lagu-lagu mereka banyak menjadi hits (meledak di pasaran musik).
  • Lagu-lagu mereka banyak menjadi theme song atau soundtrack sinetron di televisi.
  • Lagu-lagu mereka sering sekali dibawakan di beberapa kontes menyanyi (seperti AFI, Indonesian Idol, dan MamaMia Show).
  • Sama-sama punya kemampuan yang baik untuk menyanyikan semua jenis tempo lagu (mulai dari yang bertempo lamban hingga bertempo sangat cepat). Lagu slow dan up-beat sama-sama 'dimakan' oleh keduanya
  • Sama-sama sering masuk nominasi pada berbagai ajang penghargaan bergengsi.
  • Sama-sama banyak dibesarkan oleh seorang pencipta lagu ternama, yaitu Melly Goeslaw.
  • Sama-sama punya banyak hits yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi untuk dinyanyikan.
  • Sama-sama mampu bertahan (bisa survive) dalam jangka waktu yang cukup panjang dan tetap mampu pula mempertahankan kualitas vokalnya.
  • Sama-sama punya karakter suara yang sangat khas.
  • Sama-sama pernah menggelar konser tunggal.

***

Nah, saya udah habis-habisan mengulas keduanya. Bagaimana menurut anda sendiri? Lebih dahsyat mana antara Rossa dan Agnes Monica? Anda lebih suka siapa? Silakan isi komentar anda pada kolom komentar di bawah ini.

Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

11 May 2009

11 May 2009

3 Jenis Konten yang Wajib Ada di Blog Anda (agar Aliran Trafik Tetap Terjaga)

Mempunyai pengunjung harian yang terus mengalir dan stabil dalam jumlahnya adalah dambaan sebagian blogger. Terlebih bagi yang ingin menjadikan blognya sebagai sarana monetisasi (yang bisa menghasilkan uang).

Masalahnya, banyak blog yang tak kunjung memperoleh trafik sesuai impiannya. Sekedar untuk stabil saja mungkin sulit dicapai. Kadang naik secara drastis usai blogwalking atau usai berhasil membidik keyword. Namun kadang malah jeblok ketika 2 hal tersebut tidak dilakukan dalam jangka waktu tertentu.


Namun kalau kita jeli, sebenarnya inti dari terjaganya aliran trafik yang stabil dan terus meningkat secara perlahan (tapi pasti) adalah terletak pada konten. Ya, content is king. Begitulah ungkapan umum di kalangan blogger yang sudah banyak kita ketahui. Tanpa konten yang benar-benar bisa mendatangkan dan memelihara aliran trafik, blog kita mungkin tidak akan kunjung berkembang.

Lalu, apa saja jenis konten yang harus dimiliki oleh blog kita agar aliran trafik bisa terus stabil dan bahkan bisa meningkat secara perlahan tapi pasti?

(1) Artikel Tutorial atau Tips Praktis Bergaya How To

Inilah jenis artikel yang paling berpotensi untuk menjadi penyumbang trafik abadi bagi blog kita. Sifatnya yang tidak lekang oleh waktu atau tidak mudah basi (alias selalu dibutuhkan banyak orang sampai kapan pun juga) menjadi nilai plus tersendiri bagi artikel berjenis bimbingan ini.

Sifatnya yang memecahkan suatu masalah, memberi jalan keluar (solusi), memberi petunjuk, dan mencerahkan-lah yang membuat konten jenis ini banyak dicari/dibutuhkan. Juga banyak disukai oleh pengunjung.

Oleh sebab itu, hukumnya wajib bagi anda untuk mengisi setidaknya 30 % dari total konten blog anda dengan jenis artikel ini. Jadi mulai sekarang, cobalah untuk berbagi sesuatu yang anda ketahui dan kuasai dengan baik. Akan lebih baik lagi jika sesuatu yang akan disharingkan tersebut didasarkan atas pengalaman pribadi kita sendiri. Alias telah kita praktekkan atau coba terlebih dulu sebelumnya. Minimal berdasarkan hasil pengamatan pribadi kita (bukan sekedar contekan atau salinan dari tulisan yang telah dimuat di media lain).

(2) Artikel Opini atau Analisis

Artikel berjenis ilmiah ini juga banyak disukai oleh pengunjung. Mengapa bisa demikian? Pada dasarnya manusia suka mendengarkan pembicaraan orang lain (sesamanya). Dalam hal ini, pembicaraan yang bersifat uraian pendapat terhadap sesuatu (terutama sesuatu yang diminatinya).

Ia punya sifat dasar selalu ingin tahu pendapat orang lain tentang sesuatu yang diminatinya. Dengan harapan, ia bisa memperoleh tambahan pemahaman atau pengayaan wawasan mengenai sesuatu tersebut. Tidak peduli, apakah pendapat orang lain tersebut sejalan dengan pemikirannya atau tidak.

Nah, dalam kaitannya dengan dunia blog atau dunia maya, membaca konten berjenis opini bisa menjadi jalan/cara untuk ‘mendengarkan’ pendapat orang lain mengenai sesuatu yang diminatinya tersebut. Di situlah letak daya tarik atau kekuatan artikel berjenis opini/analisis.

Bahkan artikel jenis ini juga berpotensi untuk memberikan trafik abadi bagi blog kita (walaupun mungkin tidak sekekal artikel tutorial). Dengan catatan, sesuatu yang diulas melalui opini tersebut tersebut bukanlah termasuk sesuatu yang cepat basi. Contoh konten berjenis opini ini yaitu review film, resensi buku, ulasan artis, ulasan musik, ulasan agama, ulasan politik, ulasan ekonomi, ulasan psikologi, ulasan seputar blogging, dan sebagainya. Silakan anda tambahkan sendiri yach…

(3) Artikel Berita atau Informasi Aktual

Nah, mungkin jenis konten inilah yang paling sering dikaitkan dengan istilah nembak keyword (bagi sebagian kalangan blogger). Sifatnya yang fresh atau sangat aktual membuat konten jenis ini sangat berpotensi untuk mengalirkan trafik melimpah dalam waktu sesaat. Bahkan bisa sampai 3 hari usai diposting.

Sebagian blogger mungkin tidak begitu berminat mengisi blognya dengan artikel seperti ini (terutama yang lebih senang menulis postingan berjenis opini, curhat, atau tutorial). Sah-sah saja. Namun jika blog anda belum punya banyak pengunjung setia atau pelanggan RSS feed (subscribers), maka menulis dan memposting konten aktual seperti ini tampaknya wajib anda lakukan (untuk lebih memberikan vitamin atau suntikan trafik bagi blog anda).

Namun sebaiknya jangan terjebak atau sekedar latah (ikut-ikutan) memposting sesuatu yang sedang hangat, padahal anda kurang menguasai topik tersebut. Atau bahkan sebenarnya kurang menyukai topiknya. Kalau tetap anda paksakan, tulisan anda bisa jadi hambar, terkesan dipaksakan, atau kurang punya nilai sesuatu bagi pembacanya.

Jadi, utamakanlah menulis/memposting artikel hangat yang benar-benar anda sukai topiknya dan juga (kalau bisa) anda kuasai dengan baik. Akan jauh lebih baik lagi jika anda juga menambahkan dengan beberapa opini pribadi anda soal topik/berita hangat tersebut. Jadi, tidak sekedar memberitakan atau menyajikan data dan fakta semata.

Contoh artikel berita atau informasi aktual (pada blog ini) yaitu Pemenang Bintang Pantene 2009, Daftar Pemenang Panasonic Awards 2009, Daftar Pemenang AMI Awards 2009, Hasil dan Juara Final The Master 8 Mei 2009, Daftar Pemenang Anugerah Planet musik 2009, Ulasan Film Ketika Cinta Bertasbih 2 dan sebagainya.

***

Nah, itulah 3 jenis konten yang wajib ada di blog kita agar aliran trafik tetap terjaga (tidak drop atau jeblok terlalu jauh). Syukur-syukur jika malah bisa terus meningkat oleh karenanya. Sebagai pelengkap, silakan baca juga artikel tentang 17 Jenis Postingan yang Layak Anda Ketahui.

09 May 2009

09 May 2009

Joe Sandy Babat Limbad di Final The Master (8 Mei 2009)


Siapakah yang akhirnya menjadi juara The Master di babak grand final yang ditayangkan RCTI semalam? Ternyata Joe Sandy lah yang menjadi jawara alias pemenangnya. Hasil akhir perolehan SMS yang diterimanya sedikit lebih unggul (53,08 %) dibandingkan dengan Limbad (46,92 %).



Sempat melibas sesaat dalam hal persentase dukungan via SMS, akhirnya Limbad harus bisa menerima kenyataan akhir, bahwa Joe lebih banyak memperoleh vote. Yach, namanya juga kompetisi. Harus ada yang kalah dan harus ada pula yang menang (walaupun keduanya sama-sama layak menjadi pemenang).

Menilai performa kedua finalis tadi malam, menurut saya sama kuat.

>>> Penampilan pertama Limbad :

Limbad lebih terlihat maksimal pada penampilan pertamanya ini saat berkolaborasi dengan Dedy Corbuzier. Bak sebuah adegan film, kolaborasi keduanya cukup mampu menghibur para penonton lewat ketegangan-ketegangan yang tersaji. Bahkan saya sebagai penonton bagaikan menyimak sebuah adegan duet superhero yang sedang berjuang keras untuk menyelamatkan nyawa seorang putri yang sedang disekap

Dedy yang berusaha mendeteksi letak keberadaan kunci dan mengendarai sebuah motor dalam keadaan mata tertutup. Di sisi lain, Limbad berjuang untuk melepaskan dirinya dari lilitan rantai besi. Lalu mendorong sebuah mobil dengan menggunakan kepalanya. Usai mendapatkan kunci, Dedy lalu membuka borgol yang membelenggu kedua tangan Limbad. Lalu Limbad pun segera berusaha membebaskan sang putri yang sedang terkurung di sebuah sangkar. Dan berhasil (sebelum bom waktu dalam sangkar tersebut meledak).

Jika dinilai, aksi kolaborasi antara Limbad dan Dedy tersebut boleh dibilang sempurna (tidak ada kekurangan berarti).

>>> Penampilan pertama Joe Sandy :

Nah, saat berkolaborasi dengan master Romy Raffael di sesi pertama ini, menurut saya aksi Joe masih agak kurang maksimal. Setuju dengan komentar Dedy, bahwa penampilan Joe bareng Romy sedikit membosankan (bikin ngantuk kata Dedy) Tapi kalau boleh jujur, menurut saya itu juga karena efek/pengaruh permainan hipnotis dari Romy yang membuat durasi terasa lama dan membosankan. Jadi, tidak adil kalau cuma menyalahkan Joe dalam hal ini. Toh, Joe Sandy sangat berhasil memprediksi secara akurat kedua angka yang dipikirkan oleh kedua penonton yang diberi sugesti oleh Romy.

Bahkan Joe juga sengaja menambah tingkat kerumitan permainannya, agar kesan rekayasa bisa lebih diminimalkan. Walau demikian, akhirnya Joe tetap berhasil menyelesaikan aksi pertamanya dengan sangat sukses. Bahkan klimaksnya sangat terasa ketika Joe menunjukkan hasil prediksinya yang sangat akurat di salah satu halaman harian Seputar Indonesia (koran SINDO) edisi Jumat 8 Mei 2009 (berupa kombinasi beberapa angka). Woow… tepuktangan

>>> Penampilan kedua Limbad :

Nah, di aksi keduanya ini, Limbad berkolaborasi dengan Romy Raffael. Penggabungan antara aliran faqir dan hipnotis ternyata cukup cocok juga. Romy bertugas memberikan sugesti pada alam bawah sadar seorang penonton, sehingga ia mampu melakukan hal-hal ekstrem yang biasa dilakukan oleh Limbad (seperti membengkokkan sebilah besi atau linggis). Termasuk kekebalan terhadap benda tajam (saat bagian tubuh tertentu ditusuk).

Dan itu terbukti pada diri si penonton wanita. Dalam kondisi terhipnotis, ia justru mampu membengkokkan sebuah linggis dan tidak merasakan sakit saat kulit tangannya ditusuk jarum.

Kalau mau dinilai, aksi kedua Limbad bersama Romy tersebut cukup mampu untuk membuktikan, bahwa aksi-aksi yang pernah ditunjukkan oleh Limbad selama ini di acara The Master bukanlah sebuah pertunjukkan Black Magic atau ilmu hitam. Tidak ada unsur mistis di situ. Buktinya, orang normal dan bahkan seorang wanita pun juga mampu melakukan aksi-aksi ekstrem yang pernah dilakukan oleh seorang Limbad (yang punya kemampuan lebih).

Secara keseluruhan, kolaborasi antara Limbad dan Romy di sesi ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Toh, dalam sesi ini Limbad seolah cuma berperan sebagai asisten Romy yang bertugas untuk menusuk tangan si penonton dengan jarum. Termasuk lebih membengkokkan besi/linggis yang sudah dibengkokkan sedikit oleh si penonton tersebut. Aksi itu kan sudah pernah dilakukan Limbad sebelumnya? Jadi, buat apa diulang lagi?

Intinya, yang menonjol dari permainan kedua Limbad ini cuma pesan yang ingin disampaikan di balik aksi kolaborasinya tersebut.

>>> Penampilan kedua Joe Sandy :

Nah, pada sesi inilah Joe Sandy benar-benar menunjukkan bintangnya. Bisa dibilang sangat sempurna. Kolaborasi antara ia dengan master Dedy Corbuzier ketika bermain catur (dalam keadaan sama-sama tertutup matanya) sungguh sebuah adegan langka. Betapa tidak, Dedy dan Joe secara bergantian menebak posisi langkah kuda secara akurat, sehingga setiap langkah tidak ada yang meleset atau keliru. Salut! tepuktangan

Kemampuan memori otak Dedy dan Joe boleh dibilang setara dalam hal ini. Dan itu diakui oleh Dedy ketika memberikan komentar atas aksi kolaborasinya bersama Joe tersebut. Romy pun tak kalah kagumnya dengan mengatakan sangat luar biasa. Padahal Romy terbilang jarang memberikan pujian untuk aksi Joe sebelumnya.

Penilaian akhir juri :

Secara jujur Dedy menilai bahwa baik itu Joe maupun Limbad sudah layak menyandang gelar sebagai The Master. Bahkan layak berdiri sejajar dengannya. Keduanya sudah bisa dibilang sebagai master di bidangnya masing-masing. Keputusan akhir tinggal menunggu hasil vote SMS dari para pemirsa.

Sesaat sebelum pengumuman hasil akhir, pembawa acara (yaitu Nico Siahaan) memberikan kesempatan pada kedua finalis untuk menyampaikan beberapa patah kata. Namun sayang, Limbad yang diminta untuk berbicara akhirnya cuma mengucapkan dua kata : “terima kasih”… (padahal saya berharap ia bisa bicara lebih banyak pada penampilan terakhirnya di acara ini). Duh, kenapa sih masih nggak mau banyak ngomong?


Dan akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pakaian kebesaran untuk pemenang The Master ternyata dipakaikan pada Joe Sandy (oleh Dedy Corbuzier). Selamat buat Joe! Kamu memang pantas jadi juara! tepuktangan


Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

05 May 2009

05 May 2009

Mengakali Tampilan Artikel Panjang agar Lebih Nyaman Dibaca

artikel blogTips menulis postingan blog kali ini lebih saya tujukan buat rekan-rekan blogger yang punya kecenderungan suka menulis artikel lebih dari 300 kata (kayak saya contohnya…hihihi). Andaikan setiap paragraf kita rata-ratakan berisi 50 kata, maka artikel lebih dari 6 paragraf bisa dikategorikan sebagai artikel yang panjang.

Nah, untuk jenis artikel seperti itu, biasanya tidak selalu mudah untuk bisa mengikat para pembacanya agar terus menyimak isinya hingga tuntas. Terkadang (atau bahkan seringkali?) pembaca mungkin malah cuma membaca sekilas. Kadang juga mungkin lebih memilih untuk menyimak bagian-bagian tertentu dari strukturnya saja. Hal itu bisa membuat pemahaman sang pembaca tersebut menjadi kurang utuh atau kurang sesuai dengan harapan si penulisnya.

Sayang sekali kan kalau begitu? Kita udah capek-capek nulis dan ngetik, tau-taunya malah kurang tersampaikan secara maksimal buat pembacanya (gara-gara tampilan posting yang rada panjang, hambar, dan mungkin terasa cukup melelahkan mata si pembacanya).

Bagaimana solusi atau siasat untuk mengakali agar artikel yang panjang bisa lebih nyaman dibaca oleh pengunjung?

(1) Membagi/memecah artikel menjadi beberapa poin pembahasan.

Caranya bisa dengan penggunaan bullets atau numbering, terutama jika artikel tersebut berjenis tutorial atau tips praktis bergaya how to. Untuk artikel berjenis opini pun bisa diterapkan jika kita ingin lebih memperjelas uraian argumentasi kita. Nah, dengan demikian isi artikel bisa lebih mudah dipahami dan sekaligus lebih nyaman untuk dibaca. Untuk setiap poin pada bullets atau numbering, bisa anda cetak tebal atau beri warna khusus (sebagai penegasan). Terkecuali bagian penjelasannya.

Contoh aplikasi teknik pertama ini yaitu pada artikel yang sedang anda baca saat ini

(2) Menuliskan sub judul yang dicetak tebal atau diberi warna khusus pada setiap awal alinea pembahasannya.

Hal ini cukup efektif untuk memberikan sedikit jeda dan sekaligus sangat berguna pula sebagai gambaran isi alinea di bawahnya (selain membuat tulisan jadi lebih terarah). Sub judul ini bisa berupa kalimat singkat yang merupakan tema pokok dari beberapa alinea di bawahnya. Bisa juga berupa sebuah pertanyaan, dimana alinea/paragraf di bawahnya berupa uraian analisis untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Contoh penerapan teknik kedua ini bisa anda lihat pada artikel saya tentang acara Final Battle The Master Joe Sandy vs Limbad.

(3) Menggunakan teknik bolding, garis bawah, huruf miring, atau pewarnaan khusus untuk beberapa kata atau frase (termasuk kalimat atau alinea tertentu) yang ingin ditekankan.

Poin ini tidak selalu identik dengan penerapan teknik SEO, sebab ada kalanya kita memang perlu memberikan penegasan atau penekanan khusus pada beberapa keyword. Dengan harapan, pembaca bisa lebih cepat dan lebih mudah menangkap ide pokok atau inti gagasan yang ingin kita sampaikan lewat sebuah kalimat atau paragraf tertentu dalam artikel panjang tersebut.

Tentu saja teknik ke-3 ini harus digunakan sewajarnya saja, agar tidak terlalu menggangu keindahan tampilan artikel kita. Hal ini bisa kita siasati dengan penggunaan yang bervariasi antara teknik bolding (cetak tebal), garis bawah, huruf miring, dan warna khusus.

(4) Mengemas artikel dalam bentuk FAQ (tanya jawab).

Cara ini terbukti sangat ampuh untuk lebih mengikat pembaca dan sekaligus untuk membuat sebuah artikel yang panjang bisa menjadi tidak begitu melelahkan atau membosankan untuk disimak secara tuntas (plus komprehensif). Model atau format tulisan berbentuk tanya-jawab juga sangat efektif untuk diterapkan pada artikel berjenis opini/argumentasi. Setiap pertanyaan bisa disusul oleh serangkaian jawaban berupa analisis, asumsi, dan kesimpulan (dengan sedikit sajian data atau fakta sebagai dasar penguat/pengantar).

Saya sendiri cukup sering menggunakan teknik ke-4 ini, walaupun penerapannya tidak selalu secara full atau terlalu dominan. Contohnya bisa anda lihat pada artikel tentang PPC Lokal dan Efektivitas Pemanfaatan Iklan Baris untuk SEO Postingan Blog.

Selain bagus untuk tulisan berjenis opini, format tanya-jawab juga sangat baik digunakan untuk artikel berjenis deskripsi atau eksposisi. Misalnya artikel yang berupa uraian penjelasan tuntas mengenai suatu topik. Contoh penerapannya bisa anda cek pada artikel Internet Murah Unlimited.

Dengan membangun suasana dialogis lewat metode tanya-jawab, pembaca biasanya akan lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan dalam artikel/postingan tersebut.

(5) Menyisipkan beberapa foto pendukung atau foto pelengkap.

postingan blogPenyisipan foto atau image ini juga cukup mampu untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kesan hambar pada sebuah artikel yang panjang. Tentu saja tidak semua artikel panjang perlu disisipkan foto atau image. Kita perlu melihat tema yang akan dibahas. Jika misalnya berupa ulasan tentang artis atau selebriti, maka akan lebih baik jika juga disisipkan foto sebagai pelengkapnya.

Seperti yang saya terapkan pada ulasan tentang “Persaingan Antara Afgan, Vidi, dan Derby”. Begitu pula pada postingan tentang Luna Maya, Sandra Dewi, dan 5 Komedian Termahal Indonesia.

Dengan adanya foto, kesan monoton atau hambar dari sebuah artikel panjang bisa lebih diminimalkan. Istilahnya, bisa menjadi pemanis gitu deh

(6) Menggunakan blockquote untuk background kalimat atau paragraf tertentu.

Blockquote adalah kotak khusus yang biasanya berwarna berbeda dari warna latar postingan. Bisa digunakan untuk memberikan penekanan khusus pada kalimat atau paragraf tertentu dalam sebuah artikel. Selain itu, penggunaan box ini juga bisa mengurangi efek hambar atau monoton dari sebuah artikel yang panjang. Nah, double manfaat bukan? Contoh penerapan teknik ke-6 ini bisa dilihat hampir di semua artikel terbaru blog ini.

***

Oke. Cukup 6 trik dulu deh yang bisa saya bagikan buat rekan-rekan blogger.

Selamat mengemas artikel panjang menjadi lebih nyaman dibaca


03 May 2009

03 May 2009

Pengaruh Judul Postingan yang Terlalu Abstrak dan Terlalu Umum

judul postingan blogSalah satu faktor yang sangat mempengaruhi minat pengunjung sebuah blog untuk mengklik sebuah postingan atau tidak adalah JUDUL. Ya, faktor judul memang cukup besar peranannya dalam mendorong terjadinya klik atas link postingan di blog kita.

Sebagus apa pun isi postingan atau artikel di blog kita, kalau judulnya kurang menjual, maka akan sia-sia pada akhirnya (berpotensi minim pembaca atau bahkan tidak ada pembacanya sama sekali selain kita sendiri sebagai penulisnya). Judul yang kurang menjual biasanya berupa judul yang terlalu abstrak atau bisa juga terlalu umum. Jika tampil dalam menu recent post, related post, atau random post, maka kemungkinan untuk diklik oleh pengunjung akan sangat kecil. Begitu pula jika tampil pada menu update RSS feed.

Seperti apakah judul yang terlalu abstrak itu?

Kalau harus diukur atau dinilai dari sisi jumlah kata penyusunnya, hampir bisa dipastikan bahwa judul yang cuma terdiri dari satu kata itu tergolong judul yang terlalu abstrak. Contoh judulnya seperti ini : pujakesuma, gift, kado, shoes, babi, toilet, dilema, dan sebagainya (saya ambil dari beberapa judul postingan di beberapa blog yang tidak bisa saya sebutkan karena alasan etika).

Nah, anda kemungkinan besar akan sangat bingung atau tidak punya bayangan yang konkret mengenai isi dari artikel berjudul satu kata tersebut. Lalu, banyak pula saya temukan judul postingan berupa dua kata yang terkesan masih terlalu abstrak. Contohnya yaitu : delapan jam, kawanan flu, pendapat kamu?, berharap berubah, mati kutu, numpang ngiklan, dsb.

Begitu pula dengan tiga kata atau bahkan lebih. Contohnya seperti : pelajaran dari Surabaya, datang dan ingin berubah, teka-teki jebakan, hibernasi mode on, selamat hari Sabtu,membaca joe dan asep, dan sebagainya (silakan ditambahkan sendiri ya).

Intinya, judul yang terlalu abstrak itu kurang mampu memberi gambaran atas isi postingannya.


Lalu, apa maksud dari judul postingan yang terlalu umum?

Kalau harus mengambil contoh, maka judul berupa “flu babi” bisa saya golongkan sebagai judul yang terlalu umum. Akan lebih baik kalau judul tersebut ditambahkan sedikit dengan beberapa kata, sehingga terkesan lebih spesifik. Misalnya menjadi “Flu Babi | Penyebab, Gejala, Penularan, dan Cara Pencegahannya”. Nah, dari sisi nilai jual, judul tersebut jauh lebih komersil (alias lebih menarik perhatian pengunjung/pembaca). Termasuk dari sisi kacamata SEO. Pengunjung dari search engine kemungkinan besar akan lebih tertarik untuk mengklik judul yang lebih spesifik tersebut.

Namun itu dengan catatan bahwa isi postingan tersebut memang terdapat unsur/penjelasan mengenai penyebab, gejala, cara penularan, dan cara pencegahan flu babi. Lain halnya kalau ternyata isi artikel itu cuma berupa opini atau pendapat pribadi si penulis mengenai fenomena wabah penyakit baru tersebut. Maka tentunya perlu disesuaikan dengan konteks tulisannya. Judulnya bisa diubah menjadi “fenomena wabah flu babi” misalnya. Atau bisa juga “Awas! Wabah Flu Babi Mengancam Kesehatan Kita!”.

Tentunya judul-judul seperti itu akan lebih menarik ketimbang cuma berupa “flu babi”. Setuju nggak? (maaf jika ada rekan blogger yang merasa pernah memposting artikel dengan judul seperti itu). Ini sekedar contoh kok.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh dari judul yang terlalu umum dan juga terlalu abstrak. Namun dari penjelasan dan contoh di atas, saya kira rekan-rekan blogger sekalian sudah mulai mengerti dan bisa membedakan, mana judul yang terlalu abstrak, mana yang sudah konkret, mana yang masih terlalu umum, dan mana yang sudah spesifik.


Lalu, penting sekali kah membuat judul postingan yang lebih konkret atau lebih spesifik itu?

Mungkin ada yang bertanya demikian. Mungkin pula ada yang menyanggah, “ah, blog gue sering pake judul yang abstrak dan terlalu umum aja bisa tetep rame kok komentarnya”. Atau mungkin juga ada yang akan bilang begini, “ah, trafik blogku tetep rame kok setiap harinya, walau kebanyakan judul postinganku nggak terlalu konkret atau nggak terlalu spesifik”.

Yach, silakan saja pertahankan gaya judul postingan rekan-rekan jika memang dengan judul bergaya tersebut tidak mempengaruhi jumlah trafik harian dan jumlah komentar yang masuk. Namun kalau rekan blogger ingin lebih meningkatkan page-view atau jumlah impressi blog rekan, maka faktor judul harus menjadi perhatian (tidak boleh diabaikan). Apalagi jika ingin mengoptimalkan postingan-postingan lawas di blog anda lewat menu random post dan related post (agar bisa menarik lebih banyak pembaca). Maka membuat judul yang lebih konkret dan lebih spesifik adalah suatu keharusan.

Terlebih lagi bagi blog yang membidik pengunjung dari search engine sebagai sasaran utama. Bagaimana menurut anda?

02 May 2009

02 May 2009

The Master Final Battle (1 Mei 2009) Joe Sandy vs Limbad

Usai sudah puncak kompetisi magician The Master yang ditunggu-tunggu antara Joe Sandy vs Limbad. Dalam duel final battle yang berlangsung tadi malam di studio RCTI (1 Mei 2009, pukul 21.15 – 00.30 Wib), masing-masing finalis sudah berupaya menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Sebagai juara di Season 1 dan Season 2, Joe dan Limbad kembali membawakan permainan andalannya masing-masing. Joe dengan aliran mentalist-nya tentu saja lebih mengedepankan kekuatan otak/pikiran. Sedangkan Limbad dengan aliran Faqir-nya masih mengusung konsep extreme-show.

Sebagai penyegar ingatan dan sedikit gambaran buat yang tidak sempat menonton, berikut ini ulasan permainan kedua finalis, yang dilengkapi pula dengan pendapat pribadi penulis (selaku penonton).

>> Penampilan pertama Joe Sandy :
Konsep atau pesan yang diusung oleh Joe dalam permainan pertamanya yaitu “walaupun kita dalam keadaan tertekan, kita masih dapat mengendalikan keadaan tersebut dengan cara tetap fokus dan konsentrasi”. Jadi tidak ada alasan kalau kita cuma bisa fokus dan konsentrasi dalam kondisi yang hening saja. Dalam situasi yang penuh tekanan dan hiruk-pikuk sekalipun, kita bisa tetap menaklukkan sebuah tantangan.

Hal itu tampak lewat aksi menjawab pertanyaan TTS (teka-teki silang) yang kemudian diselingi dengan menyusun puzzle pada tempat yang terpisah cukup jauh.

Pendapat saya :
Kondisi tertekan yang ingin ditonjolkan oleh Joe lewat permainannya itu cukup berhasil terbangun. Dengan pembatas waktu berupa suara lonceng dan kondisi nafas yang masih terengah-engah usai berlari, Joe masih mampu menjawab dengan cepat pertanyaan-pertanyaan TTS yang diajukan oleh seorang penonton. Begitu pula saat berusaha menyusun sebuah puzzle. Dengan tangkasnya Joe berhasil mencocokkan bangunan puzzle yang begitu banyak jumlahnya.

Sedikit kekurangan pada aksi Joe :
Senada dengan pendapat Dedy Corbuzier, sayang sekali aksi Joe tersebut tidak menggunakan penanda waktu berupa hitungan menit/detik, yang seharusnya ditampilkan di layar tv dan bisa semakin menambah ketegangan. Akibatnya, klimaks permainan Joe itu masih kurang maksimal jadinya (walaupun menggunakan suara lonceng sebagai pembatas waktu). Malahan sempat terasa membosankan karena tidak ada hitungan detiknya yang bisa memacu adrenalin. Ah, sayang sekali

>> Penampilan pertama Limbad :
Kembali mengandalkan permainan kekuatan otot, kali ini Limbad mempertunjukkan kekuatan rambutnya yang mampu menarik sebuah mobil dengan menggunakan tali (yang diikatkan ke rambutnya).

Pendapat saya :
Yach, saya nggak bisa banyak komentarlah. Aksi menarik mobil dengan menggunakan rambut itu memang luar biasa. Tapi kalau dibilang belum pernah ada yang melakukannya selain Limbad, itu bohong! Sebab aksi serupa itu sudah pernah saya saksikan beberapa tahun lalu di layar tv pula (dengan pelaku yang berbeda). Jadi bukan sesuatu yang surprise lagi buat saya

>> Penampilan kedua Joe Sandy :
Kali ini Joe kembali bermain angka-angka, tepatnya menghitung secara cepat hasil penjumlahan/perkalian/pengurangan/pembagian dari banyak angka. Untuk memperkuat perbandingan dengan kecepatan pikirannya, Joe menghadirkan 3 macam metode penghitungan angka. Cara manual (lewat seorang siswa juara Olimpiade Fisika), menggunakan kalkulator, dan menggunakan laptop/komputer. Dan hasilnya, otak Joe Sandy lebih cepat ketimbang ketiga cara perhitungan itu! tepuktangan Di saat Joe sudah menyelesaikan perhitungan angka, ketiga orang yang dihadirkan tersebut masih sibuk menghitung.

Pendapat saya :
Dua kata untuk Joe: luar biasa! tepuktangan Joe membuktikan bahwa otak manusia sebenarnya bisa lebih cepat dari mesin atau program yang dibuat oleh manusia.

>> Penampilan kedua Limbad :
Kembali menghadirkan nuansa extreme, Limbad mempertunjukkan kekuatan kulitnya ketika dikaitkan oleh sling berbahan metal (pada bagian kulit punggungnya) dan kemudian tubuhnya ditarik/digantung dengan menggunakan sling yang telah terkait pada punggungnya itu. Namun sayang, belum sempat sampai di puncak (belum terlalu tinggi saat digantung), tiba-tiba sling sudah diturunkan, padahal Limbad sempat memberikan kode agar tubuhnya diangkat lagi lebih tinggi.

Setelah diturunkan, Limbad terlihat lemas tidak berdaya. Kulit punggungnya mengeluarkan sedikit darah Anaknya tampak menangis melihat kondisi ayahnya seperti itu. Sedangkan sang istri terlihat tak kuasa menahan cemas karena menurutnya Limbad tidak pernah latihan sebelumnya untuk melakukan aksi tersebut. Tim medis pun memeriksa kondisi Limbad. Dan kira-kira 5 menitan kemudian, Limbad bangun dan tampak seperti tidak mengalami apa-apa.

Pendapat saya :
Kalau ada yang bilang aksi seperti itu belum pernah ada yang melakukannya, itu tidak benar. Sudah ada kok magician yang melakukan aksi seperti itu. Kalau tidak salah Chris Angel. Tapi salut deh buat Limbad, walau aksinya tergolong terlalu extreme. Wajar deh. Kan sesuai dengan julukannya sebagai extreme magician.

Kesimpulan akhir :
Kalau harus dinilai dari performa kedua finalis, buat saya Joe Sandy dan Limbad sama-sama layak jadi The Master. Toh, genre keduanya berbeda, sehingga tidak bisa kita bandingkan mana yang lebih baik. Joe dengan kekuatan otaknya yang jenius. Dan Limbad dengan kekuatan otot/fisiknya yang luar biasa. Hasil perolehan SMS sementara tadi malam menunjukan bahwa Joe lebih unggul sedikit (dengan 50 persen lebih). Sedangkan Limbad dengan 40 persen lebih. Sempat terjadi kejar-kejaran dan salib-menyalib perolehan SMS antara keduanya.

Kita lihat saja hasil akhirnya minggu depan. Akankah Final Battle Joe vs Limbad akan membuahkan kemenangan bagi genre mentalist? Atau aliran faqir yang bakalan lebih unggul? Tapi apa pun hasilnya, keduanya sama-sama layak menjadi The Master. Bagaimana menurut anda?


Dukungan kontes >>> apa sih asyiknya belajar seo?

 

kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top