18 January 2010

18 January 2010

Film Suster Keramas : Cabul Abis, Tapi Lucu Sih

film-suster-keramasMungkin inilah film horor paling cabul yang pernah saya tonton. Entah itu dari sisi adegan, dialog, maupun bahasa-bahasa tubuh (body language) para pemainnya. Sempat menuai kontroversi, akhirnya film ini masih bisa tayang di bioskop. Malahan saat saya tonton kemarin (Minggu 17 Januari 2010) di Ayani 21 Pontianak, masih terlihat beberapa remaja tanggung yang lolos.

Padahal (konon) kabarnya, untuk bisa nonton film komedi horor cabul ini harus menunjukkan KTP. Nyatanya di bioskop tempat saya nonton nggak tuh Ok, mungkin ada yang nanya, buat apa sih buang-buang duit untuk nonton film kayak gini? Sebagai seorang pemerhati dunia hiburan Indonesia (yang termasuk perfilman nasional), rasanya saya harus nonton film ini.

Saya tak kuasa menahan rasa penasaran, separah apakah film ini? Bukan sekadar pengen liat aksi Rin Sakuragi loh (bintang porno asal Jepang yang konon lebih populer ketimbang Miyabi itu). Saya juga penasaran pengen liat hasil garapan sutradara Helfi Kardit (salah satu sutradara spesialis horor Indonesia yang menurut saya cukup mumpuni).

Saya sudah nonton film LANTAI 13 yang digarap Helfi beberapa tahun lalu. Buat saya itu salah satu film horor terbaik Indonesia. Nah, bagaimana dengan film Suster Keramas ini?

Kalau harus menilai secara keseluruhan, nilai horor dari film Suster Keramas ini masih kurang maksimal. Saya cuma kagum dengan scene-scene di babak awal hingga pertengahan. Sisanya? Tidak ada yang spesial. Helfi sepertinya masih kurang mampu mempertahankan kualitas nuansa horor seperti yang ditunjukkannya pada babak-babak awal.


Vulgar abis!


Yang lebih ditonjolkan malah kemasan scene-scene bernuansa komedi cabul. Ya iyalah, kan itu yang mau dijual dari film ini…hehehe. Gimana nggak mau dibilang cabul, adegan yang disuguhkan sungguh mengumbar kelakuan konyol 2 orang pemuda berotak full mesum (berkat keseringan nonton bokep).

Belum lagi aksi topless Rin Sakuragi di hadapan keduanya (walau membelakangi kamera). Aksi atau adegan paling cabul ialah ketika Yadi Sembako dan 2 pemeran utama tergiur oleh busana minim yang tersingkap saat Rin Sakuragi beradegan tidur di ranjang. Durasi adegan mesum tersebut LUMAYAN LAMA dan terus terang aja bikin birahi penonton cowok ikut mendidih

Gimana nggak mendidih, kita disuguhin ‘pemandangan menggiurkan’ selama sekian menit (kalo seingat saya). Belum lagi scene berbikini ria dan aksi mandi di sungai yang ditunjukkannya. Tapi sayang, adegan topless yang menghadap kamera kena sensor dikit..wekekeeeek (dasar otak mesum yach). Adegan itu lebih hot di trailernya kalo menurut saya.

Unsur ‘parah’ lainnya dipertunjukkan dengan sangat total nan maksimal oleh seorang pemeran pembantu wanita. Kalo nggak salah namanya Shinta Bachir. Yang jelas, amat sangat memancing syahwat kaum adam Gimana enggak, yang disuguhkan adalah eksploitasi sensualitas dan seksualitas yang (menurut saya) tergolong sangat vulgar. Bahkan ada adegan lesbian yang cukup hot.


cuplikan-adegan-suster-keramas
cuplikan adegan lesbian Rin Sakuragi di Suster Keramas



rin-sakuragi-suster-keramas
cuplikan adegan antara Keyla (Herfiza Novianti) dan Michico (Rin Sakuragi)


Akting para pemain


Yang paling menonjol dan paling maksimal menurut saya yaitu akting pemeran Keyla dan si kribo yang berkacamata. Pemeran Keyla namanya Herfiza Novianti. Kalo pemeran kribo saya nggak tau sih. Sedangkan pemeran teman si kribo bisa dibilang boleh lah aktingnya. Gilanya lumayan dapet. Yang nggak kalah gokiel yaitu akting Alex Abbad dan lawan mainnya (Jeng seksi yang berperan sebagai istrinya). Gokiel dan parah abiz deh Tapi lumayan lucu dan menghibur sih buat saya.

Tampilnya 2 komedian, yaitu Yadi Sembako dan Daus Separo juga turut menambah nuansa komedi film horor cabul ini. Untuk Yadi, beberapa lelucon yang dilontarkannya masih rada garing.


Alur cerita dan skenario


Tidak ada yang spesial pada poin ini. Semua serba KLISE dan agak dipaksakan. Yach, kayaknya emang sulit banget menemukan skenario dan alur cerita film horor Indonesia yang bisa dibilang bagus. Mungkin cuma film LANTAI 13 yang menurut saya punya cerita dan alur yang bagus. Sayang, Helfi Kardit tidak banyak mengambil sisi positif film yang pernah digarapnya tersebut.

Unsur klise dipertunjukkan lewat scene pembuka yang menggambarkan sosok seseorang yang dikejar-kejar para penduduk dan kemudian disiksa beramai-ramai. Itu sudah cukup sering saya liat pada scene-scene pembuka film horor Indo lainnya (terutama garapan Koya Pagayo alias Nayato Fio Nuala). Termasuk opening film Bangsal 13 yang digarap oleh Ody C.Harahap. Idenya sama persis! (latar belakang terbunuhnya seseorang yang kemudian menjadi hantu..hehehe).

Kekurangan lain yaitu pada penggunaan sound-effect yang masih sangat dominan. Agak berlebihan menurut saya. Kenapa sih nuansa horor harus selalu dibangun lewat musik latar yang selalu bising dan memekakkan telinga?


Ending cerita


Lumayan gokiel menurut saya, terutama pas adegan munculnya hantu Jeng seksi..hihihi. Yang terkesan agak dipaksakan yaitu dialog membawa nama Tuhan. Seolah-olah itu dibuat sebagai ‘pesan moral’ film ini. Pesannya kira-kira gini : “Mungkin ini peringatan Tuhan buat kita yach. Kalo doyan nonton bokep ya gini akibatnya..” ck ck ck.. (maksa banget tuh pesan moralnya). Nggak ngefek banget buat para penonton!


Kesimpulan


Sependapat dengan Didi Petet, bahwa sebuah film harus kita kembalikan pada fungsinya. Yaitu sebagai sebuah hiburan. Dalam kaitan dengan hal tersebut, buat saya sih film ini lumayan menghibur (terlepas dari beberapa kekurangan di atas). Beberapa kali saya dibuat tertawa ngakak

Lucunya dapat. Sensualitas dan vulgaritasnya apa lagi..hehehe (lumayan buat cuci mata kaum lelaki). Yang agak kurang mungkin scene-scene horornya. Kalau ada yang bilang film ini tidak mendidik, ya jelas aja. Nggak perlu ngomongin mendidik atau enggak kalau filmnya bergenre horor.

Dan kalau ada yang bilang film kayak gini merusak moral, waduh, menurut saya sih kembali pada masing-masing penonton aja deh. Kita nggak bisa menggeneralisir sesuatu begitu saja. Buat penonton yang sudah dewasa seperti saya (usia 28), film ini tidak masalah buat saya. Semua yang disuguhkan masih manusiawi banget, walaupun rada vulgar.

Namun saya setuju, para remaja tanggung dan anak-anak bisa memperoleh ‘teladan negatif’ dari film ini. Film ini lebih layak ditonton oleh mereka yang berusia 21 tahun ke atas.

46 comments:

  • PERTAMAX mas...

    waduh.. Saya kebetulan juga ingin liat film suster keramas sama teman-teman tapi nggak jadi-jadi. Liat postingannya mas, jadi pengen segera ngliat. hehehe...

    18 January, 2010 12:57

  • gak nyangka
    ada film kek gini diputer di bioskop

    parah dehh

    setuju mas
    untuk jadi kritikus film
    harus nonton film dari yg paling ancur sampek yg paling bagus

    18 January, 2010 13:04

  • waduh, saya belum cukup umur nih, tapi setidaknya udah cukup terpuaskanlah rasa penasaran saya setelah baca reviewnya mas iskandaria yg komlet abbis ini ! :D

    18 January, 2010 19:49

  • kayaknya film horor dlm negeri kebanyakan ada unsur seksualnya deh ...
    jadi males nonton, ntar aja kalau ada film blogger keramas baru nonton rame-rame .. hehehehe

    18 January, 2010 20:19

  • salah satu film yang bisa dikoleksi nih... ^^

    18 January, 2010 21:30

  • Jadi pengen nonton ne, kayak apa sich wkakakakaa...

    18 January, 2010 22:06

  • Mungkin maksud pesan film ini, biasanya habis "dicabuli" setelah itu susternya "keramas"...
    Jadi buat asyiik2 sajalah nikmati filmnya, sayangnya di Kendari belum beredar tuh Mas film ini.

    18 January, 2010 23:55

  • Wew... Baca review ini aja rasanya udah kepancing o... :))

    19 January, 2010 04:57

  • mangtaffff
    jadi pengen nonton nich kang

    19 January, 2010 09:34

  • ada satu lagi tuh, Raped by Saitan

    19 January, 2010 11:37

  • Jarang banget Mas saya ngelihat film, apalagi film Indonesia. Saya lebih suka ndengerin musik...

    Hmm, liat gambarnya, seksi juga bintang Jepangnya. ;-)

    19 January, 2010 11:56

  • menarik sekali fokus anda mas iskandar. menyoroti dunia hiburan melalui blog, mungkin bukan hal yang banyak di lakukan para blogger.

    perhatian anda dan cuplikan-cuplikan adegan2 yang di di review sangat membuat saya nyaman.

    menurut saya, indonesia butuh lebih banyak orang seperti anda. supaya per-film-an kita makin berkembang.

    19 January, 2010 15:30

  • Saya mungkin paling ketinggalan karena belum nonton filmnya

    19 January, 2010 18:39

  • weleh, jadi penasaran pengen nonton nih..!

    siap2 keramas deh..! :D

    19 January, 2010 23:09

  • Wah, liat feedjitnya, banyak traffic nih dari suster keramas..!

    19 January, 2010 23:12

  • Bagiku Film2 yg berbau macem gini, SAMA SEKALI GA LAYAK UNTUK DI TONTON SEGALA UMUR !!!

    MENJIJIKAN !!!!!

    20 January, 2010 00:00

  • @ fadlymuin :
    Makasih buat apresiasinya Mas. Semoga ke depannya saya bisa lebih baik lagi dalam menulis dan menyajikannya buat pembaca. Semoga pula saya tidak menjadi 'besar kepala' dengan segala pujian ^_^

    @ si gen :
    Siap-siap liat pemandangan dan adegan syur aja deh Mas ^_^ Iya sih, semenjak posting review film ini, saya banyak ketiban trafik dari mbah gugel. Syukur Alhamdulillah aja deh.

    @ Aribicara :
    Yach, masing-masing boleh punya pendapat pribadi. Buat saya sih, film ini cuma buat hiburan doang Mas. Masalah pantes nggak pantes, menurut saya orang dewasa nggak masalah banget sih nonton film ini.

    20 January, 2010 11:57

  • belum nonton mas isk, so no comen dah, hehe
    sedikit pesan, buat anak-anak dan remaja (di bawah 21 tahun) lebih baik nonton FILm Lain ya hehehe^_^
    salam mas isk

    21 January, 2010 10:03

  • Lho, ternyata beneran toh si Maxima ngundang Rin Sakuragi? Hebat ya bisa lolos dari pengamatan orang-orang yang dulu menentang kedatangan Miyabi. Byw, saya sependapat kalo bintang porno Jepang jangan dilarang main film di Indonesia. Kalau dia berbuat macam-macam, kan ada UU Anti Pornografi. :D

    21 January, 2010 10:34

  • @ alfred :
    Setuju mas. Kalo nonton film ini khawatir bakalan niru yang nggak baiknya ^_^

    @ Bung Eko :
    Tuh, saya aja kaget dia bisa lolos dari pengamatan..hehehe

    21 January, 2010 11:24

  • Jadi penasaran ingin liat,,, baca sinopsinya aja udah bikin penasaran, apalagi pas liat movienya, he..he...

    22 January, 2010 09:03

  • Wah pembahasan reviewnya benar-benar lengkap.
    manteb banget!

    29 January, 2010 10:05

  • Katanya udah ditentang MUI kan filmnya.
    masa masih tetap beredar
    sich...

    29 January, 2010 10:06

  • nice review,filmnya emang sangat sangat menghibur, cuma masih kalah dengan film seperti you,me,and wall yang dibintangi Sora Aoi.

    30 January, 2010 19:46

  • baca postingan ini aja sudah pingin tutup mata. Dak jadi lihat deh film kayak begini

    02 February, 2010 07:52

  • saya mah gak mau ngabis2sin waktu nonto film begininan di bioskop...mending cari bajakanya aja..... he he he

    08 February, 2010 13:54

  • mas iskandar,,,mau ga bantuin aku???
    aq kn lg skripsi,,,ngebahas flm ini..mau ga aq wawancara gtu???? aq baca tulisan km sepertinya menarik sekali jika mas bersedia mau jd orang yg bsa aku wawancara...:)
    kabarin yah...tx by : dira,,pake email pacarku..hehhe

    08 February, 2010 21:23

  • @ boy :
    Wah, gimana yach. Tapi emailnya mana??? Boleh juga sih, asalkan pertanyaannya bisa saya jawab :)

    08 February, 2010 21:50

  • @ boy :
    Oya, email saya di netbook28@yahoo.com

    08 February, 2010 21:51

  • owwww.......................
    kunjung ke andiapri.blogspot.com juga yachhh

    26 March, 2010 16:03

  • wah yng nonton otaknya tambah ancur.
    hhehehhehe
    kl film horor yg bagus apa ya kk?

    11 October, 2010 18:50

  • @Donnyx

    Film horor Indonesia yang bagus menurut saya contohnya Bangsal 13, Lantai 13, dan Kuntilanak 3.

    18 October, 2010 01:06

  • Setuju gan, persepsi orang beda2, ada yang postif dan ada juga yang negative. Kadang sesuatu yang bak aza bisa dipersepsikan negative, apalagi sudah kelihatan mata ada sedikit nyeleweng. Kalau menurut pendapat saya film ini memang berniat untuk menghibur penonton, cuman konotasi aktingnya lebih yang berbau vulgar, mungkin ini juga bisa dipengaruhi trend yang sekarang (lebih senang yang vulgar2). Jadi kontroversi positive dan negative itu syah syah aza, yang penting ada kesepakatan yang disepakati oleh kita semua.

    01 March, 2011 13:21

  • terkadang film yang seperti ini yang banyak di sukai para remaja.

    13 July, 2011 14:28

  • wah saya udah ketinggalan nih film nya...
    saya belum pernah nonton sama sekali...

    28 November, 2011 14:21

  • semoga kalo ada film yang seperti ini tidak lagi ada anak di bawah umur yang menonton nya....

    28 November, 2011 14:36

  • film-2 kayak begituan cuman dihasilkan oleh para sineas abal-2 dan kacangan... merusak moral generasi muda sambil menguras isi dompet mereka.

    29 April, 2012 14:18

  • apa bisa ditonton semua usia ? takutnya banyak anak yang nonton juga jadi rusak akhlaknya

    30 April, 2013 16:48

  • Post a Comment

    Silakan tulis komentar sesuai pendapat pribadi kamu

    Back to Top
     

    kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top