Hari pertama penayangan mega film Ketika Cinta Bertasbih 2 terasa biasa saja. Tak seheboh dan se-membludak seperti yang saya alami ketika menonton serial perdananya beberapa bulan lalu. Begitulah yang saya rasakan.
Mulai dari saat membeli tiket masuk, suasana terlihat sangat sepi. Boro-boro mau ngantri, begitu datang ke lokasi bioskop Ayani 21, saya langsung dengan leluasa membeli tiket. Pemandangan yang sangat kontras bila dibandingkan dengan beberapa bulan lalu, dimana sebelum loket dibuka saja, para penonton sudah begitu membludak dalam antrian. Sedangkan tayang perdana KCB seri 2 hari ini? Area di depan loket terlihat kosong melompong (khususnya pada jam tayang perdana, yaitu pukul 12.00 Wib).
Mungkin saja karena sudah banyak yang pulang mudik. Atau bisa jadi karena para calon penonton lebih memilih jam tayang berikutnya. Atau bisa saja lebih memilih hari lebaran untuk menonton film yang pada seri pertamanya cukup mengguncang ini.
Tapi setelah saya mengecek kursi yang tersisa (saat membeli tiket), ternyata separuh kursi sudah terisi penuh. Why? Mungkin saja sudah dibooking sejak loket dibuka. Akhirnya saya dapat jatah kursi F-9. Lumayan masih agak nyaman buat nonton sih.
Sekilas jalan cerita/sinopsis KCB 2
Pada seri kedua ini, setting cerita sudah tidak lagi di Mesir, tapi boleh dibilang 100% di Indonesia. Maklum, beberapa tokoh utamanya (seperti Khairul Azzam, Anna Althafunnisa, Furqan, dan Elliana) sudah kembali dan menetap tanah air.
Azzam sudah lulus kuliah dari Universitas Al Azhar Mesir. Begitu pula Anna dan Furqan, yang akhirnya resmi menikah. Namun masalah kemudian muncul ketika Furqan tak kunjung memberi nafkah batin kepada Anna istrinya. Hal itu berlangsung hingga 6 bulan (lama banget yach? Emangnya ada istri yang tahan dengan kondisi seperti itu?…)
adegan ketika Azzam sedang makan bersama keluarganya dan sekaligus menjamu Elliana
Di sisi lain, Azzam mulai berupaya mencari pekerjaan usai tamat kuliah. Profesi kurir jadi pilihan pertamanya. Hingga akhirnya ia membuka usaha bakso cinta
Jadilah Azzam sebagai pengusaha. Petualangan Azzam dalam mencari jodoh pun berlanjut. Namun sayangnya, 3 kali ia mengalami kegagalan. Penyebabnya ada-ada saja.
Kembali ke rumah tangga Anna dan Furqan. Apa yang terjadi selanjutnya?
Anna akhirnya minta cerai kepada Furqan setelah mendengar pengakuan jujur Furqan soal penyakit HIV-nya. Bagaimana reaksi Furqan? Bagaimana pula akhir rumah tangga mereka? Bagaimana akhir kisah petualangan pencarian jodoh oleh Azzam?
Tidak seru kan kalau saya bocorkan. Ntar pembaca sekalian jadi males nonton seri kedua KCB ini. Jadi biar tahu akhir kisahnya, saksikan saja di bioskop. Mumpung pas momen Idul Fitri, jadi pasti banyak duit kan? Hehehe… 
Pendapat/komentar saya
Kalau harus dinilai secara keseluruhan sih, film ini masih terkesan lebih didominasi oleh masalah jodoh-jodohan. Tapi nilai-nilai Islam tetap tersaji dan terkemas dengan baik dalam sebagian besar scene. Seperti saat dialog antara Anna dan ayahnya soal keputusan bercerai yang ia ambil. Termasuk saat Kyai Luhtfi (ayah Anna Althafunnisa) berdialog beberapa kali dengan Azzam.
adegan ketika Anna Althafunnisa sedang berdialog dengan ayahnya (Kyai Luthfi)
Begitu pula saat Azzam memberikan kebebasan pada tunangannya jika suatu ketika ingin menikah dengan lelaki lain karena tidak kuasa menunggu kesembuhan Azzam (usai mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya patah).
Nilai Islam lainnya tercermin dengan sangat baik nan indah pada sikap dan perilaku Anna Althafunnisa. Salut banget deh buat Oki Setiana Dewi sebagai pemerannya. Aktingnya di KCB 2 ini masih mampu membuat saya terpesona dan sekaligus jatuh cinta 
ini dia Oki Setiana Dewi, si pemeran Anna Althafunnisa yang sangat lembut nan mempesona akhlaknya
Kredit plus juga untuk akting Dedy Mizwar yang sangat berkarakter sebagai Kyai Luthfi. Di sekuel kedua ini, porsi peran Dedy terasa lebih banyak. Dan efeknya, nilai religius KCB 2 sangat terbantu oleh aktor senior tersebut. Begitu pula Niniek L.Karim yang berperan sebagai ibunda Azzam. Aktingnya sangat natural sebagai sosok seorang ibu yang sangat mendambakan anak sulung semata wayangnya agar segera menikah.
Sedikit kekurangan film Ketika Cinta Bertasbih 2
Nilai-nilai perjuangan Azzam usai menjadi sarjana dan kembali ke tanah air masih kurang dieksplorasi. Terutama nilai etos kerja. Terkesan seadanya dan lebih menonjolkan sisi pencarian jodoh. Harusnya kalau menurut saya sih lebih digambarkan lagi bagaimana Azzam perjuangan membangun usaha/bisnisnya. Termasuk bagaimana ia berupaya mencari pekerjaan dan bekerja sebagai kuli/karyawan (sebelum memutuskan untuk berbisnis sendiri).
Dan akan lebih baik lagi jika dimasukkan nilai-nilai ajaran Islam yang berhubungan dengan BEKERJA SEBAGAI IBADAH.
Namun overall, KCB 2 tetap menawarkan sebuah cerita sederhana yang dikemas secara membumi dan sekaligus Islami. Walau tidak se-menyentuh penyampaian pesan moral di seri pertamanya, seri kedua ini tetap layak tonton buat anda. Salah satu pesan bagusnya yaitu :
walau jodoh berada di tangan Tuhan, sebagai hambanya kita tetap wajib berikhtiar untuk mencari dan menemukannya. Dan yakin-lah, segala ikhtiar yang telah kita lakukan, walaupun beberapa kali "belum berhasil", kelak akan diganjar oleh-Nya dengan sesuatu yang jauh lebih baik bagi kita. Bahkan bisa membuat kita takjub bersyukur!
Seperti akhir cerita film Ketika Cinta Bertasbih 2 ini yang berujung happy ending 