19 January 2010

19 January 2010

Perihal Gaya Bahasa Melangit dan Nilai Manfaatnya Buat Pembaca

bahasa-tulisanDalam artikel saya tentang 5 Tips Membuat Artikel Anda Terasa Unik dan Mengesankan, salah satu poin yang saya rekomendasikan yaitu menggunakan gaya bahasa yang sederhana. Sederhana yang saya maksudkan yaitu berupaya meminimalisir penggunaan metafora yang berlebihan, analogi yang agak berat dicerna, bahasa-bahasa puitis, dan perumpamaan yang terlalu ‘melangit’.

Terkecuali kalau anda sedang menulis puisi! Ya, kecuali anda hendak menulis puisi.

Dalam kaitannya dengan judul artikel ini, saya ingin mengambil satu contoh blog sebagai bahan studi kasus. Mohon maaf sebelumnya kepada sang pemilik blog yang merasa blognya saya jadikan sebagai sasaran (bahan kritikan). Ini sama sekali tidak bermaksud negatif untuk menyudutkan atau bahkan menjatuhkan. Nggak banget deh.

Anggap lah ini sebagai masukan membangun untuk kemajuan blog anda ke depannya.

Jujur, ini pun sebagai bentuk kepedulian saya terhadap blog anda. Sebab saya melihat blog anda sebenarnya punya potensi untuk menjadi pencerah jiwa di tengah kehidupan yang serba materialistis sekarang ini. Cuma ada satu hal yang mungkin anda lupakan untuk lebih memaksimalkan nilai manfaat dari berbagai tulisan anda. Apa itu? Tak lain yaitu penggunaan gaya bahasa yang sederhana.

Sebut saja blog yang saya jadikan sebagai studi kasus yaitu blog A. Ciri khas utama blog ini yaitu mengusung tema spiritualitas. Dibilang populer atau ngetop sih kayaknya iya banget

Cukup itu deh clu-nya (indikatornya).

Sang pemilik blog saya yakin sudah mencapai derajat batin (tingkatan spiritual) yang tinggi. Lihat/simak saja berbagai tulisan di blognya yang sarat dengan muatan pesan-pesan spiritual, ketuhanan, hakikat peribadatan, hakikat kemanusiaan, hakikat kehambaan, dan hakikat jadi diri manusia.


Lalu, apakah salah atau tidak boleh menggunakan gaya bahasa yang terlalu melangit?


Tentu saja itu terserah yang punya blog. Wong itu blognya dia kok. Suka-suka dia dong mau nulis pake gaya bahasa apa aja...hehehe. Bener juga sih.

Nah, justru karena itulah, saya jadi sanksi (ragu), seberapa efektifkah nilai dakwah atau nilai manfaat tulisan-tulisan yang bergaya bahasa seperti itu bagi para pembaca blognya?

Harap rekan-rekan renungkan dengan seksama dan bijaksana.

Saya yakin, misi penulisan konten-konten yang bermuatan spiritual di blog tersebut sangat mulia, yaitu untuk berbagi pencerahan batin kepada para pembacanya.

pusing-kepalaNamun menurut hemat saya, sang pemilik blog (penulis) juga harus lebih membumi lagi dalam menyampaikan misi dakwahnya. Akan sangat disayangkan jika nilai manfaat dari berbagai tulisannya menjadi kurang maksimal oleh karena pembaca sudah dibuat ‘mumet’ atau ‘puyeng’ duluan..kekekeek. Boro-boro mau memperoleh pencerahan batin kan?

Mungkin itu yang belum disadari oleh si penulis. Bukan saja si pemilik blog yang saya jadikan studi kasus, namun juga buat semua penulis.

Tanpa bermaksud menggurui, hemat saya, sebaiknya anda perlahan-lahan mulai mengubah gaya penulisan anda menjadi lebih membumi, lebih sederhana, lebih konkret, dan lebih mudah dipahami/dicerna.

Memang, semua butuh proses. Tapi bisa dimulai dengan menyelipkan contoh-contoh konkret apabila dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Dakwah AA’ Gym mungkin bisa anda teladani dalam hal ini.

Trik lainnya, sebaiknya anda ‘menghadirkan diri’ anda ke dalam tulisan yang akan anda publish di blog anda. Caranya gimana? Gunakan kata ‘saya’ sebagai sarana untuk mendekatkan diri anda dengan pembaca.

Dua cara tersebut saya jamin akan lebih memberikan manfaat yang efektif dalam memaksimalkan nilai pesan/manfaat dari artikel blog anda. Ya, cukup dengan menyelipkan contoh-contoh konkret pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari dan penggunaan kata ‘saya’ sebagai upaya untuk membangun kedekatan dengan pembaca.


Masukan lain


Saran saya lainnya, sebaiknya anda memvariasikan model/muatan artikel-artikel blog anda. Jenis yang hampir selalu berupa renungan bisa membuat pembaca blog anda mudah jenuh. Apalagi jika isi renungan tersebut kebanyakan berupa ‘himbauan’ atau ‘perintah’.

Ok. Cukup sekian masukan praktis saya kali ini. Tidak ada sama sekali niat untuk menyudutkan atau menjatuhkan blog tertentu. Yakinlah, ini bagian dari kasih sayang saya untuk anda

Saya ingin kita semua sebagai blogger bisa lebih memaksimalkan nilai manfaat dari berbagai tulisan blog kita. Dan salah satu caranya yaitu seperti yang telah saya paparkan di atas

46 comments:

  • Yess! ini artikel paling kritis dan elegan yang pernah saya baca.. pesan-pesannya sangat tajam dan masuk ke logika saya mas.. jadi kalau tulisan saya mulai melangit dan puitis. saya bisa tau jawabannya....

    19 January, 2010 15:36

  • wedew........... bener-bener2, saya malah dapet ide gara-gara baca artikel ini !


    makasih mas artikelnya ! selain memberi pelajaran juga memberikan inspirasi !

    19 January, 2010 15:55

  • ya bener sob, buat artikel yang menrik ga perlu yang berlebihan, tentunya menggunakan gaya bahasa yang konsisten dari awal, friendly dan tidak kasar. Pastinya artikelnya juga kudu infomatif pasti nantinya bisa membuat pembaca menjadi tertarik dan terus mengunjungi blog kita ehhehe. thank ya infonya sob

    19 January, 2010 17:32

  • Wah, tulisan sy masuk kritikan ms iskandar kagak ya?

    19 January, 2010 18:19

  • Kalau sy, itu smua tergantung target dan segmentasi pasar yang digarap ms iskandar.Menurut ilmu marketing yg sy ketahui, terkadang ada segmentasi yang mmng targetannya tdk hrs slalu profitable, tapi ada yg aktualisasi keilmuan, atau bs skedar hobby, atau mungkin personal branding.....atau...atau apalagi ya...hehehehe..lupa ms.Malu aku pd semut merah...(lagu obi misak)
    Tapi yg pasti ms, smua itu tergantung target ama segmentasi pasarnya msg2.

    19 January, 2010 18:23

  • Oh lupa lagi, ms Iskandar...kemarin mau komment tuh ms ditulisan tentang suster keramas, cuman ketika mau komment sempet lama banget...apa kebesaran kapasitas gb atau internet sy yg kayak siput ya?

    19 January, 2010 18:30

  • Blog saya memang bukan bertopik spiritual. Tapi dulu saya sempat bingung menentukan gaya bahasa. Akhirnya, dengan pertimbangan untuk membiasakan menulis bahasa Indonesia baku (ternyata sulit jah..) dan memudahkan konversi ke bentuk lain (kadang saya kutip untuk jurnal, media cetak, presentasi resmi), jadilah blog yang sekarang. :)

    Setuju juga jika itu sebaiknya disesuaikan dengan target pengunjung/pengguna/pembaca/pendengar.

    19 January, 2010 19:03

  • Kenapa tidak langsung aja disebutkan blognya apa mas? sekalian dapat backlink dan pengunjung blog yang di kritik.hehehe

    Salam kenal mas.

    19 January, 2010 19:43

  • Sedikit tambahan mas Iskandar.

    Nanti di pasang feedburnernya ya? Biar lebih mudah ketika kembali berkunjung dan berkomentar untuk artikel-artikel terbaru.

    19 January, 2010 20:15

  • mas tolong tulisan saya di kritik juga ya? terutama dalam gaya bahasa. terkadang saya juga sering bingung, gaya bahasa formal atau nyantai? klo nyantai kesannya krg serius, klo formal seolah2 mengajar di kelas. ada ide?

    19 January, 2010 20:59

  • terima kasih mas ISKANDAR atas kritikannya.. sedangkan terus terang saya sendiri masih bingung siapa mas Iskandar ini yang begitu perhatiannya kepada saya.. bahkan telah menulis dua buah kritikan untuk saya.. hahaha.. walau maaf semua tidak benar.. ketika di pakai mengenai istilah langit.. saya ada sedikit gambaran.. hehehehe.. sekali lagi mas PUISI bisa MULTI MAKNA.. MULTI INTERPRESTASI.. karena kembali kepada PEMAHAMAN si PEMBACA.. dan ini adalah cara paling aman membuka sesuatu rahasia perjalan bagi yang sedang menuju kesana.. bagi yang tidak semua tetap tersembunyi..
    satu lagi mas.. dari awal saya ngeblog ya inilah saya.. seorang Komentator COPY PASTE yang senang nyampah di mana mana.. seorang yang menulis dengan gaya bahasa melangit yang membuat bingung pembaca.. tetapi inilah saya.. terima kasih atas kritikannya mas.. mudah mudahan sebelum kita mengkritik orang lain kita sudah mengkritik diri sendiri dan sebelum kita menunjuk orang lain kita sudah menunjuk diri sendiri.. sesungguhnya semut di seberang lautan akan jelas terlihat tapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat.. hahahaha,,
    Mengenai Manfaat.. perasaan saya semua kembali kepadaNYA.. dan semua relatif.. tergantung persepsi mas.. saya hanya menulis apa yang dirasakan cuma itu saja..
    sekali lagi TERIMA KASIH atas KRITIKANnya
    TOLONG JIKA KOMENTAR di BLOG LAIN jangan bawa nama saya ataupun menjelekkan nama saya
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    19 January, 2010 21:10

  • Yah, masing-masing memiliki gaya penulisannya sendiri. Saya pribadi mas Iskandar ( Mudah-mudahan suatu saat Jika ke Singkawang Kita bisa Kopdar ), sampai saat ini masih kebingunan juga dengan gaya saya menulis. Kadang meledak, kadang melempem, Saya sepakat dengan Bli Dhani ( ach...ngekor lagi ), moncoba untuk menggunakan yang baku. Tapi mas Is baca sendiri artikel saya...bahasanya entah lari kemana-mana.

    20 January, 2010 00:06

  • Terima kasih Mas atas pencerahannya dalam memberikan sebuah gaya dalam menulis.
    Awalnya saya senang sekali menemukan blog ini sebagai tempat belajar dalam dunia blogging karena saya sendiri masih terbata-bata baik dalam menulis maupun dalam beraktivitas sebagaimana selayaknya para blogger.Masih banyak yang harus saya pelajari. Terlihat blog saya yang acak-acakan dan tidak fokus. Disini seakan ada tempat meluruskan. Disinilah saya menemukan salah satunya tempat belajar.
    Namun artikel ini agak mengejutkan saya. Gaya bahasa yang dipakai agak masuk di kepala saya sedikit melakukan penyerangan. Tidak memberikan uluran tangan mengkritik untuk sebuah persahabatan. Jangankan sama sang empunya blog yang merasa, sayapun ikut merasa kalo tulisan ini ada bumbu emosional. Terbukti ada komentar kangboed di atas yang sedikit mengaduh.
    Keduanya ada kontradiktif antara statement Mas Iskandaria di sini "Tanpa bermaksud menggurui, hemat saya, sebaiknya anda perlahan-lahan mulai mengubah gaya penulisan anda menjadi lebih membumi, lebih sederhana, lebih konkret, dan lebih mudah dipahami/dicerna". Bagi saya ini sudah bukan menggurui lagi tapi malah seakan menyuruh melakukan gaya penulisan sebagaimana yang ada dalam pemikiran mas Iskandaria. Saya pikir ini bukan sebuah langkah yang bijaksana sebagai seorang yang jujur saja awalnya saya kagumi.
    Namun ternyata saya salah memilih tempat untuk belajar ngeblog dengan benar.
    Mungkin ini yang terakhir saya mengunjungi blog mas Iskandaria.
    Mohon maaf jika ada kesalahan selama ini.
    Salam hangat selalu :)

    20 January, 2010 00:42

  • Kang Boed yang ketinggian bahasanya atau Mas Iskandar yang engga mengerti nih?... :lol:

    Hemat saya, dalam dunia blog tidak ada bahasa yg ideal, semuanya berpulang pada si penulis...

    Kecuali misal ada sebuah koran online nasional memakai gaya bahasa Kang Boed, mungkin saya setuju dgn pendapat Mas Iskandar...

    Yang saya tahu Kang Boed cuma punya dua blog, dan gaya bahasanya memang seperti itu... Mas Iskandar suka atau tidak suka, yang pasti pengunjung dua blog itu selalu bejibun...


    KangBoed : sekali lagi TERIMA KASIH atas KRITIKANnya. TOLONG JIKA KOMENTAR di BLOG LAIN jangan bawa nama saya ataupun menjelekkan nama saya

    Maap nih Mas, sepertinya ada sentimentil yg engga jelas...

    20 January, 2010 00:54

  • Hahahaha... Saya setuju dengan keduanya. Setuju dengan KangBoed bahwa gaya bahasa adalah tergantung dari yang membaca, dan setuju sama Mas Iskandar, kalau bahasa yang sederhana dan personal lebih mudah dinikmati oleh lebih banyak orang Indonesia.

    Ya kalau menurut saya itu berpulang ke target marketnya si penulis. :D

    20 January, 2010 07:13

  • menurut saya ndak ada yang salah dari tipsnya, hanya saja niat menulis di blog memang banyak macemnya, dan karena ada contoh langsung yang belum tentu motivasi menulisnya sama dengan sampeyan akhirnya membuat artikel ini jadi agak salah jalan.

    sedikit saran mas, lebih baik memakai kalimat "contohlah yang itu" daripada kalimat "jangan tiru yang itu"

    tetap semangat mas!

    20 January, 2010 10:38

  • @ buat semua yang sudah komentar :
    Makasih banyak ya. Saya tidak menyangka ulasan di atas bakal menuai komentar-komentar cerdas dengan beragam sudut pandang. Yang jelas, sebelum mengkritik saya sudah berusaha introspeksi diri dahulu. Saya cuma seorang penulis biasa. Tidak ada kepentingan apa pun di balik kritikan selain sebagai ajang SALING MENASEHATI dan SALING MENGINGATKAN.

    Tidak ada untungnya buat saya dengan menjelekkan atau menyudutkan seseorang. Kalau kritikan selalu diangap sebagai serangan atau upaya menyudutkan, saya tidak habis mengerti lagi deh ^_^

    Cuma Allah yang tahu apakah saya memang punya niat jelek atau baik. Kalaupun niat saya jelek, biarlah DIA yang membalasnya dengan ganjaran yang setimpal.

    Perkara dirasa menggurui, ya itu kembali pada konteks di balik teks aja deh. Silakan ditafsirkan menurut pemahaman masing-masing saja. Mungkin inilah keterbatasan kemampuan berbahasa saya. Rekan-rekan sekalian mungkin lebih mahir dalam menyampaikan kritikan atau masukan yang halus dan membangun.

    Buat KangBoed, saya nggak punya kepentingan apa pun. Kalau dianggap menjelek-jelekkan, mungkin yang tersinggung adalah ego anda sendiri. Ego itu kan bukan hakikat diri kita? KangBoed pasti tahu lah soal masalah spiritualitas ini. Akan lebih baik kita menjadikan sesuatu yang kurang mengenakkan sebagai bahan perbaikan di masa mendatang.

    Ok. Mohon maaf ya jika dianggap menjelekkan. Kalau image kita tidak ingin dinilai "jelek", mengapa kita tidak berupaya menjadi lebih baik? Waduh, malah balik menasehati ya. Semoga semua yang terlontar dan tertulis semata-mata karena KASIH SAYANG.

    Kasih sayang kan tidak selalu harus berupa pujian, basa-basi, atau sapaan. Ada kalanya kita juga harus mengingatkan. Dan itu pun masih terbentur pada kemampuan berbahasa, yang bisa saja multi-interpretatif alias MULTI TAFSIR. Yang penting kan konteksnya.

    Dan yang tahu konteksnya (biasanya) cuma orang-orang yang berhati bersih, tulus, penuh kasih, dan peka. Plus memiliki sikap open minded.

    20 January, 2010 12:29

  • @ Arksala :
    Ah, Mas Arkasala ini sensitif banget rupanya. Masak cuma karena gara-gara postingan ini yang diangap "gimanaa gitu" jadi ngambek gak mau lagi kembali ke sini..hahahaha

    Yach, itu terserah mas Arkasala aja deh. Tanpa kunjungan mas Arkasala pun, saya akan tetap ngeblog dan memberikan tulisan-tulisan yang dibutuhkan atau bermanfat bagi pengunjung. Yang pasti saya akan berusaha menjadi lebih baik lagi dalam menulis.

    Lagian, saya nggak yakin kalo mas Arkasala nggak bakalan kembali lagi ke sini ^_^ Yang bener aja...hehehe

    20 January, 2010 12:42

  • @ Arkasala :
    Walah-walah, emosional dari mana ya mas? Kayaknya saya waktu nulis postingan ini sama sekali nggak lagi emosi kok..hahaha. Demi Allah tidak ada unsur emosional ketika saya menulis postingan ini. Saya nggak habis pikir deh dari mana unsur emosional atau penyerangannya ^_^

    20 January, 2010 13:06

  • @ Casrudi
    Saya Alhamdulillah sih SANGAT MENGERTI dengan gaya bahasa tulisan KangBoed. Saya juga seorang pengemar tulisan-tulisan bernada filsafat, spiritualitas, dan sejenisnya. Harap diketahui, saya tergolong pengemar buku-buku spiritualitas, terutama karangan ANAND KRISHNA. Tulisannya model KangBoed gitu deh. Nggak jauh beda.

    Cuma kenapa saya memberi saran agar lebih menyederhanakan gaya bahasa? Tak lain agar nilai manfaat tulisan2nya jadi lebih maksimal. Blognya KangBoed kan punya pengunjung dari beragam segmen.

    Masalah sentimentil, wah, nggak ada itu ^_^ Kenapa sih mengkritik seseorang selalu dinilai sentimentil? ^_^

    20 January, 2010 13:13

  • karena saking melangitnya... jadi gak bisa nyantel mas,,,,, he....

    20 January, 2010 15:18

  • terus terang saya agak jarang ke rumahnya kangboed
    perasaan dia punya beberapa blog ya???

    mengenai gaya bahasa
    menurut saya sih tergantung pasar yg ingin dibidik
    atau
    tergantung image yg ingin dibangun

    maaf
    kan memang benar filsafat itu bahasanya memang agak tinggi...

    tapi kalo misalnya aku dikritik sampek diposting khusus gini
    bakalan seneng banget
    :)

    20 January, 2010 21:54

  • saya suka blog macem-macem, kadang yang serius, selengekan, lucu, filsafat dan ...
    karena disitulah indahnya blog wang warna-warni, bhinneka dan beraneka ragam. dan dari situlah kita merasakan kebesaranNya bahwa kita berbeda
    salam kreatif dari kalimantan tengah

    20 January, 2010 22:22

  • Untungnya gw punya sahabat2 dari Front Blogger Gurem, jadi kita memang masuk dalam kategori gurem,hihihi..

    Jadi kita enjoy dengan keguremen kita Is..
    *menulis sak penak udhele dhewek* kekekekekek..

    Btw, gimana blognya, udah jadikah??

    20 January, 2010 22:34

  • Saya tidak habis mengerti kenapa banyak nada sintementil dalam komentar untuk artikel ini?

    Padahal, kalau saya lihat isi artikel ini sangat membangun. Mungkin memang tidak setiap orang mampu menerima kritikan, bahkan utnuk sebuah kritik yang membangun. terutama dari orang yg baru dikenal atau bahkan belum dikenal.

    Tetap semangat, Mas Is...

    20 January, 2010 23:56

  • Saya tidak mengerti apa yang terjadi yang penting tetap semangat...

    21 January, 2010 10:16

  • Hehehe, membaca kalimat "gaya bahasa melangit" saya justru teringat pada tulisan-tulisan di media massa. Jujur saja, sebagian kata-kata "intelek" yang dipakai di artikel-artikel seperti itu kadang membuat saya malah mengerutkan kening alias tidak mengerti. Jadinya, bingung deh dengan isi artikelnya. Itu kasus di media cetak yang saya rasa yidak jauh berbeda dengan beberapa blogger yang ingin dianggap terkesan "intelek".

    21 January, 2010 10:44

  • terima kasih atas pencerahannya...
    tapi seperti yang sudah dikatakan oleh kawan-kawan sebelumnya, blog itu adalah milik personal. citra seorang pemilik blog mungkin bisa digambarkan dengan posting yang ditulis..begitu pula dengan postingan yang ada, bisa menggambarkan isi hati si empunya blog...
    bukan begitu kawan?

    tapi saya rasa argumen-argumen seperti postingan ini sangat diperlukan dalam upaya pengayaaan khasanah perblogeran (wah, yg ini bahasanya melangit gak yah?..hehehehe...)

    salam...

    21 January, 2010 11:06

  • @ buat semuanya lagi yang sudah kasih komentar :

    Tiada ucapan lain selain terima kasih banyak. Semua komentar sangat memberi masukan atas tulisan saya di atas. Semoga ke depannya saya bisa lebih baik lagi dalam menulis ya. Mohon terus diberi masukan jika saya sudah mulai "melenceng" ^_^

    21 January, 2010 11:17

  • Mungkin inilah yang tidak banyak dipahami oleh bbrp blogger... bahwasanya "blog" itu awalnya merupakan "Diary" bagi si empunya yang dipublikasikan secara online... Nakh yg namanya "diary" ya pasti merupakan "hak penuh" si empunya untuk menulis apa yang dia suka. Tapi akan berbeda kalo saya memberikan komentar di blog/diary org lain... saya harus menghormati tuan rumah pastinya. Jadi menurut saya, terserah Kang Boed atau siapapun unt nulis apa, dgn gaya bahasa apa, dgn bahasa apa.. Begitu juga dgn mas Iskandar, mau kritik siapa, mau kasih masukkan ke siapa, dgn bahasa apa, dgn gaya bahasa apa... Lha wong nulisnya di blog "pribadi" bukan? Truz kalo ada yg "gak suka".. dgn isi blog yg dikunjungi... ya akan lbh elegan kl tdk "menyerang" yg punya blog... wong tinggal putusin aja unt gak dateng lagi, ya khan? Gitu aja kok repot... hehehe... Mungkin agak aneh kl mas Iskandar meng-kritik/memberi masukkan ke kang Boed di blog-nya kang Boed, ya gak? Yuk, Mari kita hormati "Diary (blog)" masing2, kl kita bisa saling menghormati blog masing2 pasti persahabatan kita semua makin erat.. ya gak?

    21 January, 2010 18:23

  • @ eriricaldo :
    Wah, kalo semuanya serba cuek dan saling mendiamkan, kan nggak sehat juga mas. Kenapa sih mengkritik selalu diidentikkan dengan "menyerang"? Tanya kenapa..kata iklan A MILD ^_^

    Mari kita budayakan kritik membangun demi kemajuan kita bersama.

    21 January, 2010 21:04

  • Maksudku... sah-2 aja kita melakukan kritik apa saja thd seseorang selama kita menulisnya di blog kita... Krn blog kita adl "diary" kita. Unt yg dikritik ataupun yg membaca... ya gak perlu "kecewa" dgn kritikan yg kita buat di blog kita. Nakh, mas Is khan mengkritik Kang Boed di blog Mas Is sendiri... itu bagus & bermaksud membangun, lain halnya kl mengkritik-nya di forum.. ya gak?

    21 January, 2010 22:40

  • saya koq malah bingung ya dengan tulisan ini...

    "Sang pemilik blog saya yakin sudah mencapai derajat batin (tingkatan spiritual) yang tinggi. Lihat/simak saja berbagai tulisan di blognya yang sarat dengan muatan pesan-pesan spiritual, ketuhanan, hakikat peribadatan, hakikat kemanusiaan, hakikat kehambaan, dan hakikat jadi diri manusia."

    dimana lihatnya / nyimaknya mas?

    22 January, 2010 00:05

  • sebagai seorang yg blm lama terjun didunia blogging ini, sy sangat senang jika ada yg sudi memberikan kritik dan saran, karena tanpa itu tidak akan ada perbaikan, jadi mensikapi kritik dan saran yang datang juga harus dengan kepala dingin, baik sipemberi dan sipenerima.

    Mungkin hanya kesalahan persepsi, tetapi kalau boleh sy sedikit menyarankan, untuk kedepan mungkin mas Is bisa memperhalus bahasa kritikannya jadi semua akan senang, yang dikritik dan juga pembaca yang lain. Mengenai caranya, saya yakin mas Is akan jauh lebih mengerti daripada saya yang tulisannya masih berantakan ....

    Semua khan juga demi perbaikan, jadi jangan jadikan hal ini sebagai awal perselisihan, tapi buat sebagai pembelajaran kita, karena saya juga mendapat hikmah dari hal ini ..

    22 January, 2010 00:47

  • kalo gaya bahasa seasalnya kayak diriku bagiamana bos? gaya bahasa belepotan bos

    22 January, 2010 07:23

  • mantab banget infonya, menarik sekali kang

    22 January, 2010 15:48

  • @ Eric :
    Oh, kalo gitu maksudnya saya setuju mas. Thx buat koreksinya.

    @ soewoeng :
    Gaya bahasa mas suwung emang blepotan, tapi unik dan seger mas ^_^

    @ hpnugroho :
    Makasih buat masukannya. Saya memang menjadikan ini sebagai pembelajaran untuk lebih baik lagi dalam menulis ke depannya. Maklum, karakter menulis saya cenderung ke arah yang lugas dan tegas. Saya kurang pandai berbasa-basi.

    Sebenarnya saya bisa saja tidak mengambil studi kasus, namun khawatirnya, efek manfaat yang diperoleh pembaca akan menjadi kurang maksimal atau akan memperlemah plus memperkabur hakikat kritikan saya. Makanya saya ambil contoh konkret sebagai bahan studi kasus. Sebenarnya tulisan di atas bukan cuma buat blog yang saya jadikan studi kasus, namun buat semua penulis.

    Tapi masukan Mas Nugroho saya setuju banget. Thx ya.

    22 January, 2010 16:05

  • memang sih..., dalam artikel, jangan sampai kita membingungkan pembaca. jadi gunakan bahasa yang ringan -ringan aja...

    23 January, 2010 15:34

  • kok backlinknya enda muncul ya.. dapat hadiah backlink lagi tuh

    25 January, 2010 06:01

  • :lol: :lol: :lol: :lol: :lol:

    RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank

    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    waaaaaaaah COPAS

    25 January, 2010 06:02

  • sip..sip..
    memang harus universal bahasanya..
    :p

    25 January, 2010 08:10

  • ini pasti blog sarjana linguistik ya, saya yakin ini pasti yg punya blogger senior yg hebat. jadi sungguh terhormat rasanya bisa berkenalan jika sudi.
    ups.. ada dr. dani iswara (blog tempat saya pertama kali belajar kerendahan hati, kesederhanaan hidup, kebermanfaatan pengetahuan bagi sesama), semoga keluarga & si kecil sehat terus ya bli... ^_^

    25 January, 2010 15:36

  • uniknya blogging tu adalah salah satunya dilihat dari gaya penyampaian oleh pemiliknya...tapi bagi saya sih yang penting isinya...

    25 January, 2010 16:54

  • tapi saya rasa, untuk sebagian blog pribadi wajar2 ae kalo make bahasa melangit. kan memang ia orang sastra dan dah biasa nulis gituan...

    25 January, 2010 20:20

  • ok juga postingan nya,,
    sangat menarik..

    hihih

    17 June, 2011 10:35

  • Post a Comment

    Silakan tulis komentar sesuai pendapat pribadi kamu

    Back to Top
     

    kafe28 Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template | Top