21 January 2010

21 January 2010

3 Tahap Perkembangan Psikologis Penulis

psikologi-penulisUlasan ini tidak bermaksud mengkotak-kotakkan tipe penulis menjadi golongan-golongan yang kaku atau sempit. Ini cuma manifestasi dari penalaran pribadi saya mengenai tingkat perkembangan psikologis penulis. Ini murni lahir dari perenungan atas perjalanan menulis saya selama 3 tahun terakhir.

Tentu saja kebenarannya sangat relatif dan subyektif. Boleh setuju, boleh kontra. Namanya juga pendapat pribadi.

Apa saja Tahap Perkembangan Psikologi Penulis yang saya maksudkan?


1. Menulis sekadar menumpahkan ‘sampah’ di dalam diri.


Jangan terjebak dengan pemahaman negatif dulu jika saya memakai istilah ‘sampah’. Sampah di sini tidak melulu berkonotasi buruk. Sampah di dalam diri bisa berupa tekanan, emosi terpendam, atau bisa juga berupa akumulasi berbagai pemikiran/perasaan yang tak bisa lagi dipendam, sehingga mau tak mau harus dikeluarkan dalam bentuk tulisan.

Tingkatan ini tidak bisa kita nilai buruk atau baik. Sifatnya relatif. Jadi bukan masalah positif atau negatif. Namun jangan salah, penulis tipe ini biasanya sudah sangat puas ketika apa yang terpendam di dalam dirinya tertumpahkan atau tersalurkan keluar (lewat tulisan). Tidak peduli apakah ada yang membaca atau tidak (selain dirinya).

Artinya, menulis pada tahap ini juga sangat bermanfaat untuk mengurangi tekanan di dalam diri. Ini sangat bagus untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikis.


2. Menulis sekadar demi memuaskan dahaga intelektualitas.


Mungkin ini golongan penulis yang gemar atau hobi melontarkan argumen-argumen pribadinya mengenai suatu topik atau masalah. Dengan mengemukakan berbagai gagasan atau idenya tentang topik yang diminati atau disorot, sang penulis merasakan suatu kepuasan batin. Dahaga intelektualitasnya merasa terpuaskan.

Gemar melontarkan wacana untuk menjadi bahan diskusi mungkin juga termasuk dalam golongan penulis ini. Termasuk gemar ‘bermain kata’. Entah itu lewat penganalogian (perumpamaan), majas, maupun gaya bahasa ala sastrawan.

Pada tahapan ini, kepuasan utama mungkin sebatas pada taraf karena sudah merasa berhasil menulis opini yang mengundang beragam pendapat atau menuai komentar cerdas dengan berbagai sudut pandang. Kepuasan utama lainnya mungkin karena merasa sudah berhasil menghasilkan suatu tulisan yang memenuhi kaidah standar tulisan ilmiah.

Pada tahapan kedua ini, umumnya psikologis menulisnya masih terlalu didominasi oleh otak atau intelektualitas.


3. Menulis karena ingin berbagi atau membuat pembacanya menjadi lebih baik.


Kalau saya boleh berpendapat, inilah tahap perkembangan psikologis penulis yang paling mulia. Ia menulis bukan semata karena ingin mengeluarkan ‘sampah’ di dalam diri. Bukan sekadar ingin memuaskan dahaga intelektualitas. Namun lebih dari itu, ada suatu niat yang tulus dari dalam jiwanya untuk membuat orang lain (pembaca tulisannya) menjadi lebih baik lagi.

Umumnya, tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh penulis yang sudah mencapai tahapan ini punya daya gugah, daya ubah, dan daya dobrak yang luar biasa. Tulisannya bisa saja tajam bagaikan pedang. Bisa pula halus nan menyentuh bak kapas.

Kalau pun belum punya daya seperti itu, tulisannya biasanya selalu memberi pencerahan. Entah itu berupa informasi yang benar-benar dibutuhkan pembaca, solusi praktis yang konkret, atau inspirasi yang membuat pembaca merasa terdorong untuk menjadi lebih baik lagi.

Singkat kata, pada tahap ketiga ini, unsur spiritualitas penulis sudah jauh lebih berkembang. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ada niat mulia nan tulus untuk membuat orang lain (pembaca tulisannya) menjadi lebih baik lagi di masa mendatang. Kepuasan batin terbesar pada tahapan ini ialah ketika ia merasa banyak pembaca tulisannya memperoleh manfaat atau ‘pencerahan’.

Menulisnya sudah menggunakan HATI. Jadi tidak lagi semata melibatkan otak atau intelektualitas.


Kesimpulan


Tiga tahapan perkembangan psikologis penulis di atas sifatnya tidak tetap. Artinya, sang penulis bisa saja mengalami 3 tahap tersebut secara berganti-ganti. Hari ini mungkin ia menulis semata untuk menumpahkan ‘sampah’ di dalam dirinya. Esok bisa saja demi memuaskan dahaga intelektualitasnya. Lusa? Siapa tahu ia memang terdorong untuk berbagi atau membuat pembacanya menjadi lebih baik lagi.

Atau bisa saja sang penulis mengalami 3 tahap tersebut secara BERSAMAAN!! Artinya, hasrat menulisnya didorong oleh niat untuk mengeluarkan tekanan di dalam diri, sambil ingin memuaskan dahaga intelektualitasnya, dan sekaligus karena ingin membuat pembacanya menjadi lebih baik lagi.

Bagaimana menurut anda sendiri?

Saya yakin rekan-rekan semua pernah mengalami 3 tahapan psikologis penulis di atas. Bener nggak? hayo ngakuuu…

Source image : forum.kafegaul.com

40 comments:

  • wah.... sya malah ga memperhatikan 3 poin diatas mas. saya nulis ya nulis aja. tujuannya ya biar bisa bermanfaat untuk orang banyak dan buat saya juga

    Salam Kreatif,
    Octa Dwinanda
    NB: lagi test komentar dari komputer lain, komentarnya muncul atau tidak ya( NB ini dihiraukan saja mas)

    21 January, 2010 11:38

  • @ online-business-story.com :
    Muncul kok Pak. Kalo tujuan nulisnya gitu, berarti Pak Octa sudah mengalami 3 tahapan di atas dong ^_^

    21 January, 2010 12:16

  • Aku menulis demi uang boss ... hee hee hee

    21 January, 2010 14:50

  • berarti saya lulus ya... :)

    (lagi ngetes lagi nih mas,pake google chrome bisa ga)

    21 January, 2010 15:54

  • Bagaimanapun juga, yang namanya sampah kok kesannya negatif ya... Mungkin lebih enak disebut menulis iseng atau curhatan saja. :D

    21 January, 2010 17:58

  • Satu lagi mas... menulis karena "terpaksa" harus posting artikel ke blog agar blog-nya bisa eksis dan bisa nyari uang... ada gak ya yg gitu? ada lah...

    21 January, 2010 18:01

  • Nakh.. blog yang ini salah satunya nich mas.. aku copy PLR.. modifikasi truz posting dech agar bisa aku daftarin ke broker paid review... Singgah ya mas, boleh tukeran link ama blog yang ini? tq

    21 January, 2010 18:03

  • Untuk pemula, memang bagusnya dengan mengedit PLR lebih dulu.

    21 January, 2010 23:14

  • Kalo saya kayaknya lebih condong ke nomor 3, cuma gak selalu sih...
    Terkadang juga bisa ke nomor 1 dan 2, hehehhe...
    Btw, salam kenal :)

    21 January, 2010 23:34

  • Saya setuju kalau tahapan tahapan ini tidak selalu baku. Selalu saja silih berganti tergantung moodnya. Terutama untuk blog-blog yang sifatnya lebih personal.

    22 January, 2010 00:06

  • wuih... tidak nyangka, wilayah psikoligis di sikat juga sama mas iskandar. mantap analisisnya mas. saya suka.

    meluruskan sedikit nih mas
    artikel ini sebaiknya tidak di simak sebagai stigma atau pengkultusan terhadap karakter penulis.

    saya sendiri merasakan menulis itu sebagai proses pematangan diri mas. meluapkan, meyakinkan dan menikmati adalah tahapan yang saling terkait dan sinergi. sehingga output logik maupun emosionalistis yang di hasilkan akan sangat mencirikan personifikasi ideal buat sang penulis. termasuk saya.

    22 January, 2010 00:13

  • wah, sy cuma asal nulis doang, pengennya sih bisa bermanfaat, selain itu juga sekedar agar blog update ...
    masalah termasuk no. berapanya, kayaknya semua termasuk deh .. ehehehe

    22 January, 2010 01:04

  • wah td nulis ko ga masuk... kalo aku yang penting nulis dengan harapan semoga berguna bagi yang baca.

    22 January, 2010 04:43

  • ikut yang pertama
    sampah dalam diriku harus di bersihkan hehehehehe

    22 January, 2010 07:22

  • bagi saya agar alexanya merangkak naik..
    hehehehe..

    22 January, 2010 09:44

  • Sebagai seorang pemula tentunya masih dalam tahapan 1 mungkin saja dengan berjalannya waktu bisa menggusai tahapan yang ke 3.

    22 January, 2010 11:56

  • kalau saya pake yang ketiga "Menulis karena ingin berbagi untuk semua atau membuat pembacanya menjadi lebih baik". info menarik nih...

    22 January, 2010 12:49

  • menarik nih, kembali ke tujuan kita menuangkan tulisan di blog, kan semuanya untuk pembaca...bermanfaat bagi pembaca, itulah kebahagiaan blogger

    22 January, 2010 12:52

  • @ lomba :
    Saya tetep nggak mau ganti dengan istilah yang lain...hehehe. Sampah menurut pengertian saya di atas lebih kepada pemikiran/perasaan yang terpendam dan jika tidak dikeluarkan akan berbahaya bagi kesehatan mental maupun fisik kita.

    @ Eric :
    Kayaknya emang wajib ada deh mas ^_^

    @ fadly muin :
    Setuju banget mas. Sebaiknya memang tidak ditafsirkan secara kaku atau dijadikan stigma. Ini cuma penalaran yang berusaha menguraikan proses perjalanan seorang penulis. Makasih banyak buat masukannya. Mungkin paparan saya di atas agak menjerumuskan ke arah pencitraan yang kurang baik yach. Maksud saya sih nggak sampe begitu sebenarnya ^_^

    @ hpnugroho :
    Saya yakin kalo Mas Nugroho udah pernah mengalami semuanya..hihihi

    @ soewoeng :
    Hihihi. Membersihkan sampah dalam diri kan bisa menyehatkan jiwa dan fisik mas. Jadi bagus banget malah. Terusin aja deh, sampai suatu saat motivasi menulis kita bisa berkembang ke tahap yang lebih tinggi derajatnya.

    @ zaiful anwar :
    Betul mas. Semuanya butuh proses dan waktu. Yakin deh, pasti bakalan mencapai tingkatan yang lebih mulia.

    @ sobatblog :
    Wah, bagus banget itu. KOnsisten yach. Semoga jadi amal.

    @ indonesia jaya :
    Bener mas. Kalo nulisnya buat pembaca dan untuk kebaikan pembaca, kita udah berada di jalur yang benar. Thx ya buat kunjungannya.

    22 January, 2010 15:50

  • Secara teori sich ketiga tahap tersebut pernah saya alami baik secara sadar dan tidak ataupun secara langsung dan tidak langsung, tapi secara praktek, your guess..???

    22 January, 2010 16:24

  • Iya...
    Saya pernah ketiga-tiganya dan tidak condong kemanapun...hehe

    22 January, 2010 21:53

  • Komentator telatan permisi masuk mas Is.
    Saya setuju klasifikasinya, tapi tidak selalu merupakan tingkatan. Jadi lebih cocok dengan yang di kesimpulan, biar penulis dan pembacanya sama-sama sehat dan menuai manfaat.

    22 January, 2010 23:05

  • @iskandaria: hmm.. saya cuma mencoba nyelip di antara kegelisahaan pembaca kok :D

    22 January, 2010 23:17

  • setiap tahap biasanya terlalui dan sering terkait sesuai situasi kondisi psikologis setiap penulis saat menulis

    23 January, 2010 09:06

  • setuju banget..., kapan ya.., aku bisa menggapai tahap ke tiga..???

    23 January, 2010 15:32

  • Selamat pagi sahabatku. Semoga anda sehat-walafiat dan menikmati hari istimewa ini.
    Saya datang untuk silaturahmi sambil membawa pesan.
    Apakah sahabat dapat menemukan nama yang bagus, gagah dan keren untuk blog saya.
    Jika dapat silahkan diajukan melalui kolom komentar di :
    http://abdulcholik.com/2010/01/24/blogcamp-ganti-nama/
    Ada sedikit tali asih menarik jika nama yang sahabat sarankan terpilih.
    Terima kasih, selamat beraktivitas.
    Salam hangat dari Surabaya.

    24 January, 2010 10:58

  • Flash disk hadiah Indonesia Menulis sudah saya kirim sesuai alamat (Pontianak)
    Harap ditunggu
    Terma kasih.

    24 January, 2010 11:00

  • @ Rusa Bawean :
    Yang tau kan cuma situ..hehehe

    @ abdulkholik :
    Makasih banyak ya Pakde. Nanti saya kabarin kalo udah terkirim ke alamat saya. Salam hangat selalu.

    24 January, 2010 12:22

  • saya Ngaku deh...contohnya ya via pos MAU EKSIS, JANGAN LEBAY PLIS itu mas...^_^
    saya mengalami tahap 2 dan 3...berargumen sekaligus berbagi hehehe^_^

    24 January, 2010 20:58

  • Jadi malu, karena saya pernah kelamaan berada pada tahap pertama....
    Bukan hanya bulanan, tapi tahunan!

    Untung semua isinya akhirnya hilang...

    25 January, 2010 20:11

  • yang no.1 keren juga kok. bisa bikin kita jago nulis, terutama dari hal2 kecil yang akan membuat kita termotivasi untuk menulis di blog

    25 January, 2010 20:17

  • Kalo sy yang no.3 ms, tapi utk "status yang mulia" msh belum sih. Memang biasanya sy menulis dibuletin2 milik temen2,buat materi trus diajarkan ketemen2, atau buat tulisan sendiri dikertas.

    25 January, 2010 20:33

  • Nambah lagi ms, mrnt sy, menjadi penulis itu harus dengan hati...dan penghayatan.biar tulisannya keluar layaknya kita makan.Mudah sih tapi juga sulit.Nah ini mnrt sy, tahap tertinggi ms Iskandaria, makanya kalimat Spiritualitas itu bs jadi no.4.Ini mnrtku lho ms

    25 January, 2010 20:38

  • @ arkum :
    Yups. Setuju abiz mas! Komentar yang cerdas ^_^

    29 January, 2010 16:48

  • Hmmm, saya gak berani ngaku. Tapi jujur, rasanya seneng sekali kalau ada pembaca yg bilang tulisan kita "sangat membantu, Mas", atau "very inspiring!". Hmm, bayangkan kalau dengan menulis kita bisa berdakwah juga. :D

    04 February, 2010 09:04

  • @ Bung Eko :
    Iya mas, rasanya emang seneng banget kalo pembaca tulisan kita merasa memperoleh manfaat. Kepuasan batin tiada tara deh pokoknya. Kalo diniatkan berdakwah juga bisa dan bagus banget kok. Toh, makna berdakwah bukan selalu identik dengan menyebarkan ilmu agama aja. Tapi setiap niat yang tulus untuk membuat pembaca menjadi lebih baik lagi pun tergolong berdakwah juga (kalo menurut saya).

    04 February, 2010 11:49

  • Terima kasih, Mas Is saya akhirnya bisa menemukan artikelnya yang dimaksud. Menarik sekali! Ketiga tingkatan ini plek 100% cocok dengan perkembangan menulis saya.

    Nah, tingkatan yang ketiga (terakhir) ini yang kadang-kadang menjadi beban bagi saya dalam menulis. Saya selalu punya keinginan dalam setiap tulisan saya agar pembaca mendapat sesuatu (value) dari membaca tulisan saya. Ini terkadang menyiksa saya. Meski akhirnya buahnya sangat manis dan sangat membahagiakan. :)

    26 January, 2011 09:10

  • @ Joko Sutarto >> Wah, ada komen ternyata...hehehe(baru nyadar saya pas buka postingan ini).

    Keinginan untuk menyisipkan sesuatu bagi pembaca kadang memang malah jadi beban baru. Saya rasa sebenarnya kita tidak harus selalu berusaha memberi sesuatu itu. Kadang ketika kita tidak punya niat begitu pun, secara tidak sadar kita ternyata malah memberi sedikit sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca.

    Jadi, biarlah pembaca sendiri yang menilai. Yang penting kita berusaha menulis sejujur mungkin, walau cuma berupa curhatan. Curhatan tidak selalu identik dengan tulisan sampah kok. Kadang kita bisa memetik sesuatu dari sebuah tulisan curhat :)

    27 January, 2011 12:52

  • Post a Comment

    Silakan tulis komentar sesuai pendapat pribadi kamu

    Back to Top
     

    kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top