Mungkin inilah film horor paling cabul yang pernah saya tonton. Entah itu dari sisi adegan, dialog, maupun bahasa-bahasa tubuh (body language) para pemainnya. Sempat menuai kontroversi, akhirnya film ini masih bisa tayang di bioskop. Malahan saat saya tonton kemarin (Minggu 17 Januari 2010) di Ayani 21 Pontianak, masih terlihat beberapa remaja tanggung yang lolos.
Padahal (konon) kabarnya, untuk bisa nonton film komedi horor cabul ini harus menunjukkan KTP. Nyatanya di bioskop tempat saya nonton nggak tuh
Ok, mungkin ada yang nanya, buat apa sih buang-buang duit untuk nonton film kayak gini? Sebagai seorang pemerhati dunia hiburan Indonesia (yang termasuk perfilman nasional), rasanya saya harus nonton film ini.
Saya tak kuasa menahan rasa penasaran, separah apakah film ini? Bukan sekadar pengen liat aksi Rin Sakuragi loh (bintang porno asal Jepang yang konon lebih populer ketimbang Miyabi itu). Saya juga penasaran pengen liat hasil garapan sutradara Helfi Kardit (salah satu sutradara spesialis horor Indonesia yang menurut saya cukup mumpuni).
Saya sudah nonton film LANTAI 13 yang digarap Helfi beberapa tahun lalu. Buat saya itu salah satu film horor terbaik Indonesia. Nah, bagaimana dengan film Suster Keramas ini?
Kalau harus menilai secara keseluruhan, nilai horor dari film Suster Keramas ini masih kurang maksimal. Saya cuma kagum dengan scene-scene di babak awal hingga pertengahan. Sisanya? Tidak ada yang spesial. Helfi sepertinya masih kurang mampu mempertahankan kualitas nuansa horor seperti yang ditunjukkannya pada babak-babak awal.
Vulgar abis!
Yang lebih ditonjolkan malah kemasan scene-scene bernuansa komedi
Belum lagi aksi topless Rin Sakuragi di hadapan keduanya (walau membelakangi kamera). Aksi atau adegan
Gimana nggak mendidih, kita disuguhin ‘pemandangan menggiurkan’ selama sekian menit (kalo seingat saya). Belum lagi scene berbikini ria dan aksi mandi di sungai yang ditunjukkannya. Tapi sayang, adegan topless yang menghadap kamera kena sensor dikit..wekekeeeek (dasar
Unsur ‘parah’ lainnya dipertunjukkan dengan sangat total nan maksimal oleh seorang pemeran pembantu wanita. Kalo nggak salah namanya Shinta Bachir. Yang jelas, amat sangat memancing syahwat kaum adam


Akting para pemain
Yang paling menonjol dan paling maksimal menurut saya yaitu akting pemeran Keyla dan si kribo yang berkacamata. Pemeran Keyla namanya Herfiza Novianti. Kalo pemeran kribo saya nggak tau sih. Sedangkan pemeran teman si kribo bisa dibilang boleh lah aktingnya. Gilanya lumayan dapet. Yang nggak kalah gokiel yaitu akting Alex Abbad dan lawan mainnya (Jeng seksi yang berperan sebagai istrinya). Gokiel dan parah abiz deh
Tampilnya 2 komedian, yaitu Yadi Sembako dan Daus Separo juga turut menambah nuansa komedi
Alur cerita dan skenario
Tidak ada yang spesial pada poin ini. Semua serba KLISE dan agak dipaksakan. Yach, kayaknya emang sulit banget menemukan skenario dan alur cerita film horor Indonesia yang bisa dibilang bagus. Mungkin cuma film LANTAI 13 yang menurut saya punya cerita dan alur yang bagus. Sayang, Helfi Kardit tidak banyak mengambil sisi positif film yang pernah digarapnya tersebut.
Unsur klise dipertunjukkan lewat scene pembuka yang menggambarkan sosok seseorang yang dikejar-kejar para penduduk dan kemudian disiksa beramai-ramai. Itu sudah cukup sering saya liat pada scene-scene pembuka film horor Indo lainnya (terutama garapan Koya Pagayo alias Nayato Fio Nuala). Termasuk opening film Bangsal 13 yang digarap oleh Ody C.Harahap. Idenya sama persis! (latar belakang terbunuhnya seseorang yang kemudian menjadi hantu..hehehe).
Kekurangan lain yaitu pada penggunaan sound-effect yang masih sangat dominan. Agak berlebihan menurut saya. Kenapa sih nuansa horor harus selalu dibangun lewat musik latar yang selalu bising dan memekakkan telinga?
Ending cerita
Lumayan gokiel menurut saya, terutama pas adegan munculnya hantu Jeng seksi..hihihi. Yang terkesan agak dipaksakan yaitu dialog membawa nama Tuhan. Seolah-olah itu dibuat sebagai ‘pesan moral’ film ini. Pesannya kira-kira gini : “Mungkin ini peringatan Tuhan buat kita yach. Kalo doyan
Kesimpulan
Sependapat dengan Didi Petet, bahwa sebuah film harus kita kembalikan pada fungsinya. Yaitu sebagai sebuah hiburan. Dalam kaitan dengan hal tersebut, buat saya sih film ini lumayan menghibur (terlepas dari beberapa kekurangan di atas). Beberapa kali saya dibuat tertawa ngakak
Lucunya dapat. Sensualitas dan vulgaritasnya apa lagi..hehehe (lumayan buat cuci mata kaum lelaki). Yang agak kurang mungkin scene-scene horornya. Kalau ada yang bilang film ini tidak mendidik, ya jelas aja. Nggak perlu ngomongin mendidik atau enggak kalau filmnya bergenre horor.
Dan kalau ada yang bilang film kayak gini merusak moral, waduh, menurut saya sih kembali pada masing-masing penonton aja deh. Kita nggak bisa menggeneralisir sesuatu begitu saja. Buat penonton yang sudah dewasa seperti saya (usia 28), film ini tidak masalah buat saya. Semua yang disuguhkan masih manusiawi banget, walaupun rada vulgar.
Namun saya setuju, para remaja tanggung dan anak-anak bisa memperoleh ‘teladan negatif’ dari film ini. Film ini lebih layak ditonton oleh mereka yang berusia 21 tahun ke atas.


45
comments:



PERTAMAX mas...
waduh.. Saya kebetulan juga ingin liat film suster keramas sama teman-teman tapi nggak jadi-jadi. Liat postingannya mas, jadi pengen segera ngliat. hehehe...
gak nyangka
ada film kek gini diputer di bioskop
parah dehh
setuju mas
untuk jadi kritikus film
harus nonton film dari yg paling ancur sampek yg paling bagus
waduh, saya belum cukup umur nih, tapi setidaknya udah cukup terpuaskanlah rasa penasaran saya setelah baca reviewnya mas iskandaria yg komlet abbis ini ! :D
kayaknya film horor dlm negeri kebanyakan ada unsur seksualnya deh ...
jadi males nonton, ntar aja kalau ada film blogger keramas baru nonton rame-rame .. hehehehe
salah satu film yang bisa dikoleksi nih... ^^
Jadi pengen nonton ne, kayak apa sich wkakakakaa...
Mungkin maksud pesan film ini, biasanya habis "dicabuli" setelah itu susternya "keramas"...
Jadi buat asyiik2 sajalah nikmati filmnya, sayangnya di Kendari belum beredar tuh Mas film ini.
Wew... Baca review ini aja rasanya udah kepancing o... :))
mangtaffff
jadi pengen nonton nich kang
ayayay... sama! jadi pengen nonton :)
ada satu lagi tuh, Raped by Saitan
Jarang banget Mas saya ngelihat film, apalagi film Indonesia. Saya lebih suka ndengerin musik...
Hmm, liat gambarnya, seksi juga bintang Jepangnya. ;-)
menarik sekali fokus anda mas iskandar. menyoroti dunia hiburan melalui blog, mungkin bukan hal yang banyak di lakukan para blogger.
perhatian anda dan cuplikan-cuplikan adegan2 yang di di review sangat membuat saya nyaman.
menurut saya, indonesia butuh lebih banyak orang seperti anda. supaya per-film-an kita makin berkembang.
Saya mungkin paling ketinggalan karena belum nonton filmnya
weleh, jadi penasaran pengen nonton nih..!
siap2 keramas deh..! :D
Wah, liat feedjitnya, banyak traffic nih dari suster keramas..!
Bagiku Film2 yg berbau macem gini, SAMA SEKALI GA LAYAK UNTUK DI TONTON SEGALA UMUR !!!
MENJIJIKAN !!!!!
@ fadlymuin :
Makasih buat apresiasinya Mas. Semoga ke depannya saya bisa lebih baik lagi dalam menulis dan menyajikannya buat pembaca. Semoga pula saya tidak menjadi 'besar kepala' dengan segala pujian ^_^
@ si gen :
Siap-siap liat pemandangan dan adegan syur aja deh Mas ^_^ Iya sih, semenjak posting review film ini, saya banyak ketiban trafik dari mbah gugel. Syukur Alhamdulillah aja deh.
@ Aribicara :
Yach, masing-masing boleh punya pendapat pribadi. Buat saya sih, film ini cuma buat hiburan doang Mas. Masalah pantes nggak pantes, menurut saya orang dewasa nggak masalah banget sih nonton film ini.
waduh .. aku belum liat
belum nonton mas isk, so no comen dah, hehe
sedikit pesan, buat anak-anak dan remaja (di bawah 21 tahun) lebih baik nonton FILm Lain ya hehehe^_^
salam mas isk
Lho, ternyata beneran toh si Maxima ngundang Rin Sakuragi? Hebat ya bisa lolos dari pengamatan orang-orang yang dulu menentang kedatangan Miyabi. Byw, saya sependapat kalo bintang porno Jepang jangan dilarang main film di Indonesia. Kalau dia berbuat macam-macam, kan ada UU Anti Pornografi. :D
@ alfred :
Setuju mas. Kalo nonton film ini khawatir bakalan niru yang nggak baiknya ^_^
@ Bung Eko :
Tuh, saya aja kaget dia bisa lolos dari pengamatan..hehehe
Jadi penasaran ingin liat,,, baca sinopsinya aja udah bikin penasaran, apalagi pas liat movienya, he..he...
Wah pembahasan reviewnya benar-benar lengkap.
manteb banget!
Katanya udah ditentang MUI kan filmnya.
masa masih tetap beredar
sich...
nice review,filmnya emang sangat sangat menghibur, cuma masih kalah dengan film seperti you,me,and wall yang dibintangi Sora Aoi.
baca postingan ini aja sudah pingin tutup mata. Dak jadi lihat deh film kayak begini
saya mah gak mau ngabis2sin waktu nonto film begininan di bioskop...mending cari bajakanya aja..... he he he
mas iskandar,,,mau ga bantuin aku???
aq kn lg skripsi,,,ngebahas flm ini..mau ga aq wawancara gtu???? aq baca tulisan km sepertinya menarik sekali jika mas bersedia mau jd orang yg bsa aku wawancara...:)
kabarin yah...tx by : dira,,pake email pacarku..hehhe
@ boy :
Wah, gimana yach. Tapi emailnya mana??? Boleh juga sih, asalkan pertanyaannya bisa saya jawab :)
@ boy :
Oya, email saya di netbook28@yahoo.com
owwww.......................
kunjung ke andiapri.blogspot.com juga yachhh
wah yng nonton otaknya tambah ancur.
hhehehhehe
kl film horor yg bagus apa ya kk?
@Donnyx
Film horor Indonesia yang bagus menurut saya contohnya Bangsal 13, Lantai 13, dan Kuntilanak 3.
Setuju gan, persepsi orang beda2, ada yang postif dan ada juga yang negative. Kadang sesuatu yang bak aza bisa dipersepsikan negative, apalagi sudah kelihatan mata ada sedikit nyeleweng. Kalau menurut pendapat saya film ini memang berniat untuk menghibur penonton, cuman konotasi aktingnya lebih yang berbau vulgar, mungkin ini juga bisa dipengaruhi trend yang sekarang (lebih senang yang vulgar2). Jadi kontroversi positive dan negative itu syah syah aza, yang penting ada kesepakatan yang disepakati oleh kita semua.
Parah tuh film...
sumpah jadi penasaran
terkadang film yang seperti ini yang banyak di sukai para remaja.
kaya nya seru juga nih film nya...
wah saya udah ketinggalan nih film nya...
saya belum pernah nonton sama sekali...
semoga kalo ada film yang seperti ini tidak lagi ada anak di bawah umur yang menonton nya....
film yang cukup bisa merusak moral nih gan...
film-2 kayak begituan cuman dihasilkan oleh para sineas abal-2 dan kacangan... merusak moral generasi muda sambil menguras isi dompet mereka.
saya pengen liat di bioskopnya
apa bisa ditonton semua usia ? takutnya banyak anak yang nonton juga jadi rusak akhlaknya